Day #8 Writing Challenge: something you struggle with

“If I’m not good enough, why do I even try?”

Itu kata Abby, cewek gotik ahli forensik di serial NCIS. (Nggak ada hubungannya sama neng zaskia gotik btw >.<)

Semula, saya merasa karakter Abby ini creepy. Dengan bibir warna merah darah, riasan mata hitam, choker, tato, dan segala atribut gotik serta keterlibatannya di dunia forensik. Dia mengingatkan saya pada orang-orang di sebuah film lain yang saya benci. Judulnya Pathology. Eughh… Brutal violence. Disturbed psyche. Portrayed proudly by people who should shoulder responsibilty, but instead, they use their competence in a twisted way. Itu film tentang dokter forensik yang membunuh dengan seringai dingin kemenangan. I had no fun watching it.

Tapi, ternyata saya salah. Fashion statement kadang sama sekali tak ada hubungannya dengan karakter asli seseorang. Abby sangat peka secara emosional, sayang sama teman-temannya, and has a strong view about justice and responsibility. Dia sangat berdedikasi, cenderung hiperaktif dan hiperantusias malah. Dia selalu berusaha sebaik mungkin dengan seluruh kemampuan, to make an impact in a good way. Saking berdedikasinya, waktu dia absen sehari, teman-temannya bengong.

“What? Sick? Abby has not been sick since…like…ever?” kata Dinozzo, yang diamini teman-teman lain. Apalagi ketika si bos nyuruh mereka menggantikan posisi Abby, tambah bengong lah mereka. Karena nggak banyak yang bisa mengerjakan apa yang Abby bisa. Dari mulai strategic thinking sampai mreteli mobil, periksa DNA sampai hacking database. Intinya dia segala bisa lah.

And yet, she keeps some insecurities about herself. She’s afraid that she may never be enough.

You are not enough.

Those words are strong. Perasaan bahwa apa yang kita lakukan tidak pernah cukup, to be deserved of love, or companion, or to live up to other’s expectation, is a disturbing feeling.

Am I not good enough, that I don’t even deserve to walk on earth? Ekstrimnya gitu. This is a feeling which is close to a question, does our existence matter? At least, to make someone look at you in the eyes and feel grateful that they know you?

Sewaktu insecure-nya Abby kumat, karena teringat sebuah kesalahan yang dia lakukan di masa kecil, Abby mogok berusaha. Dia pura-pura sakit dan nggak masuk kerja. Dia berhenti berbuat sesuatu.

If you know that what you do doesn’t matter at all, doesn’t create an impact you desire, why do you even try?

Dia merasa tidak cukup baik, kehadirannya tidak membuat perbedaan yang membawa pada kebaikan, merasa sia-sia dan percuma. Lalu akhirnya menyerah dan cuma diam.

And that, was the thought I’ve strugled with, for years.  Kadang saya merasa, kalau goal-nya tidak akan tercapai sepenuhnya, ngapain dicoba? Kalau saya tahu hasilnya bakal jelek, ngapain juga dibuat? Kalau saya tahu ini tidak akan sempurna, kenapa harus diusahakan? Kalau tidak ada impact yang berarti, ngapain dilakukan? Percuma, buang-buang tenaga.

Dulu, saya pikir itu keren. Waktu saya belajar fisiologi, saya menemukan bahwa sel saraf kita memiliki prinsip yang mirip-mirip. Namanya hukum “All or None“. Prinsipnya, dia punya target voltase tertentu agar impuls yang datang bisa membuat dia mulai bekerja, alias teraktifkan (bahasa sononya, tereksitasi).

Jadi, kalau misal sebuah panci panas mengitik-ngitik sel saraf kulit kita, sementara voltase yang ditetapkan si sel saraf adalah 20 mikrovolt, misalnya (ini saya ngarang). Maka sentuhan yang kekuatannya 2, 3, 5, 10, 18 voltase tidak akan dipersepsi sebagai belum panas, agak panas, agak setengah panas, agak lumayan panas, dan sudah cukup panas. Karena dia bahkan nggak akan meneruskan impuls sentuhan tersebut sama sekali untuk dipersepsi. Atau mungkin bisa dibilang dia tidak mau bekerja ketika kemungkinan goal yang dia tetapkan tidak tercapai. It’s either all, or none at all. It’s either I achieved something, or do nothing at all.

Tapi, ketika diaplikasikan secara salah, it could be paralyzing. Memang benar, sel saraf melakukan itu agar hemat energi untuk impuls-impuls nggak berguna. Biar nggak banyak-banyakin impuls yang mendistraksi kerja sistem saraf pusat kita dari impuls lain yang lebih penting. Tapi dia menetapkan ambang voltasenya bukan tanpa pertimbangan. Ambang itu sudah cukup rendah untuk memisahkan mana yang tak penting dan mana yang perlu membuat dia bangun dan bekerja.

Jadi, mungkin, kalau saya merasa harus yakin bisa menghasilkan impact besar sebelum berbuat, itu sama dengan sel saraf yang menetapkan target ketinggian, lalu ketika panci panas datang, dia tetap tidak bekerja juga hingga kulit melepuh kemudian gosong.

Ini yang sedang saya usahakan. Di antaranya dengan membuat postingan yang isinya cuma curcol beberapa hari belakangan. I know it might be nothing. I’m not even sure it’s worth reading. But I have enough with my old self which often criticize “Kalau nggak bisa melakukan sesuatu dengan baik, nggak usah dikerjain sekalian, biar yang lebih capable yang mengerjakan!” Saya sudah bosan dengannya, jd sekarang mau move on dengan mentalitas baru. 😉

Saya teringat kata Gibbs, bosnya Abby, di akhir episode, “What we do today, however small it may seems, could make a difference, when we look at it years later.

Terima kasih Abby, terima kasih Gibbs. 🙂

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s