Ayam Panggang dan Harmoni

Saya jadi narsis dengan masakan dari negeri saya sendiri.
itu hal pertama yang saya pikirkan ketika menikmati ayam panggang di kedai Turki.
Ayamnya sendiri enak, harum, empuk merata. Tapi bumbu.. hmmmm… Indonesia tetap juara, :p
Setelah obrol sana-sini, ternyata komentar teman-teman yang sudah lama di sini juga serupa, bagi kami, masakan di sini terlalu “tawar”. (tapi bagus juga mungkin ya, bagi yang diet gula dan garam, 🙂 )
Untuk menambah rasa, akhirnya saya pun minta chilli sauce, alias sambal botolan.
Namun, setelah satu suapan, lagi-lagi saya tak tahan untuk berkomentar.. kok sambal ini rasanya solo pedas saja? Duet sedikit dengan rasa asin. Hiks.. mana manis-manisnya, asam-asam tomatnya, dan harum bawang2nyaa.. T.T (lebay ya.. hehe), lalu disusul dengan teriakan.. sambal A*C, aku padamuu.. (halah)
Setelah saya pikir-pikir, masakan Indonesia itu seperti “konser segala rasa” yang komposisinya harus seimbang, hehehe..
Sayur asam, rendang, sambal balado, gudeg…. hmmm… beragam jenis bumbu ada di sana, layaknya orkestra dari berbagai alat musik… rasa manis, asam, asin, pedas… berpadu seimbang… *jiaah :p
Adapun kebanyakan masakan di sini, kebanyakan bumbunya single dan simple.. cukup garam dan merica, misalnya. Atau cukup dicocol mayonaise, atau saus-saus lainnya yang creamy. Mungkin, yang diunggulkan dari masakan tersebut adalah rasa asli bahan makanannya. Rasa asli ikannya, sayur, atau buahnya.
Rasanya beda dengan masakan favorit dari negeri sendiri.. si rendang, sate, sayur asam, gudeg, ikan pindang, yang bumbu-bumbunya berlimpah dan membaur hingga mungkin saya tak kan tahu kalau gudeg itu dari nangka muda, kalau saya tak lahir dan besar di Indonesia. :p
Pikiran saya jadi melantur kemana-mana sambil berusaha menghabiskan ayam panggang (yang tawar) itu…
Mungkinkah, pikir saya, semua fakta tentang makanan ini sebtulnya karena Indonesia memang sangat beragam budayanya… hingga sikap pertengahan nan seimbang itulah yang harus diunggulkan, bahkan dalam hal masakan?
Tentu, kita masih bisa membedakan bahwa ini wangi jeruk nipis, ini kayu manis, dsb.. tapi semua membaur dalam satu harmoni. Bersatu padu. Bhineka tunggal ika.
Suatu hari saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang supervisor di sini. Dia berkata, sambil memasang wajah dan gestur serius, bahwa karakteristik manusia itu terkadang bisa dilihat dari letak geografis tempat dimana ia berasal.
Semakin dekat ke kutub, orang-orang semakin tertutup dan individualis, begitu ia bilang.
Semakin mendekati ekuator, orang-orang lebih ramah dan terbuka.
Walau tentu tak bisa digeneralisir sepenuhnya.
tapi mungkin ada benarnya juga.
Menurutnya, semua itu ada kaitannya dengan keragaman, mendekati ekuator, keragaman di suatu tempat menjadi lebih tinggi. Contoh nyata, tentu saja hutan amazon dan hutan Indo, yang keragaman hayatinya sangat tinggi.
Bukan berarti di tempat lain tak ada jenis binatang atau tumbuhan yang berbeda. Mereka juga memiliki ekosistem khas mereka, namun lebih homogen atau less diverse tentu saja.
Dan, katanya, di tempat dengan keragaman tinggi, sikap menjaga harmoni-lah memang yang akan membantu menjaga kelangsungan hidup kita.
Jadi, betapa bijak sebenarnya, mennjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan kita; Unity in Diversity.
Hmmmm.. lalu, lamunan terakhir saya (sebelum diusir abang-abang penjaga kedai Turki karena kelamaan :p) berujung pada sebuah pepatah… “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung..” Lho, kok nggak nyambung ya? hehe… Maksudnya, bagaimanapun hal-hal di atas membawa saya pada sebuah pikiran, bahwa lingkungan, keadaan, kondisi… atau apalah namanya… dari kondisi geografis, sosial-ekonomi, bahkan sampai ke tipe pohon, atau jenis laut, curah hujan, dan tingkat kelembaban *eh?* turut membentuk karakteristik kita… Saya merasa bahwa sebagai manusia kita tidak tumbuh sebagai sebuah sistem yang terpisah dan tanpa interaksi dengan sekitar kita… semua komponen saling mempengaruhi… dari kebiasaan makan sampai cara berpikir… karena itu, terkadang, mengadopsi sebuah budaya bulat-bulat, menerapkan sebuah cara/teknologi/sistem yang berhasil di tempat lain, tanpa adjustment atau tanpa mempertimbangkan jati diri kita, mungkin bukan sebuah hal yang bijak..
Ada yang asli, yang original, yang perlu digali, yang dari fondasi itulah kita berharap bisa bergerak maju, membawa jati diri kita. Tidak semata mengadopsi kemajuan dan menerapkan apa yang berhasil nun di tempat yang jauh berbeda karakteristiknya.
Ah, semoga saja ini bukan cuma cerita gombal yang terlintas selagi makan ayam…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s