Renungan Alpukat

Ketika memotong alpukat itu saya sudah mulai terpesona, tampak begitu lembut, dengan warna yang sempurna. Fresh.

Saat itu belum terpikir apa-apa.
Lalu beberapa saat setelah suapan pertama.. 
Saya merenung sesaat.
Rasanya memang lembut, matang sempurna, fresh, seperti baru dipetik. Tanpa rasa pahit seperti alpukat mengkal. Begitu fresh dan lembut.
Tiba-tiba terlintas, kapan ya terakhir kali saya makan alpukat seperti ini di Indonesia?
Mungkin karena pengalaman saya selama ini hanya dengan alpukat di tukang jus dekat kost, atau tukang es campur, maka saya begitu tersihir dengan alpukat di sini.
Tapi tiba-tiba saja saya jadi kepikiran bagaimana cara petani-petani alpukat di sini menanamnya ya?
Karena alpukat mempesona ini juga tidak dari supermarket, cuma dari pasar dekat rumah, bukan alpukat elite yang mahal seperti di kota besar indonesia, ini alpukat yang terjangkau orang dari semua kalangan.
Apa gerangan yang beda?
Suhu, curah hujan, ketinggian, kelembaban?
Ah, mungkin memang bentang alamnya yang cocok untuk pertumbuhan alpukat..
Tapi, tiba-tiba saya juga jadi membayangkan mungkin para petani di sini dengan seriusnya mempelajari kondisi yang cocok untuk pertumbuhan alpukat, dan benar-benar menerapkannya. Terlepas dari apakah kondisi alam itu mendukung atau tidak.
Mungkin mereka membuatnya jadi sebuah protokol yang reprodusibel alias bisa diulang untuk kali berikutnya dengan hasil yang kurang lebih sama.
Sebagaimana orang-orang dari negara ini juga mempatenkan resep pembuatan jenis makanan tertentu, dengan takaran dan komposisi yang precise.
Bukankah memang itulah yang berbeda dengan kita, yang seringkali mengandalkan rasa dan perkiraan.
Tambah garam secukupnya, gula kira-kira sesuai selera.
Itu juga kebiasaan saya.
Yang baru saya sadari ternyata kebiasaan ini terbawa juga dalam “dunia ilmiah”, misalnya setelah menyalakan mesin PCR saya tinggalkan begitu saja sambil estimasi waktu dgn kasar, yah, gampang ntar ditengokin lagi.. begitu pikir saya.
Beda sekali dengan pembimbing saya: kalau pakai yang ini: 20 menit. katanya sambil menyetel alarm di hapenya.
Begitu juga dengan jurnal: pastikan bahwa apa yang kamu lakukan dapat diulangi oleh orang lain, tulis semua kondisi dengan jelas. begitu katanya.
Eh, kenapa jadi jauh sekali ya.. kembali ke alpukat, entah kenapa potongan buah itu seperti cerminan banyak hal dan sikap hidup bagi saya (hehe). Dipadukan dengan kerapian yang saya lihat di kota ini, kejelasan aturan dan keinginan untuk benar-benar menerapkannya, membuat saya kembali mempercayai kekuatan kedisiplinan. Walau tempaan sekian tahun kehidupan di Indonesia (jiah) telah membuat saya terlalu menghargai kelonggaran, kompromi, dan berbagai alasan-alasan lainnya.
Ya, entah kenapa belakangan ini pandangan saya terhadap banyak hal jadi begitu kompromistis, untuk banyak hal, prinsip yang saya terapkan adalah seperti: “nawar dikit boleh lah ya”.
Yah, memang selalu ada tempat untuk toleransi.. tapi sepertinya tetap harus ada kondisi/aturan yang dipenuhi, paling tidak, kalau mau kembali ke soal alpukat.. seorang petani mungkin harus tahu tanah dan iklim yang cocok untuk pertumbuhannya lalu berusaha menciptakan kondisi itu, mungkin…
Tidak seperti saya, yang masih suka seadanya dan sekenanya.. ibaratnya, asal lempar biji alpukat, tumbuh sukur nggak tumbuh yo ben..
Ah, jadi melantur nih..
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s