Dilarang Mencintai Azalea

lonely azalea

Sebagian dari kita memang ditakdirkan hidup hina. Dan sedikit saja yang mengerti bahwa kehinaan adalah penyeimbang kehidupan. Kebanyakan merasa terlampau mulia dan bercita-cita memberantas semua yang buruk hingga ke akar-akarnya. Sampai dunia ini menjadi bersih, rapi, licin, mirip tiruan bola dunia dari plastik murahan. Ay Dios mio! Mereka kadang lupa, bumi ini bisa bertahan justru karena hal-hal menjijikkan. Bayangkan saja, apalah jadinya bila cacing-cacing dan belatung juga kuman tak pernah ada? Apa jadinya ribuan, eh, jutaan, atau ratusan juta bangkai jika tak pernah membusuk sejak bumi terbentuk? Ay, betapa repot. Dan ngeri.

Ya, ya, dunia memang perlu keindahan. keindahan memang layak jadi cita-cita. Tapi kita harus ingat bahwa yang indah-indah itu sering kali lahir dari hal menjijikkan! Kalian tak percaya? Gampang, tengok saja si tiram mutiara. Lihatlah lendir mantelnya yang mirip ingus bayi. Juga organ dalamnya yang lembek kehitaman. Itu semua yang melahirkan mutiara! Atau, ah, lihat saja di pojok sana, di semak rhododendron dekat pohon ficus, si ulat yang kemarin menggeliat-geliut itu, dia sedang bergelung jadi kepompong yang kasar dan gemuk. Kalian tahu sendirilah nanti dia jadi apa.

Ah, maafkan semua keluhan ini. Aku hanya tak mengerti mengapa kita harus membenci kehinaan. Bukankah kehinaan itu alamiah? Sealami semua makhluk membuang kotoran setiap pagi? Mengapa hal-hal seperti itu secara naluriah dibenci? Tapi, sudahlah, pertanyaan filosofis seperti itu bukan bagianku.

Aku bukan termasuk mereka yang diperbolehkan berpikir dan melamun-lamun sepanjang hari. Ada tempat tinggal baru yang harus dibangun di pojok dapur, ada makanan yang harus diangkut sebelum terang, ada lagi acara sosialisasi yang harus kuhadiri. Semua itu penting untuk bangsa kami. Kalau aku lengah, Padre akan datang dengan kumisnya yang panjang-panjang. Menggeram dan membentak.

“Kau ini Cucaracha macam apa, hah?! Kita ini ras pekerja keras! Kau tahu, moyangmu menyeberangi lautan berbulan-bulan untuk sampai ke benua ini! Ia bersembunyi dalam karung rempah hingga diangkut ke darat! Ia berjuang agar tetap hidup di negeri yang musimnya labil layaknya remaja tanggung, beku dan terik berganti-ganti! Kau! Hormatilah perjuangan itu dengan hidup sebagaimana takdirmu!”

Begitulah Padre, selalu tentang garis takdir dan nenek moyang. Kami ini memang ras oriental pekerja keras, bertubuh gempal dengan kulit gelap mengilat, menjunjung tradisi dan enggan sekali melanggar aturan. Beda dengan ras lain yang tubuhnya panjang dengan kulit terang, mereka berbuat tak kenal aturan. Bila sedang makan mulutnya berkecap-kecap, berisik, dan makannya banyak sekali. Mereka pemalas, tak acuh, dan lebih sering menyendiri dibanding jenis kami yang komunal.

Anehnya, di dataran ini, setidaknya di daerahku, ras mereka cuma sedikit! Padre selalu bilang itu karena mereka tak tahu tabu. Mereka adalah ras yang menghalalkan segala. Cepat atau lambat, mereka akan menuai akibat dari sikap yang abai seperti itu; punah!  Padre lebih suka aku berpasangan dengan ras kami yang jelas bibit, bobot, dan bebetnya.

Itulah masalahnya, aku memang tak tertarik dengan ras lain, namun lebih parah lagi, aku tertarik pada setangkai Azalea. Setangkai saja. Mencuat dari kerumunan semak rhododendron. Percayalah, aku belum pernah menemukan kecantikan seperti itu. Ia menyapaku pelan dan lembut jika aku melintas menuju tong sampah besar di halaman belakang. Ia begitu…bersahaja. Ya, warnanya cuma seulas, seolah tak ingin menonjolkan diri. Agak pucat memang, mirip kulit gadis penghuni rumah ini, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya sempurna. Dia benar-benar…jelita.

Ah, adakah yang salah dengan mencintai Azalea?

“Salah, tentu saja! Bagaimana caranya kau meneruskan keturunan kita kalau kau tak tertarik pada Cucaracha? Lagi pula, kalian berdua berbeda! Kita ini…ditakdirkan hidup hina!”

Langkahku seketika beku mendengar kata-kata Padre. Sungutku bergerak-gerak pelan, ingin menjawab namun kata-kata bersekongkol lari dari lidah—atau yang mirip lidah di bawah sungutku. Aku urung melangkah keluar tong sampah.

“Dengar, Nak. Ditakdirkan hina tak berarti kita tak berguna. Berkubang kotoran itu cuma sebuah peran. Peranmu sama besarnya dengan pelaut ulung yang membawa ras kita melintas benua. Asalkan, kau tak menyimpang dari garis takdirmu! Lakukan semua sesuai ketetapan,” pungkasnya tegas.

Kalau sudah begini, tak ada pilihan lagi. Aku harus menunggu siang tiba. Menunggu Padre dan segenap keluarga besar lelap dan istirahat di kolong mesin cuci. Karena, bagaimana pun, aku sudah berjanji. Padanya. Pada Azalea.

Ah, Azalea, betapa aku mengerti senandungnya yang sunyi. Ia bangun terlalu pagi, musim semi belum lagi tiba dan kelopaknya sudah membuka. Saudara-saudaranya masih berupa kuncup yang meringkuk di ketiak daun. Sedang ia terjaga, sendiri, memamerkan kelopak berpulas sangria. Tanpa ada yang mengagumi. Betapa sia-sia.

Tapi, ia tak pernah menyesalinya. Dengar saja apa katanya.

“Tak apa, yang lain memang masih bersolek di dalam sana, melukis kelopak dengan warna terbaik yang mereka punya. Tapi aku bahagia melihat matahari paling pertama,” ucapnya sambil tersipu. Kelopak pucatnya jadi merona.

Ah, tapi aku tahu dia menyimpan cemas. Siapa yang akan menyerbukinya, sedang si ulat masih bertapa, dan serangga lain masih terlelap? Dan ia, ia hanya mekar semusim saja! Tidak, tidak. Cuma hitungan minggu, bahkan. Setelah itu ia akan layu, coklat, keriput bagai kol busuk sisa salad.

Aku mengendap melintasi celah pintu, lalu berlari cepat ke arah semak. Ia tengah menundukkan kelopaknya. Mungkinkah ia mulai layu?

“Tak seharusnya kau kesini, Cuca,” ujarnya pelan. “Kau tahu, terlalu sering melintas halaman membuat manusia mudah menggilasmu dengan sekop itu.” Kelopaknya berayun ke ujung taman, tempat sekop itu bersandar.

Aku tertawa pahit, teringat ucapan Padre. Sehina itukah aku, hingga menikmati keindahannya pun tak layak? Melintas taman pun aku diburu. Hey, tapi…

“Aku memang hina, tapi bukan berarti tak berguna,” ujarku tandas. Begitu kan, kata Padre? “Izinkan aku melakukan tugas kupu-kupu dan lebah yang masih terlelap, sebelum kelopakmu mengatup dan jatuh.”

Kelopak pucat itu merona lagi, dan tanpa pikir panjang aku melompati dahan-dahan, merayapi dedaunan, hingga menyentuh kelopaknya yang bergelombang indah. Ah, surgakah ini? Betapa damai, betapa indah, betapa lembut! Kubiarkan tubuhku tergelincir sepanjang bibir kelopak, berusaha menggapai benang sari yang menjulur dengan tanganku.

Saat itulah satu pekik nyaring terdengar…

“Aaaaahhh!!!!” Ia si gadis–manusia! “Cucarachaaaa!”

Secepat kilat sebuah bayangan lain mendekat, sementara aku berdebar memanjat tebing kelopak.

Donde esta?!!” bentak suara lain yang lebih berat.

Dan, tak sampai sedetik, benda itu melayang. Bukkk!! Daun-daun terhambur, tubuhku terpelanting, membentur tanah dengan sayap tertindih. Aku terbalik dengan kaki menendang-nendang udara. Menggelepar. Sesuatu menyeretku ke tempat gelap.

Padre menatapku dengan sungut pucat.

“Kau baik-baik saja, Nak? Jangan keluar dari sini hingga semua aman,” bisiknya sambil mengintai dari sela daun kering; kami di bawah semak rhododendron.

Kupicingkan mata turut melihat ke luar sana, dan sungutku tiba-tiba terasa kaku. Kelopak-kelopak koyak terserak, sebagian terinjak. Menempel di sepatu boot dua manusia yang menjauh menuju pintu.

Sayap Padre menyentuh punggungku, kata-katanya terngiang lagi. Ia yang tak tahu tabu, akan menuai akibat dari abai; aku yang abai, Azalea yang menuai.

***

*Mengenang Periplaneta americana dan Blatta orientalis, dua kecoak yang kukenal saat SMA. 🙂

Keterangan:

  1. Ay Dios mio: Oh Tuhanku!
  2. Padre: Ayah
  3. Sangria: minuman berbahan red wine khas Spanyol
  4. Donde esta?: Mana dia?
  5. Cucaracha: Kecoak
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s