Bulan Nararya: Novel dengan Benang Beragam Warna

bulan-nararya1
Bulan Nararya – Sinta Yudisia

Membaca kisah yang dipaparkan Sinta Yudisia, ibarat melihat potret yang terbingkai di sebuah ruang hening. Kadang, isi bingkai itu temaram, redup, bagai sungai yang tenang di malam hari; begitulah saya membaca Rinai, novelnya yang berlatar Palestina. Kadang, bingkai itu menyajikan banyak warna, saling bertaut, sedikit bergejolak seperti sungai yang tengah pasang airnya; begitulah kesan saya terhadap novel Bulan Nararya.

Di sini, saya menemukan jalinan konflik yang ketat dan rumit, saling tertaut, tetapi dibuka satu persatu dengan cara yang menghanyutkan. Ibarat melihat permadani bermotif rumit dan indah, yang gulungannya dihamparkan perlahan. Jika biasanya saya membayangkan benang merah adalah seutas benang yang terentang dan menyatukan jalan cerita, maka di sini, benang itu tak hanya seutas, melainkan banyak, warnanya pun mungkin tak hanya merah, tapi beragam. Hebatnya, semua itu terpilin dengan unik dan berpusar di satu titik.

Novel ini mengikuti perjalanan seorang terapis psikologi bernama Nararya. Konflik pribadi yang tengah dihadapinya adalah perceraian dengan Angga, suami yang masih dicintainya. Ada yang janggal baginya dalam hubungan mereka; suami yang tidak berusaha membatasi pesonanya di ruang publik, salahkah? Suaminya memang pantas dipuja wanita—tampan, penuh perhatian, lembut, penyayang—dan Nararya membiarkannya. Baginya, salah satu wujud cinta adalah percaya, tidak menggenggam terlalu erat, sebagaimana kisah pasir di telapak tangan. Namun, ketika akhirnya sang suami terlibat affair dengan Moza, sahabatnya sendiri, ia mulai mempertanyakan pilihan sikapnya itu.

“Apa sebaiknya, sebagai bukti cinta, kita juga harus melindungi dan menuntut batasan?” (Nararya, hal. 222)

“Kamu mungkin sangat mencintainya hingga selalu melonggarkan ikatan. Membiarkan Angga bermain-main dengan banyak perempuan … Aku akan menjaga Angga… Angga harus tahu, betapa besar maknanya dia dalam hidupku.” (Moza, hal. 108)

Di tengah masalah personalnya, ia tetap harus tampil professional. Itu menjadi kemelut besar ketika profesinya adalah psikolog, konselor, terapis. Bagaimana menyelesaikan masalah orang lain ketika kau sendiri dirundung masalah? Bagaimana memberi saran untuk rumah tangga orang lain ketika rumah tanggamu tak utuh lagi?

Mengolah dua konflik itu saja, sudah cukup menjadikan kisah ini menarik. Namun, Sinta membawanya lebih jauh lagi. Ia melibatkan para klien tak hanya sebagai permasalahan bagi Nararya, tapi klien-klien itu juga diberinya porsi yang cukup sebagai tokoh dengan konflik tersendiri yang mengundang penasaran pembaca. Membacanya, saya jadi ingin tahu kelanjutan nasib dari Pak Bulan, gelandangan sebatangkara yang mencintai bunga dan purnama; Yudhistira, seorang pria muda yang tumbuh dalam tekanan perempuan-perempuan dominan; juga Sania, gadis kecil korban kekerasan, yang tumbuh tanpa cinta. Kisah mereka ibarat alur-alur kecil pada arus sungai utama yang menarik kita untuk turut hanyut bersamanya.

Lalu, tak cukup sampai di situ. Dengan cerdas dan piawai, Sinta juga membungkus konflik dari para klien itu dalam sebuah pertanyaan besar yang gemanya menyentuh hati banyak manusia. Tentang penyakit  mental, siapkah kita menerima mereka sepenuhnya, jika yang terkena penyakit itu adalah keluarga kita–atau bahkan bila penyakit itu menimpa kita? Sebuah pertanyaan dari Diana, istri yudhistira, yang bimbang untuk menerima suaminya kembali, terus memantul-mantul dalam benak saya.

“Adakah seorang perempuan skizofrenia yang tetap dicintai suaminya?”

Jawaban dari pertanyaan semacam itu yang ditelusuri Nararya, sambil mengurai benang kusut rumah tangganya. Ia memasuki lembar-lembar kehidupan Yudhistira, mencoba menggali apakah keluarganya bisa jadi tempat untuk kembali, atau malah menyebabkan penyakitnya kambuh lagi? Ia juga memperjuangkan nasib Sania, yang akan direnggut paksa oleh Ayahnya yang pemabuk dan tak bisa dipercaya. Lantas, bagaimana dengan nasib Nararya? Kuatkah ia menjalani semua dalam tekanan yang bertubi-tubi?

Di sinilah muncul selapis konflik lagi, mungkinkah sang terapis justru memerlukan terapi? Apalagi ketika berbagai peristiwa janggal ditemuinya; taburan kelopak mawar koyak, aroma anyir dan genangan darah di depan ruangan, terjadi berulang-ulang. Berhalusinasikah ia? Benarkah otaknya tak sanggup lagi mengurai kekusutan hidupnya? Jika ia bukan berhalusinasi, maka keberadaan darah itu perlu ditelusuri penyebabnya. Darah siapa? Adakah kekerasan di klinik tempatnya bekerja?

Di sini, saya mengagumi kepiawaian penulis meramu konflik berlapis, memadukan unsur psikologis dan aroma ketegangan, namun tetap menyentuh dan humanis. Tak salah novel ini menjadi Juara Lomba Tulis Nusantara 2013.

Kalaupun ada yang sedikit membuat tak nyaman, ialah beberapa penggalan adegan yang kadang melompat patah-patah, Mungkin karena banyaknya adegan yang harus disajikan dalam ruang yang terbatas–256 halaman–hingga satu adegan harus segera beralih tanpa penggambaran terlalu banyak. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya pikat novel ini. Penulis yang menempuh magister ilmu psikologi, sangat luwes menyajikan analisis kejiwaan yang amat dekat dengan hidup kita. Di sela cerita yang rapat ini, ia juga masih sempat menyelipkan konflik Poso, keindahan kota Palu, serta eksotisme batik Madura.

Yang paling menarik dari novel ini adalah bagaimana penulis melukiskan karakter orang-orang dengan gangguan kesehatan mental sebagai manusia yang utuh, yang kadang bisa merasakan lebih jernih dan tulus dibanding kita. Ia melukiskan mereka sebagai manusia yang mampu mengulurkan persahabatan, bisa saling menerima, bahkan mencintai, walau dengan segala ketakutan, dengan timbunan perasaan terpendam yang tak bisa mereka ungkapkan, serta bagaimana kesemuanya ini tak lepas dari kehidupan orang-orang di sekelilingnya.

“Mataku basah. Orang-orang dengan hati bersih dan rapuh ini akan senantiasa membutuhkan dorongan ke arah kebaikan. Bila teman perjalanan tak memahami, saraf mereka semakin rapuh, retak, dan hancur sama sekali. Mampukah Diana? Mampukah Pak Robin atau Pak Bulan? Mampukah orang-orang di sekeliling Yudhis dan Sania memahami, membantu mereka tetap utuh sebagai manusia?” (hal. 164)

Pertanyaan ini gemanya terasa di sepanjang cerita, mengantarkan pada perenungan tentang jiwa manusia, tentang kesehatan mental, tentang ketulusan, tentang orang-orang yang–mengutip penulis–terkadang dipandang sebagai manusia kelas rendah yang tak boleh punya keinginan apa pun selain bernafas. Semua itu menyisakan perenungan, mungkinkah selama ini kita tak adil memandang mereka?

Judul Novel: Bulan Nararya

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Terbit: September 2014

Tebal Buku: 256 halaman

ISBN: 978-602-1614-33-4

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s