Dia

Pertama kulihat
Ia sedang berjuang keras menggapai udara
Kesana-kemari menjulurkan kepala
Tak henti-henti
Berputar dalam toples yang tak sampai dua kali besar tubuhnya..
Kakinya mengepak-ngepak seolah ingin memanjat
Hingga di atas permukaan air
Namun ia tenggelam lagi
Terus dan terus begitu..
Berulang-ulang
Seolah memaksa dan meronta..
Aku terganggu
Hati kerasku yang bagai kamar berantakan
Tak menyimpan ruang sekedar untuk rasa kasihan
Hanya merasa tak tenang
Lalu berusaha cepat-cepat mencari kambing hitam
Ah, bagaimana sih pemiliknya..
Mengapa memberi toples sekecil itu?
Dan mengapa tinggi airnya tak dikurangi?
Agar si kura-kura,
Bisa santai menjulurkan kepala,
Sambil duduk tenang di dasar toples?
Aku bersungut
Merengut
Berprasangka pada yang memelihara
Ruang dalam hatiku memang sedang tak nyaman
Banyak barang-barang berantakan
Tak beraturan
Hingga tak bisa juga, mengeluarkan rasa dan sikap yang menyejukkan..
Minggu berselang..
Aku kembali melihatnya
Cangkangnya berlumut
Teronggok di dasar
Air toples keruh
Keruh sekali
Dan aku tertunduk lesu
Aku tak tega
Tak ingin melihatnya
Tp mungkin memang sudah saatnya..
Semua perjuangannya menggapai-gapai udara tempo hari..
Ah..
Betapa kejam..
Aku menghela nafas
Kehilangan semangat
Dan seolah dunia memang muram dan menyebalkan
Semuanya
Ya, semuanya.
Memang percuma, pikirku sambil mengingat diriku sendiri..
Memang percuma, kataku sok tahu.. sambil mencibir usaha-usahaku..
Mengira bahwa sang kura, sebagaimana juga diriku sendiri, telah gagal dalam usaha2 kami..
Bulan berselang..
Lama.
Tak pernah lagi dia singgah dalam ingatan..
Ruang yang berantakan dalam jiwaku itu harus, wajib, dibersihkan, walau begitu gelap dan menyeramkan.
Mau sampai kapan dibiarkan?
Bismillah..
Kumantapkan kaki melangkah..
Kukuatkan hati..
Tiada daya dan upaya melainkan dari Engkau,
Ya Rabb Semesta alam..
Kumulai kembali hari-hari
Memasrahkan yang telah berlalu
Dan penuh harap meminta kebaikan
Di hari-hari yang akan datang
Hingga suatu hari
Sekilas terbetik untuk singgah di tempat makan
Tempat yang sama ketika aku melihat kura-kura tangguh itu
Sepi
Meja-meja telah rapi
Dan mataku tertumbuk pada toples itu
Tidak kosong
Airnya jernih
Kepala kura tangguh mengarah lurus ke wajahku
Matanya berkedip
Dia tenang
Dalam diam
Sesekali berputar perlahan
Menyesuaikan diri dengan ruang kecil itu
Dia tampak tak terganggu
Selang berapa menit
Kepalanya menjulur ke permukaan
Bertahan beberapa detik menghirup udara dengan nyaman
Lalu kembali turun dengan tenang
Berkala, dia melakukannya untuk memperoleh udara
Tapi tak lagi meronta
Tak lagi memaksa
Geraknya rapi dan teratur
dia telah menemukan cara
untuk menata kembali hidupnya..
Aku menyuap dengan senyum
Ada yang terasa lapang dalam dada
Ah, terkadang..
Apa yang terlihat di sekitar kita
Sebenarnya hanya cerminan apa yang ada dalam jiwa..
Mungkin..
Apapun itu,
Dia, kura-kura tangguh itu..
Seolah menunjukkan cara untuk tak menyerah..
Dan membuatku malu pernah tertunduk lesu seperti dulu..
Terimakasih, ya Rabb..
Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s