Martabak Manis Tanpa Embel-embel Filosofis

Percayalah, ini sama sekali bukan kisah tentang penjual martabak yang budiman dan anaknya yang terancam putus sekolah. Bukan juga tentang Mbak Cantik penjual martabak yang menjadi artis, atau martabak yang membuat dua insan jatuh cinta. Martabak ini hanyalah martabak biasa dengan segala kerendahan hatinya, yang menolak untuk dibuang dari ceruk-ceruk ingatan. Sesederhana itu. #halah

Yang menjadikannya sedikit istimewa hanyalah fakta bahwa ia martabak pertama yang saya buat. Yeay! πŸ˜€ Dan, ia beruntung, karena saya membuatnya sepulang mengikuti sebuah pelatihan menulis.

Sebagaimana semua pelatihan maupun event yang memberikan booster pada motivasi kita, ada sebuah tekad untuk berbuat yang diucapkan diam-diam di akhir acara. Tekad yang dibawa pulang, untuk kemudian dilaksanakan. Nah, mumpung tekad itu masih hangat, saya memutuskan menulis sekarang. Kenapa tentang martabak? Karena hal itulah yang pertama kali terlintas di benak, setelah martabaknya bersemayam di perut, tentu saja. >.<

Ah, tapi, sebelum pembaca bertanya-tanya (kayak ada yang baca aja :p), sebaiknya saya bilang bahwa saya cuma ingin menulis resep martabak. Sudah lama sebetulnya, saya ingin mengumpulkan resep-resep yang saya buat. Banyak di antaranya yang tercecer dan dilupakan, apa lagi saya baru satu-dua kali mempraktikkannya. Jadi, begitulah, kini saya akan memulainya dari resep martabak.

Nanti, di kemudian hari, setelah resep ini bergabung bersama resep soto, apple pie, ayam rica-rica, kue talam, es krim ubi ungu, dan lainnya, mungkin saya akan membuatkannya ruang tersendiri. Tapi, sementara ini, tak apa biar dia bergabung di sini, bersama tulisan-tulisan gado-gado saya lainnya.

Baiklah, ini dia resepnya.. πŸ™‚

Martabak Manis Keju

Bahan:

  1. Santan cair 400 ml
  2. Gula pasir 2 sdm
  3. Ragi instan 1 sdm
  4. Tepung terigu 200 g
  5. Telur 3 butir, kocok lepas
  6. Keju Cheddar sesuai selera
  7. Mentega secukupnya
  8. Susu kental manis 1 sachet atau sesuai selera

Cara membuat:

  1. Panaskan santan cair dan gula pasir dengan api sedang, aduk hingga gula larut. Setelah larut, angkat dan biarkan suhu santan turun hingga suam-suam kuku. Masukkan ragi instan, pastikan ragi terlarut dengan baik (tak ada gumpalan).
  2. Umumnya, perlu waktu agak lama agar ragi bekerja. Untuk mempercepat, jemur adonan pada sinar matahari sekitar 15 menit sampai terlihat buih menutupi seluruh permukaan adonan.
  3. Masukan telur dan tepung terigu, aduk rata. Bila terlihat gumpalan, saring dengan saringan kawat.
  4. Panaskan wajan teflon atau loyang martabak yang telah diolesi mentega. Untuk mengecek apakah wajan telah panas, teteskan sedikit adonan.
  5. Tuang adonan ke dalam loyang, biarkan pinggiran loyang tertutup adonan tipis-tipis. Kecilkan api dan biarkan sampai matang.
  6. Beri topping sesuai selera, lipat menjadi setengah lingkaran, dan potong-potong.

Begitulah, saya baru tahu kalau membuat martabak ternyata tak serumit yang dibayangkan. πŸ˜€ Kuncinya ada pada ragi yang bekerja dengan baik, serta nyala api yang pas. Kalau sudah bisa bikin sendiri sepertinya lain kali topping-nya bisa dibuat bervariasi. Misalnya, durian, strawberry, blueberry, mayonnaise, sosis atau bahkan ikan asin. #eh >.<

Oke, sekian cerita tentang martabak hari ini. Semoga resep-resep tulisan lainnya menyusul setelah ini. πŸ™‚

~SNP

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s