Day #3 Writing Challenge: Top Three Pet Peeves

Istilah pet peeves selalu bikin saya membayangkan Peeves si hantu nyebelin di Harry Potter. Kelakuan Peeves memang nyebelin sih, tapi at least semua orang setuju dia nyebelin. Sebenarnya yang lebih ngeselin adalah kalau kita benci setengah mati pada sesuatu, sementara orang di sekitar kita merasa baik-baik saja. Aaargh. Buat saya itu annoying. Soalnya semacam nggak ada temen ngedumel. #eh

Untungnya, enggak banyak hal yang saya anggap sebagai pet peeves. Pada dasarnya saya memang cenderung kompromian, dan kalau saya nggak suka sesuatu ya dijauhi saja. Lebih aman untuk kesehatan dan hemat energi. Saving my breath from complaining all day.

Tapi, memang ada hal-hal yang sulit dihindari. Dan seberapa besar pun usaha saya untuk mentolerir tapi kalau terjadinya sering ya lama-lama kesal juga. Terus, berhubung saya cenderung toleran terhadap hal-hal kecil, maka hal paling nyebelin bagi saya adalah orang yang meributkan hal kecil.

Saya paling nggak suka kalau ada yang mempermasalahkan hal sepele saat ada bigger picture yg lebih penting untuk diperhatikan. Misalnya aja, lagi ada kebakaran dan semua orang berusaha memadamkan api, lalu seseorang heboh mempermasalahkan kenapa air yang digunakan tidak steril? Kenapa tidak dipasteurisasi dlu? Kalau nanti airnya kena orang2 yang luka lalu mereka infeksi gimana?

Ya Gusti… Kuatkanlah aku… 😢

Atau misal, bayangin tentang typo. Kadang saya memang cenderung menghapus kata yang sedang saya ketik kalau ada typo, tapi saya adem ayem aja kalau lihat typo di tulisan orang. Kecuali memang diminta cari typo, atau saya editor, wajar kalau ribut.

Tapi, ada jenis orang tertentu yang mempermasalahkan typo di saat yang tidak tepat. Misal, kamu mau nikah dua minggu lagi, lalu kamu nyerahin undangan ke bosmu yang kebetulan juga turut mengundang sepuluh top tier lain di perusahaan itu. Ternyata di undangan itu kata ‘mengundang’ jadi ‘mengundan9’.

Iya sih, alay, jelek, dan mengganggu banget. Tapi, si bosmu ini saking care-nya, atau entah saking ribetnya, memintamu untuk mengembalikan undangan ke percetakan dan nyuruh cetak ulang! Semata karena dia malu menyerahkan undangan typo itu ke koleganya.

Come on, yang nikah siapa coba? Yang bayar percetakan juga siapa? Waktunya juga mepet tinggal dua minggu lagi. Apalagi, sebenarnya hal itu bisa diakali dengan menempelkan kertas print dari warna yang sama utk mengoreksi kata ‘mengundan9’. Minimal di sepuluh undangan yang buat kolega si bos. Tapi, dia keukeuh harus cetak ulang, karena menurut dia percetakan harus bertanggung jawab.

Daripada mempermasalahkan itu, kenapa dia ga ikut berbahagia aja ya, ada karyawannya yang married dan dia diundang?

Yah, tapi, mau dibantah juga dia bosmu. Kamu juga masih betah kerja di situ. 😢 Yang kayak gini yang ngeselin banget bagi saya.

Atau yang lebih sepele lagi, misalnya kamu jadi perawat dan harus bikin air hangat untuk mandi pasien. Caranya, adalah dengan mencampur air dingin dari keran dengan air panas yang telah dimasak. Buatmu, nggak masalah mana yang kamu tuang ke mana.

Bisa jadi air panasnya sudah di baskom lalu kamu kucuri air keran, setelah itu kamu ukur suhunya sesuai yang diinginkan. Atau bisa juga di baskom sudah ada air dingin, lalu kamu menuang air panas dari panci.

Tapi, kepala perawatmu bersikeras bahwa harus air dingin dulu yang di baskom, air dinginnya diukur dulu suhunya, air panasnya juga diukur, lalu baru diperkirakan harus nuang air berapa banyak dari panci. Dan dia inspeksi setiap pagi untuk menegur perawat yang salah nuang air.

Oh, mengapa hidup harus begitu rumit? 😥

Padahal masih ada hal-hal yang lebih besar yang bisa dipikirkan. Seperti, makan siang dengan apa hari ini? #heh

Begitulah. Sepertinya itu pet peeve saya cuma satu: getting a fuss over small things. Meticulous boleh, tapi ya enggak gitu-gitu amat, lah.

Hayati bisa lelah, Bos.

Iklan

7 comments

  1. Alloh. Ngakak-ngakak aku bacanya. Terutama bagian pemadam kebakaran itu kok bikin aku inget sama seseorang. Tapi asli, Tan. Toleransi aku juga lebar banget, jadi kalau ada hal-hal kecil digede-gedein rasanya mau bilang, “Duh, kapan kamu bahagianya?”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s