Ayam Panggang dan Harmoni

Duduk di kedai sudut jalan, menatap pohon-pohon maple dan birkin yang daunnya mulai kemerahan, membuat saya terngiang-ngiang kata Tariq Ramadan, exile will take you home, katanya. Perjalanan mengasingkan diri kadang malah membawa kita ke rumah, ke tempat asal kita. Atau paling tidak, membuat kita menyadari, betapa rumah adalah tempat terbaik kita.

Itulah yang saya rasakan ketika mengunyah daging ayam yang anyep di sebuah kedai. Ayam panggang ini meruap harum, warnanya coklat keemasan, dan ketika dipotong, tampak dagingnya yang putih mengepul-ngepul hangat, cocok menangkal angin musim gugur yang mulai dingin. Tapi, ketika sampai di lidah, ah… betapa jauh. Jauh panggang dari api, jauh ayam dari rendang.

Ternyata kawan lain pun berpendapat sama, betapa berbeda kekayaan rasa di negeri utara ini dengan di Indonesia. Bagi kami, masakan di sini tawar sekali.

Setelah beberapa suapan, saya tak tahan. Mungkin ini saat yang baik untuk meminta saus botolan?

Maka, saya pun meminta sambal di botol merah, mencelupkan sekerat daging ayam, dan…lho, mengapa sambal di sini rasanya cuma solo pedas saja? Duet dengan sedikit rasa asin. Di mana asam-asam tomatnya, manis-manis gula jawanya, juga harum-harum bawangnya? Menyesal saya telah menghabiskan persediaan sambal A** berbulan-bulan lalu.

Mau tak mau saya jadi terkenang pada masakan Indonesia yang ibarat “konser segala rasa”, dengan beragam rempah yang terkadang rumit takarannya. Tapi, begitu kita tahu cara memperlakukannya, begitu kita bisa menempatkannya dengan seimbang, maka rasa yang tercipta benar-benar surga di lidah kita.

Gudeg, rendang, sayur asam, sambal balado, bermacam bumbu dan rempah dalam kuali berisi kuah coklat nyang meletup-letup hangat…hmmmm… terasa bagai orkestra dari beragam alat musik yang mencipta simfoni sempurna. Manis, asam, asin, pedas, serai, ketumbar, jinten, kapulaga. Ah…. Tak heran dulu mereka menjajah kita karena rempah.

Adapun kebanyakan makanan di negeri dingin ini, bumbunya sederhana sekali. Kadang cuma diberi garam dan merica. Kadang cuma potongan sayur diperasi jeruk nipis. Kadang cuma ikan yang diasapi, lalu dimakan begitu saja. Mungkin, yang ingin mereka tonjolkan adalah rasa asli masing-masing bahan, secara individu. Rasa ikannya, rasa alpukatnya, rasa jeruknya, masing-masing seolah berdiri sendiri. Masih distinct. Bisa dibedakan dengan jelas.

Betapa berbeda dengan gudeg atau rendang misalnya. Entah apa yang terjadi bila santan dan jinten bertengkar ingin saling mengalahkan. Entah apa yang terjadi bila salah satu ingin menonjolkan diri dan menyingkirkan yang lain. Manalah enak gudeg rasa santan saja? Manalah enak rendang rasa cabai saja? Walau sebagian orang lebih doyan pedas, tetap tak sempurna rasanya tanpa kehadiran rempah lainnya.

Hebatnya, yang membuat mereka enak justru karena keterpaduannya, karena mereka membaur dan tidak berebut menonjolkan diri. Memang kita masih bisa membedakan wangi daun jeruk, batang serai, atau bubuk pala, tapi betapa padu jadinya ketika masing-masing tertakar seimbang, membaur dalam satu harmoni, bersatu padu, bhineka tunggal ika.

Ah, mungkinkah, nenek moyang kita dahulu jauh lebih mengerti tentang keberagaman, jauh lebih sadar pentingnya keseimbangan, lalu mereka terapkan dalam masakan?

Suatu hari saya juga sempat berbincang dengan pembimbing penelitian saya di sini, seorang PhD genetika asal Polandia. Ia berkata, sambil mengutip jurnal dengan gestur serius, bahwa karakteristik manusia itu sebetulnya bisa dilihat dari posisi geografisnya. Makin dekat ke kutub, katanya, orang-orang semakin tertutup dan individualis. Sementara, makin dekat ke ekuator, mereka cenderung lebih ramah dan terbuka.

Tentu saja itu tak bisa digeneralisir sepenuhnya, tapi bisa jadi ada benarnya. Menurut dia, kecenderungan itu  ada kaitannya dengan keragaman; semakin mendekati khatulistiwa, keragaman itu menjadi semakin tinggi. Contoh nyata, tentu saja pada biodiversitas kita. Hutan hujan Indonesia dan Amazon, misalnya, yang sama-sama terletak di daerah tropis, menempati posisi tertinggi dalam keragaman hayati di dunia. Lalu, masih mengutip sumber yang sama, ia berkata bahwa dalam keragaman yang tinggi semacam itu, memang sikap menjaga harmoni-lah yang akan membantu kelangsungan hidup kita.

Maka, betapa bijak sebenarnya, menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan kita. Unity in diversity. Kesatuan dalam keragaman.

Kaya warna dan kehidupan - sumber: http://projectingindonesia.com/country/indonesia-and-its-extraordinary-biodiversity/
Kaya warna, kaya hidup – projectingindonesia.com 

Lalu, lamunan terakhir saya (sebelum diusir dari kedai karena duduk-duduk terlalu lama :p) berujung pada sebuah pepatah: Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Lho… kok jadi ke situ?

Iya, karena, saya pikir, karakteristik kita itu pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh bentang alam, cuaca, letak geografis, flora, fauna, bahkan mungkin kelembaban dan curah hujan. Karakteristik kita, watak kita, yang tertempa bertahun-tahun dan tercermin dalam budaya sampai masakan, sangat mungkin dipengaruhi oleh bentang bumi tempat kita berdiri.

Karena itu, terkadang, mengadopsi sebuah budaya bulat-bulat, menerapkan sebuah cara/teknologi/sistem yang berhasil di tempat lain, tanpa penyesuaian atau tanpa mempertimbangkan jati diri kita, mungkin bukan sebuah hal yang bijak. Ada yang asli yang perlu digali, yang dari fondasi itulah kita berharap bisa bergerak maju, membawa jati diri kita. Tidak semata mengadopsi kemajuan dan menerapkan apa yang berhasil nun di tempat yang jauh berbeda karakteristiknya.

Pernah suatu hari, saat mengunjungi professor berkebangsaan Belanda yang baru pulang dari Indonesia, ia berkata tegas pada saya, “Negaramu kaya, sayang ada yang mulai luntur di sana; tradisi, budaya. Jagalah. Itu kekuatan kalian. Lihat akar kalian,” katanya bersungguh-sungguh. Dengan fasih ia bercerita tentang lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, yang perlahan punah karena generasi muda tak lagi mau memakainya. Tentang ratusan, bahkan ribuan suku bangsa, yang masing-masing punya ciri khas budaya. Juga tentang belasan ribu pulau yang bentang alamnya sungguh memikat.

Ah, malu rasanya ketika mereka lebih mengetahui dibanding kita.

Saya hanya bisa melayangkan lamunan (kali ini beneran lamunan terakhir kali :p) pada suatu sore yang hangat di dapur dorm, ketika teman-teman berbagai bangsa berkumpul mengerumuni panci besar yang menguarkan uap soto. Mereka, dari Jerman, Finlandia, Itali, Pakistan, Belanda, dan Amerika, menandaskan racikan soto dan klappertaart yang saya buat dengan bahan seadanya; bubuk kunyit dan daun salam yang mengering dan baunya tak jelas lagi, serai bubuk yang tak sesegar batang serai asli, santan beku yang mirip lilin, serta kelapa diskonan hampir kedaluarsa dari swalayan Asia yang saya masukkan ke dalam klappertaart. Semua licin tandas dan mereka meminta resepnya. Dalam hati saya berkata, ah, datanglah ke Indonesia, di sana akan kalian temukan kekayaan rasa beratus-ratus kali lipat dibanding apa yang bisa saya sajikan di sini. Tak cuma rasa, tapi budaya, juga alamnya.

Mengenang itu semua, saya merasa begitu kaya. Kita punya semua, mungkin hanya satu yang kurang: mentalitas untuk menjaga. Bagaimana semua kekayaan ragam ini menjadi harmoni, bukan bibit perpecahan. Bagaimana agar kesatuan itu kelak bisa mendorong kita melaju, namun tetap membawa jati diri kita.

Tiba-tiba, saya jadi sangat rindu Indonesia. Ya, pada akhirnya, perjalanan keluar dari tanah air, adalah perjalanan yang membawa kita kembali. To go is to return.

Ah, semoga saja ini bukan cuma cerita gombal yang terlintas selagi makan ayam….

~Sebuah catatan kebangsaan, dari kota berangin saat musim gugur.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s