PeDeKaTe

“Those who, have a mantle thrusted upon their shoulder, and find to their own surprise, that they wear it well.” 
-Albus Dumbledore-

Suatu hari, saya diminta pedekate..

Dan tiba-tiba aja jadi kepikiran kemana-mana..

Mungkin semata karena saya kuper aja..
makanya kurang begitu antusias menyambut permintaan itu..

Tapi..
Entah mengapa terasa mengganjal juga…

mungkin karena ini bukan pertama kalinya..

mungkin juga karena ada beberapa kejadian serupa
atau perintah-perintah senada..

Ah, mari kita terjemahkan begini saja…
bahwa pedekate adalah upaya tulus untuk menghormati dan menjalin hubungan baik dengan siapapun, tanpa ada maksud-maksud tertentu di baliknya..

Biarlah, kita buang konotasi negatif apapun sesungguhnya..

Ini saya tulis karena saya kerap terjebak pada pemikiran yg menggelisahkan tentang sebuah posisi dan tanggung jawab..

Misalnya, saat mendengar saran-saran seperti ini yg terasa lumrah..

“Wah, kalau sama beliau, sukanya begini.. harus pintar-pintar ngambil hati..”

Hm, iya sih.. nggak ada yang salah sepertinya.. tergantung apa yg sedang dijadikan tujuan..

sama halnya ketika jaman kuliah.. “Wah, kalau sama dosen ini, jawabnya gini aja dek.. kalau sama itu jangan jawab begitu.. pokoknya belajar buku ini..”

Atau lagi.. “kalau mau keterima di A, saat wawancara harus pakai baju warna ungu muda totol-totol ijo pupus.. kalo jawab, gestur juga diperhatikan.. dagu sebaiknya membentuk cosinus 45 derajat dengan leher.. ritme bicara sebaiknya dua kata per detik.. amplitudo dan frekuensi juga harus pas..”
(ini apa siiiiiiiihhh… mulai nglantur)

ah, saya aja emang yg membuat prejudice sndiri..

tak ada yg salah dengan semua tips pedekate tersebut..

Bila semua hal sdh dilakukan dgn optimal, mengapa tidak saran tersebut juga dijalankan..

bila memang sudah belajar dgn maksimal, lalu memilih menjawab sesuai yg diinginkan dosen ya nggak apa2 lah.. emangnya kita siapa, masa mau bragging with pompous manner.. yg penting tahu, bila ujian dgn pak dosen X, sebaiknya jawabanmu adalah A, karena pemahaman beliau thd hal itu adalah begini.. tapi sebetulnya ada pemahaman lain thd hal tsb, kamu bisa pelajari dan pertimbangkan mana yg lebih baik utk diterapkan.. gtu kali ya..

Atau..

Kalau mau diterima di A, harus siap kerja keras.. mereka menghargai kejujuran, ketekunan, kedisiplinan.. mereka menghargai potensi, tapi tanggung jawabmu berat.. tapi percayalah, kalau kerjamu bagus, berdedikasi, di mana pun kamu pasti bisa diberikan tempat yg baik..

Tapi lagi, bukan posisi itu kan ya yang jadi tujuan.. rasanya, itu bukan sesuatu yang seharusnya diminta, melainkan jatuh dengan sendirinya. Apalagi diperjuangkan dengan tips wawancara saya seperti di atas.. (mana ada juga yg mau..), sama sekali bukan, rasanya…

Mungkin karena itulah para sahabat di zaman Rasululloh Sholallohu ‘alaihi wassallam menganggap jabatan itu musibah.. mereka tidak berlomba-lomba mengincarnya, karena tahu konsekuensi di baliknya.. namun mereka “kejatuhan” juga tanggung jawab itu, bukan karena mereka menerapkan tips and trick wawancara atau cara jitu pedekate.. melainkan karena ketulusan dan kesungguhan hati dalam menjalani hidup mereka yang tercermin dalam akhlak mulia.
Ah, tak pantas rasanya berbicara ini..
Entahlah..
Cuma sedikit gundah saja…
berharap tidak terjebak pada definisi pedekate yg salah..

Ah, wallohu a’lam..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s