Senja

Hujan dan malam. Dua buah jendela itu tak pernah kututup tirainya. Ada bintik-bintik air sisa hujan disana, keemasan membiaskan lampu jalanan. Satu jendela di belakang kursi panjang, bertirai abu-abu. Satu jendela tepat di atas tempat tidur, di atap; skylight namanya, kata seorang teman.

Bunyi hujan terdengar lagi. Berkeretak. Terasa akrab. Damai. Istimewakah malam ini?

Jam sembilan lewat seperempat ketika aku berjalan pulang hari ini. Langit belum gelap. Namun warna-warna mulai pudar dalam abu-abu senja yang mendung. Aku melintasi jalanan, Begitu saja. Lalu perlahan rasa itu mewujud. Tenang dan damai. Membuatku merekam suasana sebagaimana adanya. Dua orang pria berpakaian putih dari toko es krim, berbicara sambil mengamati jalanan. Dua orang pelanggan masuk, mungkin yang terakhir di penghujung hari. Satu orang wanita berjalan tergesa, syal putih melambai-melambai dari lehernya.

Jam berapa bisku tiba? Aku tersadar. Saatnya bergegas.

Sampai di halte, melihat jadwal, lalu senja mulai turun. Bangunan-bangunan dari batu bata coklat itu mulai menjadi siluet. Rumah, pikirku. Ada nuansa yang kukenal dari senja kali ini. Gerimis, senja, dan damai.

Bis tiba, ia berjalan melewati pertokoan. Di satu halte tempat ia berhenti aku memandang keluar, kafetaria dengan jendela dihiasi kerlap kerlip lampu. Terang. Satu lagu terdengar mengalun… “Let it be.. let it be..”

Satu halte lagi stasiun.

Lalu, seorang pria masuk ke dalam bis, membawa koper dan dua ransel. Orang Indonesia? Aku berpikir sesaat. Lebih mirip orang India sepertinya. Wajahnya lelah, namun waspada. Ia duduk di sebelahku. Tampak bingung. Kusapa atau tidak?

Ya, dia dari India, baru saja datang untuk PhD-nya, jurusan Fisika, Tanpa diminta ia berbicara, dia lelah dan mengantuk sekali katanya. Dia bertanya apakah aku tahu dimana dia harus turun. Satu halte setelahku, kataku, sambil bersiap turun. Semoga dia menemukan tempat tinggalnya dengan mudah.

Perlahan kususuri trotoar, guguran bunga yang mulai kecoklatan berserak di sepanjangnya. Sudah lama aku tak mencecap notasi-notasi waktu seperti ini. Perlahan-lahan. Tanpa diburu. Ah, tentu, aku punya pekerjaan yang menunggu. Tapi senja ini saja, ada notasi yang ingin kurekam, sebelum mengucapkan selamat malam.

Tak ada bintang di luar. Bintang senja di ufuk barat terhalang awan tebal. Biasanya ia disana, terang, anggun, dan sering membuatku tersenyum. Dia masih disana, tentu. Walau tak terlihat, ia juga bagian dari senja ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s