Dilema

Saya kagum dengan mereka yang menjadi pasukan utama penanganan pasien, terutama di Rumah Sakit. Terutama lagi, RS Pendidikan, RS Umum Pusat, RSUD, dan RS-RS besar lainnya.

Pasukan tersebut adalah para dokter spesialis junior, bapak dan ibu residen (yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis), dan tentu saja adik-adik koass yang bersemangat.

Tentunya kita pernah mendengar kalau jam kerja normal adalah 40 jam seminggu? Dengan liburan di akhir minggu tentu saja. Untuk memberikan sebuah kehidupan yang sejahtera dengan well-beingness di segala aspek; keluarga, sosial, kesehatan fisik, mental, dan spiritual.

Sebagai Koass (yg sedang menjalani program profesi utk jd dokter umum), saya pernah mengalami jam kerja 19 – 22 jam per hari. Hitung rata2 20 jam/hari, kali 6 hari, sama dengan 120 jam seminggu.
Jadwalnya:
1. Malam jaga bangsal atau UGD (jam 19.00 – 07.00)
2. Laporan jaga 07.00 – 08.00
3. Jaga poliklinik jam 08.00 – 14.00 (sering sampai 15.00)
4. Lanjut kuliah materi 2 jam di sore hari (15.00 – 17.00)

Jadi saya hanya punya waktu dr jam 17.00 – 19.00 dalam sehari. Untuk mandi dan nyuci, dan makan, dan tidur, dan lain-lain. Begitu setiap hari.

Alhamdulillah kami ternyata masih bisa hidup sampai sekarang, hehe. 😀 Ya, kami pada akhirnya memang survive. Sebagian besar merasa bahwa itu memang bagian tak terelakkan dari pendidikan dokter. Malah banyak juga yang bangga karenanya. Waktu itu, saya sendiri tak sempat lagi berpikir apakah saya harusnya bangga dengan tugas ini atau tidak. Yang ada capek, belum lagi banyak kesalahan dan kebingungan ketika melakukan tindakan (maklum masih belajar, tapi tetap disupervisi kok), dan kalau ada waktu luang langsung saja saya pakai buat tidur. hehe. (lha terus belajarnya kapan??)

Beberapa kali saya sempat memandang ke belakang, ke masa-masa itu, lalu melihat lagi ke depan (apa coba). Siklus itu sepertinya akan terus berputar. Entah kapan bisa berhenti. Karena rumah sakit masih butuh banyak dokter. Demand selalu ada untuk para dokter yang melanjutkan pendidikan (spesialis dan sebagainya). Hingga munkgin sebagian besar lulusan dokter umum malah merasa malu kalau tidak studi lanjut. Maka, demikianlah, selepas lulus dokter umum, kesibukan dan detak Rumah Sakit yang berpacu itu berulang kembali, menjadi residen, dengan kesibukan dan tanggung jawab yang lebih besar dari koass dahulu.

Lalu selesaikah kesibukan itu ketika akhirnya gelar spesialis sudah di tangan? Mestinya tidak. Karena mereka dibutuhkan di rumah sakit. Orang-orang ahli seperti mereka masih sedikit. maka, dimulailah lagi aktivitas dan tanggung jawab mereka yang baru. Berpacu dengan waktu di Rumah Sakit.

Apakah mereka punya keluarga? Anak, istri, suami? Tentu. Dan banyak juga di antara mereka yang kehidupan sosial dan keluarganya sukses. Bahkan ada yang jadi seleb seperti Tompi. 😀

Hm, untuk sementara, mari kita kesampingkan saja dulu laporan-laporan mengenai penurunan kualitas pelayanan medis akibat dokter yg kelelahan, atau penelitian ttg tingkat depresi dan kecemasan yang semakin meningkat pada mereka.

Kita beralih pada penelitian yang semakin banyak tentang perkembangan teknologi di dunia medis dan semakin terbukanya research frontier di segala bidang: pengobatan, diagnosis, patofisiologi, dll.

Akan berujung di manakah semua itu?

Masyarakat yang kian sehat hingga beban kerja dokter tak lagi membludak?

Ataukah semakin terungkapnya berbagai penyakit, yang menuntut terapi lebih mutakhir, dan berujung pada kebutuhan akan tenaga-tenaga baru untuk memepelajari hal tersebut, sehingga demand akan ahli-ahli tersebut semakin bertambah?

Lalu dimulailah lagi siklus tadi. detak kehidupan rumah sakit yang tiada henti, pejuang-pejuang kemanusiaan terjun ke dalamnya serta diikhlaskan oleh keluarganya, yang tidur sedikit dan mungkin tak sempat melihat matahari (mm, agak dramatis sih, hehe).

Disini saya memang tak bermaksud membicarakan ‘oknum’ yg kadang digosipkan orang sebagai ‘yg lalai dalam tugas’, atau yg katanya semata bertujuan duniawi dan mungkin belum menyadari seberapa besar tanggung jawabnya. Mungkin itu lain cerita. Walau pernah juga saya mendengar cerita tentang mereka.

Nah, skr kita kembali pada laporan dan penelitian ttg tingkat kelelahan, depresi, stres, dan kualitas pelayanan yg menurun. Saya berbaik sangka bahwa sebetulnya para dokter sudah berusaha sebaik mereka, tapi beban kerja itu memang berat.
Haruskah kita berteriak pada mereka dengan murka: “Kalau nggak mampu nggak usah jadi dokter dong!! Udah jelas beban kerjanya berat, kalo nggak bisa tanggung jawab ya nggak usah aja!!”?

Saya mmbayangkan, mungkin, bila semua dokter merespon teriakan semacam itu, maka tak akan ada lagi yg tersisa. Karena sejatinya, saya yakin mereka tahu tanggung jawab itu besar sekali untuk bahu-bahu mereka, dan mereka juga mgkin merasa tak akan sempurna menunaikannya.

Namun, apakah bila kita tak dapat melakukannya dengan sempurna lantas kita mundur saja? lalu siapa nanti yg ada disana? adakah orang yg merasa mampu dan sempurna hingga tetap berani dan dengan senang hati ada disana?

Ah. Saya tendensiuskah?

Tapi saya juga tak menutup mata akan banyaknya kelalaian dan laporan ketidakpuasan pasien. Seperti yg saya kemukakan, dengan beban kerja begitu rupa, memang nampaknya mustahil untuk sempurna.

Tapi sampai kapan kita pakai dalih itu?

Sampai dokter ahli menjadi banyak dan mereka bisa membagi bebannya bersama2 sehingga lebih ringan?

Akankah ada saat-saat itu?

Mengingat bahwa di luar negeri dgn sistem kesehatan yang memungkinkan dokter bisa hidup lebih sejahtera pun, laporan itu tak kalah banyak. bahkan tercatat di jurnal dan penelitian-penelitian.

Dan mengingat kemajuan dan keinginan manusia untuk terus berkembang, sperti yg telah saya kemukakan dgn byknya penelitian ttg penyakit baru, pengobatan baru, spesialisasi baru, dll… tidakkah justru siklus ini akan terus berulang? Tidakkah berarti kebutuhan tetap banyak, beban kerja tetap banyak, dan dalih tersebut akan tetap berlaku bagi ‘kelalaian’ tadi?

Ah, semoga ini hanya pesimisme saya saja.

Lalu mengingat satu hal yg belum banyak disinggung di awal: kehidupan pribadi dokter itu sendiri. bagaimana dengan keluarga, cinta mereka, kehidupan sosial dgn tetangganya, kehidupan spiritualnya, kebutuhannya akan ketenangan, walau keluarga mereka mugkin maklum,dan dokternya juga ikhlas.. tapi saya masih belum bisa membayangkan bahwa itulah hidup seimbang yg didambakan.

Ah, egoiskah saya, memikirkan kehidupan yang seimbang sementara masih banyak org2 yg lebih tak beruntung, yg kerjanya lebih berat namun sama sekali kepuasan dan imbalan yg didapat tak setimpal: pemulung sampah? penjual jagung bakar di pinggir pasar? buruh bangunan?

Lagi-lagi saya belum menemukan jawaban untuk semua itu.

Sempat terpikir di benak saya, mungkin jawabannya adalah kedokteran pencegahan?
Teringat seorang supervisor yang pernah menyampaikan, bahwa hendaknya yang ada di pikiran kita adalah paradigma sehat, bukan paradigma sakit.

Jadi, apakah selama ini kerja keras penelitian dan upaya penyingkapan penyakit, diagnosis, serta pengobatan adalah paradigma sakit?

Mungkinkah maksudnya sebaiknya kita kembali memfokuskan pada perbaikan cara hidup? Cara hidup seperti apa? Cara hidup sehat tentu saja. Sebagaimana penelitian2 terbaru banyak mengungkapkan, bahwa cara hidup “guyub” (penelitian di Roseto, Itali, kalau tidak salah), yang memperhatikan kehidupan sosial, kemudian hubungan dengan keluarga yang harmonis, cukup olahraga, cukup tidur, makan sehat, dan kembali ke alam, adalah titik tolak dari kehidupan yang sehat. Ohya, satu lagi yang tak kalah penting, penelitian sekarang cenderung memperlihatkan bahwa doa dan kehidupan spiritual, sangat esensial dalam kehidupan manusia, ditinjau dari aspek medis.

Tapi lagi, agak sulit bagi para dokter untuk bisa mempertahankan hal tersebut di tengah kesibukannya “berperang” melawan kesakitan. Walau mungkin manusia hebat seperti itu ada. Dan agak tak sesuai juga tentunya bila dokter menyarankan hidup sehat sementara dia sendiri sulit menghindar dari makanan berlemak, shift kerja berlebihan, stressor tinggi, dan waktu yang kurang dengan keluarga.

Ah, lagi-lagi saya juga belum bisa menyimpulkannya.
Saya cuma bisa berdoa, semoga apa yang kami lakukan tak sia-sia.
Semoga dijaga dari takabur, ujub, sifat tak bersyukur.
Semoga diberi kekuatan yang hanya bersumber dari-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s