Day #9 Writing Challenge: words of wisdom that speak to you

Ada banyak mungkin yang ingin saya tulis di sini, tapi saya mencoba memilih yang paling dekat dengan yang sedang dijalani. Satu dari Ibu saya, yang kedua dari Atticus Finch.

Yang pertama, “Ulah ngarawu ku siku,” kata Ibu.

Itu adalah ungakapan dalam bahasa Sunda, yang berarti “don’t bite more than you can chew“, yang berarti lagi…jangan menggigit lebih banyak dari yang bisa kau kunyah, alias jangan makan banyak-banyak. #eh

Alias jangan serakah.

Tapi, ‘ulah ngarawu ku siku‘ lebih mengingatkan saya pada tanggung jawab. Secara harfiah ia berarti, jangan meraup sesuatu terlalu banyak sampai berceceran, cukupkan apa yang bisa kau genggam dengan kedua tangan.

Bagi saya, itu termasuk perkara mengemban tanggung jawab banyak-banyak, tapi tidak bisa amanah. Saya pernah berada di posisi mencoba melakukan terlalu banyak, tapi meninggalkan banyak pula kerusakan. Entah apakah ini hanya untuk menghibur diri sendiri atau bukan, saat ini tak banyak hal yang saya tekuni, tapi semoga saya bisa menjaganya dengan baik.

Yang kedua, ini berhubungan dengan post sebelumnya.

Tentang keberanian, dan pentingnya berusaha walau mungkin cuma sedikit yang bisa kita hasilkan.

Kata Atticus Finch, seorang figur Ayah fiktif yang saya kagumi, “I want you to see what real courage is,” katanya. “Courage is not a man with gun in his hand. It is when you know you’re licked before you begin, but you begin anyway. And you see it through no matter what.”

Keberanian ialah saat kau melihat bahwa kau sudah kalah di awal, tapi kau tetap maju, dan melakukan apa yang perlu dilakukan, sampai selesai.

Itu terjemahan ngasal versi saya.

Jujur, saya bukan orang yang percaya diri. Tapi saya percaya pada Kekuatan Yang Lebih Besar, di luar diri saya. Mungkin itu saja yang perlu saya pegang, ketika saya mulai merasa yang saya lakukan terlalu kecil dan tidak berarti.

Dan, ngomong-ngomong soal gun (karena tadi keingetan pas ngetik kata-kata Pak Atticus), ada satu hal lagi yang saya rasa kebenarannya cukup bergaung dalam hidup saya. Tentang nalar manusia. Di era ini, saya kira nalar ibarat inti penggerak dari segala, ia ibarat elemen yang menyangga peradaban manusia. Seolah tak ada lagi yang tak mungkin kita lakukan, hanya nalarlah batasannya.

Tapi, ada satu hal yang saya pegang, bahwa nalar tidak menentukan tujuan kita. Manusia memiliki motivasi yang berakar kuat dari impuls yang lebih primitif, dan nalar hanya membantu mewujudkan, membantu membela, membuatkan alasan-alasan, membantu membenarkan. Nalar ibarat mesin ultra-efektif, ultra-multifungsi, sehingga siapapun yang bisa menguasainya dengan baik, dapat menghasilkan keajaiban yang menakjubkan.

Dari situlah saya kira ketakjuban kita terhadap nalar bermula. Karena itulah sesiapa yang berhasil menguasai nalarnya dengan baik menjadi terlihat mempesona. Tapi, sebetulnya apa yang menyetir kita untuk berbuat adalah sesuatu di luar nalar. Kita butuh motivasi, butuh tujuan, dan konon…bukan nalar yang menentukan.

Reason is only a gun for hire, katanya (sungguh saya lupa itu kata siapa). You could use it to whatever end you desire. But to determine that ending point, it has no power. It can’t tell us where to go, but it could tell us how to get there.

So, to determine where to go, don’t rely on your mind, it could be deceiving.

Iklan

6 comments

    • Nah, itu, tan… aku pas mau baca buku kedua itu taku-takut. Soalnya buku pertamanya kusuka banget, jd takut berkurang perasaanku pada eyang Harper, wkwkw. Ternyata emang tokoh-tokohnya ada perkembangan karakter ya, Tan…

      Suka

  1. “Karena itulah sesiapa yang berhasil menguasai nalarnya dengan baik menjadi terlihat mempesona. Tapi, sebetulnya apa yang menyetir kita untuk berbuat adalah sesuatu di luar nalar. Kita butuh motivasi, butuh tujuan, dan konon…bukan nalar yang menentukan.”

    aaaah, aku ngefans sama kalimat iniii!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s