Sehari pasca tafakur dokter Indonesia

Hari ini, saya berkesempatan menerima beberapa pasien yang istimewa. Yang satu artis, yang satu lagi seorang intelektual yang bersemangat.

Yang artis bercerita tentang keluarganya dan kesedihan-kesedihannya. Ia orang yang lembut, mudah tersentuh. Ceritanya berkisar pada rasa iba-nya pada anggota keluarga yang lain, dan ketidakmampuannya untuk menolong mereka, gajinya ditahan produser beberapa bulan ini, katanya. Kepalanya pening karena berhari-hari kurang tidur akibat shooting sampai jam tiga pagi.

Ia terus-menerus berterima kasih karena saya bersedia mendengarkannya. Berkali-kali menyatakan betapa beruntungnya orang tua yang mempunyai anak sebagai dokter. Dalam hati, saya yang berterimakasih dipertemukan dengan beliau. Dulu, sempat terlontar perkataan dari saya bahwa yang enak itu profesi artis, kerjanya nggak beresiko, main-main terus, duitnya gede, nggak pernah terjerat malpraktik lagi. Ah, saya memang sembarangan waktu itu. Setiap pekerjaan punya resikonya sendiri-sendiri.

Yang kedua, seorang intelektual senior, berwawasan luas, satu anaknya kerja di Media Massa terkenal di Indonesia, satu pengacara, satu lagi menggeluti IT di Australia. Sepupunya Dirut Rumah Sakit Negeri di Jakarta, Om-nya ahli bedah terkemuka di Surabaya. Teman-teman dan keluarganya yang lain banyak yang berprofesi sebagai dokter.

Dan, sejak pertama bertemu saya dia bilang: “Saya sering skeptis pada dokter, karena, jujur saja, sedikit banyak saya bergaul dengan dokter, saya tahu sedikit-sedikit tentang ilmu kesehatan.”

Mungkin, kalau boleh saya teruskan, akan begini kelanjutan ucapannya: “Jadi, dokter jangan main-main terhadap saya.”

Alhamdulillah, pertemuan saya dengannya berujung dengan tukar-menukar kartu nama. Ia memberikan beberapa kartu nama kenalan dokternya. Walaupun, dalam beberapa pembicaraan berkali-kali ia menyela dan menceritakan pengalaman buruknya dengan dokter, yang hanya saya tanggapi senyum muram.

Pertemuan kedua dengannya adalah hari ini, sehari pasca pernyataan tafakur dokter Indonesia. Datang-datang, dengan langkah tegap dan kepercayaan dirinya, dia bertanya pendapat saya tentang kasus yang hangat diperbincangkan itu.

“Jadi, menurut dokter, itu malpraktek bukan?” katanya seolah melontarkan pertanyaan jebakan.

Saya hanya bisa bilang belum bisa menilai objektif, pengetahuan saya akan kasus itu terbatas pada apa yang saya temukan dari media. Sementara, ada fakta-fakta yang harus kita ketahui sebelum berbicara, dan saya tidak memilikinya. Yang saya lihat di sini bukanlah apakah rekan sejawat saya bersalah atau tidak. Sungguh, saya sama sekali tak pantas bicara itu, sedang ilmu saya amatlah dangkal. Yang saya lihat hanyalah potret layanan kesehatan Indonesia, dengan kekecewaan yang menggelayut di berbagai sudutnya. Pasien kecewa, dokter kecewa, namun untuk memperbaikinya, tak pantas bila dibebankan hanya pada dua pihak itu saja.

Maka, meluncurlah analisis dari intelektual senior tersebut.

“Benar! Masalahnya itu pada Sistem Kesehatan kita!” katanya berapi-api. Semula saya kira ia hendak menyerang perkataan saya, tapi ternyata ia hanya mengeluarkan uneg-unegnya sendiri.

“Dari sisi dokter, saya paham kenapa mereka protes! Karena kasus ini DIPIDANAKAN!” katanya sambil menekankan telunjuk pada meja, “Kata anak saya yang pengacara, di sini pentingnya para dokter melek hukum kesehatan! Karena sifat peradilannya beda!”

Saya mengangguk takzim, setelah terperangah beberapa detik.

“TAPI.. ada tapinya. Dokter juga harus introspeksi, ngaku ajalah, oknum itu ada! Saya mengenal secara pribadi orang-orang yang membayar ratusan juta untuk masuk fakultas kedokteran, saya tahu kehidupannya secara pribadi, dan sampai sekarang dibayar pun saya tak mau berobat pada dia.”

Lagi, saya hanya bisa mengangguk-angguk, sambil menelan ludah. Glekh.

“Keponakan saya, masuk fakultas kedokteran pake biaya amit-amit, saya tak mau menyebutkannya. Tapi saya tahu benar bagaimana kualitas otak dia, saya tak akan pernah mau konsultasi kalau dia sudah jadi dokter!”

Sampai di sini saya merasa harus berkata sesuatu.

“Mungkin, proses penggemblengan yang sangat panjang, ditambah kerja keras, kadang bisa mengubah yang tadinya biasa-biasa saja menjadi terampil dan kompeten. Saya mengenal banyak orang yang tekun dan bersungguh-sungguh… akhirnya malah jadi lebih ahli dibanding yang cerdas tapi malas,” sangkal saya.

Benar itu. Coba, semua mahasiswa FK pasti pernah belajar anatomi, yang lulus duluan mungkin sekarang sudah lupa pelajarannya, tapi yang sampai remidi berkali-kali, kalau niatnya baik, kalau sungguh-sungguh, bukan tak mungkin sekarang ia sedang melanjutkan pendidikan sebagai spesialis bedah.

“Benar. Itu ada benarnya,” sahut beliau. “tapi ada batasan, otak mana yang mampu latih dan mampu didik, dengan yang tak bisa diajari. Kalau yang masuknya maksa, saya yakin lulusnya juga maksa. Tidak semua, tentu saja,” timpalnya cepat-cepat, melihat saya siap menyangkal lagi. “Mungkin Cuma beberapa persen, tapi akuilah, orang seperti itu ada. Saya yakin proporsinya sedikit, karena saya juga banyak bertemu dokter yang ahli.”

Sampai di sini saya setuju.

“TAPI,” telunjuknya terangkat lagi, “ada tapinya, yang sedikit itu terlalu banyak diekspos media! Bikin kita berpikir bahwa semua dokter seperti itu! Masyarakat dipanas-panasi! Anak saya itu kerja di media, dia tahu betul unsur politisnya!”

Wallohu a’lam, saya tak tahu kalau sudah menyangkut ranah politik.

“Nah, masalahnya lagi. Yang memperumit keadaan adalah kondisi masyarakat kita sendiri! Pemahaman pasien akan peran dokter itu perlu direvisi!”

Teori apa lagi ini? Saya mulai menaruh pulpen dan meminggirkan kartu catatan medik, siap mendengarkan analisis beliau lebih lanjut.

“Bayangkan, Saya ini HNP lumbal, saya merasakan empat tahun bergelut dengan nyeri yang tak terkira, saya perlu morphin! Saya bahkan sudah menerima kalau seumur hidup saya harus berkursi roda… Ketika pada akhirnya saya operasi, kemudian bisa berjalan lagi, saya bersyukur…sangat bersyukur… Saya tak bisa berhenti bersyukur sampai saat ini…”

Kotak tissue di ujung meja saya geser ke hadapan beliau.

“Tapi, teman-teman saya terus menerus manas-manasi, “kok kamu sudah operasi tetep aja masih ngerasa nyeri? Percuma… mahal-mahal kok penyakitnya ndak ilang…””

Beliau ber-istigfar.

“Di sinilah saya merasa perlu meluruskan,” katanya. “Saya memang membayar, dan saya ingin diberikan yang terbaik, saya ingin layanan yang saya terima sesuai dengan biaya yang saya keluarkan. Tapi, bagaimana cara saya mengukur kesesuaian itu? Sedang saya tahu, ada banyak staf yang digaji, ada banyak obat yang dibeli, banyak alat yang dipakai….” dia menghela nafas.

“Hanya karena saya diperlakukan tidak ramah, misalnya, atau hanya karena ada nyeri yang masih tersisa, apakah lantas saya harus berpikir bahwa layanan yang saya terima tidak sesuai dengan biaya yang saya keluarkan? Bukan tak mungkin sebetulnya saya sudah mendapat lebih banyak dari yang berhak saya dapatkan. Apa yang sudah saya terima harus disyukuri… dokter tak pernah menjanjikan saya bebas dari nyeri, dokter hanya berikhtiar…”

Kali ini saya betulan takjub. Inikah sang intelektual senior yang selalu menampakkan permusuhan di awal-awal pertemuan kami?

“Sebetulnya, saya percaya pada dokter,” katanya seolah mengerti pikiran saya. “Saya hanya tak suka bila mereka menganggap enteng tanggung jawab mereka, saya hanya tak suka bila mereka bermain-main selama masa pendidikannya, saya hanya tak suka bila mereka tak mau mendengar keluhan pasien. Jujur, sebetulnya satu senyum dan sapaan ramah saja itu terasa sejuuuuk sekali bagi pasien yang sedang kesakitan…” pungkasnya sambil mengambil sehelai tissue lagi.

“Suami saya HNP juga,” ternyata dia masih melanjutkan. “HNP cervical. Dioperasi. Dan sekarang tak ada keluhan apa-apa. Hanya kadang pegal-pegal saja. Tapi, dia sering sekali mengumpat: Bah! Professor macam itu pun sama saja! Gak bisa ngilangin penyakit ini! Masih sering sakit aja!”

Lalu?

“Saya kemudian bilang: Pah, kamu itu beruntung! Gak lumpuh badanmu sekaki sama tangannya! Kamu beruntung masih bisa ereksi! Istigfar!”

Saya tersenyum. Dan akhirnya mengerti. Begitulah ternyata harapan pada kami yang diletakkan terlalu tinggi. Ohya, saya lupa bilang. Intelektual senior ini seorang perempuan, umurnya 60-an, perokok berat, penderita hipertensi, paru-parunya buram dan batuk-batuknya mengganggu sekali. Tapi ia sadar, ia menuntut terlalu tinggi jika minta disembuhkan sementara ia tak bisa menghentikan kebiasaannya.

Ya, pasien kadang menaruh harapan terlalu tinggi pada kami. Ingin hati ini bisa memenuhi. Namun, memang sampai di situlah kemampuan kami. Mencoba menghindari kerusakan yang besar, mencoba meringankan kesakitan, dengan segala ketidaksempurnaan.

“Saya sadar saya sudah tua, tak mungkin jadi segar bugar bisa loncat-loncat seperti anak muda, manalah mungkin saya menyalahkan dokter kalau saya masih merasa nyeri di punggung? Bisa jalan aja saya sudah untung…” katanya memungkas cerita. Dan ia tak minta obat apa-apa. Cuma mau ditensi, katanya, obatnya masih ada.

Saya masih terpukau ketika Ibu yang mengagumkan itu keluar ruangan. Saya lupa, ia masih kurang melanjutkan analisisnya. Bagaimana dengan peran pemerintah, Bu? Bagaimana dengan APBN kita yang Cuma 1% atau 2,7% itu untuk anggaran kesehatan? Bagaimana dengan peran para pemegang kebijakan? Adakah keterlibatannya dalam kasus yang mengecewakan ini? Ah.. beliau terlanjur pergi.

*) Kisah ini sama sekali bukan fiktif. Kalimat-kalimat yang terlontar pun sebagian besar seperti aslinya, sejauh yang saya ingat. Beliau menggunakan istilah HNP lumbal, cervical, dan memang hafal berbagai istilah medis. Namun, satu hal yang saya samarkan. Intelektual senior ini sebetulnya adalah seorang Ibu Rumah Tangga lulusan SMA, pengusaha katering. Namun, wawasannya luas dan banyak mutiara yang terlontar dari perkataannya. Satu hal penting lagi yang beliau pesankan adalah:

“Wanita itu perannya sangat penting dalam dunia ini. Percayalah. Bukan hanya dalam rumah tangga, tapi di segala bidang. Pesan saya, untuk memperbaiki keadaan ini, mulailah dari rumah. Didik anak-anak kita.”

Iklan

3 comments

  1. siska apa kabar, bb udh ga aktif ya. dines dimana skrg ? kalo berkenan sms no mu ke sini ya 081286479401 :)). tulisanmu semakin bagus. ayo bikin buku tentang dokter :p

    Suka

  2. Dear Siska,

    Looking for you I came across this blog… nice things you write here 🙂
    If you could please contact me or check your yahoo e-mail for Molecular Vision e-mail, I would be eternally grateful 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s