gambar The Dummy Cook Project #2: Bakso Untuk Si Malas

Ini dia solusi malas bagi penggemar bakso: beli! #heh. Tapi, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, Mamang Bakso tak selalu siaga di tiap tempat. Kalau pun ada Toko Asia setempat yang jual pentol bakso, biasanya negara asal importnya bukan dari Indonesia, dan jujur saya agak was-was terkait kehalalannya.

Tapi, saya suka sekali bakso. Dan kadang pinginnya dadakan, apalagi kalau pas lapar, kalau harus bikin dulu mah hadeuh keburu salatri kalau kata Ibu saya. Keburu pingsan. Mana yang saya suka bakso malang pula. Bulet-buletin pentolnya aja sudah berapa lama, belum lagi bikin pangsit, bikin tahu bakso, nungguin kuahnya mateng, belum lagi goreng pangsitnya, rebus sawi-nya. Di saat-saat seperti itu rasanya ingin mengheningkan cipta saja untuk mengenang jasa-jasa Mamang Bakso yang sangat mulia.

Baru-baru ini saya memulai kebiasaan batch cooking, mungkin kapan-kapan saya ingin menulis tentangnya, karena sangat praktis untuk orang-orang yang sibuk tapi tetap harus memasak, juga bagus untuk orang-orang yang menjaga berat badan, karena menu harian bisa terkontrol dengan baik tanpa harus repot masak setiap hari atau beli katering diet yang seporsinya mihil bingits.

Sebelumnya tak terpikir bahwa bakso juga bisa jadi menu batch cooking, tapi ternyata bisa, dan akhirnya sekarang menjadi solusi rutin kami kalau sedang ingin bakso dalam waktu singkat, tapi tak ada Mamang Bakso untuk dicegat.

Tapi, tetap saja kita tidak bisa menghindar dari proses bulet-buletin bakso di awal. Nggak apa-apa, sekalian olah raga. Tapi cuma sekali saja kok, seterusnya bisa dimakan kapan saja. Oh iya, jadi singkatnya batch cooking ini adalah strategi masak banyak di awal pekan, untuk kemudian disimpan dengan cara sepraktis mungkin agar menghemat waktu saat terburu-buru di hari kerja. Berikut ini resepnya, ya.

BAKSO DAGING SAPI (Bakso malang berikut pangsit dan tahunya)

Bahan untuk bakso, pangsit, dan tahu:

  • Daging sapi 500 gr
  • Tepung sagu 75 gr (saya pakai tepung tapioka)
  • Bawang putih mentah 6 siung
  • Merica 1 sdt
  • Garam 3 sdt
  • Telur 1 butir
  • Air es 100 ml
  • Tahu kuning 500 gr (saya pakai tahu putih)
  • Kulit pangsit siap pakai 1 pak (yang saya beli kemasan 200 gr isi 40an lembar, tidak terpakai semua)

Cara membuat:

  • Ini bakal gampang banget kalau pakai food processor, tinggal masukkan delapan bahan teratas ke dalam food processor, tunggu tercampur. Jadi. Sudah, gitu aja. Nggak perlu iris bawang, ngulek, goreng dulu, dsb.
  • Tapi, saya punyanya blender, dan yang bisa dipakai untuk menghaluskan daging cuma yang bagian grinder, yang wadahnya kecil dan blade-nya hanya dua itu. Jadi, kalau bahan yang dihaluskan banyak, yang saya lakukan adalah mencampur telur, bawang putih, garam, dan merica terlebih dahulu. Setelah halus, saya tuang ke wadah.
  • Setelah itu gantian saya menghaluskan daging cincang sedikit demi sedikit (utk 500 gr saya bagi menjadi 3 kali), dengan diberi air es sedikit.
  • Kemudian, di mangkuk besar, saya campur daging, telur dan bumbu, serta tepung. Diaduk saja pakai tangan. Hasilnya jadi seperti ini (wadah kanan): img_20161120_122713462itu sewaktu difoto adonannya sebagian sudah direbus, jadi tinggal sedikit (maafkan fotonya yang berantakan).
  • Untuk membuat pangsit dan tahu bakso, pakai adonan yang sama, proporsinya terserah, mau banyakan pangsit atau banyakan bakso. Dari bahan di atas, saya buat 40-an bakso, 20-an pangsit, dan 20-an tahu bakso. Cara buatnya, adonan tadi masukkan ke dalam kulit pangsit, bungkus sesuai selera. Untuk tahu, potong tahu menjadi segitiga, kerok sedikit tengahnya, lalu isi dengan adonan bakso.
  • Didihkan air kira 1,5-2 liter. Kalau sudah panas, baksonya bisa langsung dimasukkan ke dalam air, tunggu sampai matang dan mengambang, lalu angkat dan tiriskan. jadinya seperti itu, tidak terlalu artistik ya, karena benjol-benjol. >.<
  • Untuk pangsit, langsung digoreng saja, sedangkan untuk tahu saya kukus, tapi digoreng juga bisa kok. Saya tidak sempat memfoto tahunya, dan foto pangsitnya itu sewaktu belum belajar batch cooking. Kalau untuk batch cooking, bentuk pangsitnya saya buat mendatar. Jadi adonan isi hanya saya bungkuskan di salah satu sudut kulit pangsit, dan sisa lembaran pangsitnya dibiarkan mendatar terbuka. Ibarat kertas segi empat, digulung di salah satu sudutnya saja, lainnya dibiarkan terbuka. Lain kali mungkin saya post fotonya.
  • Sudah jadiii. Nah, sekarang tinggal bikin kuah.

Bahan kuah bakso:

  • Air sisa merebus bakso (saya tambah lagi sampai kira-kira 3 L)
  • Bawang putih 6 siung, goreng utuh, memarkan
  • Seledri 3 batang, ikat
  • Bawang daung 3 batang, ikat
  • Garam 3 sdt
  • Gula 1/2 sdm
  • merica 1/2 – 1 sdt
  • Tulang kaki sapi atau tetelan
  • Kaldu sapi 1 sdt (opsional, kalau pakai tulang kaki sapi sudah gurih walau tanpa tambahan kaldu)

Cara membuat:

  • Panaskan kembali air sampai mendidih, masukkan tulang sapi, seledri, bawang putih, bawang daun, garam, merica, kaldu. Biarkan sampai daun bawang dan seledri agak layu, cicipi dan sesuaikan rasa dengan menambah gula/garam.

Sekarang, terkait tips pembuatan dan tips penyimpanan, ini yang penting, agar si bakso bisa dimakan kapan saja kalau mau. Secepat memanggil mamang bakso di depan rumah kemudian tersaji di hadapan.

  1. Bagi yang tidak memiliki food processor, blender kecil (grinder) bisa dipakai. Memang biasanya di buku manual disebutkan bahwa grinder tersebut digunakan untuk biji-bijian, makanan kering, atau es batu. Namun, beberapa kali saya pakai untuk menghaluskan ikan, ayam, dan daging, hasilnya bagus sekali. Hanya saja volumenya kecil, jadi memasukkannya harus bertahap. Dan mesin blender dijaga agar tidak panas. Paling tidak, jangan dibiarkan bekerja lebih dari dua menit. Jadi setiap dua menit di-pause.
  2. Selama memblender daging, biasanya saya menambahkan air es sedikit saja. Karena proses memblender akan menghasilkan panas dari gerakan bladenya yang berulang, hal ini kurang baik untuk tekstur si bakso. Sehingga perlu ditambahkan air dingin/es agar hasil akhir baksonya tetap kenyal.
  3. Saat membulatkan bakso, bisa pakai tangan kemudian di-scoop dengan sendok, atau dibentuk di antara kedua sendok. Sendoknya dicelup air dingin dulu agar tidak lengket ke adonan.
  4. Saat memasukkan bakso ke dalam air, jangan saat airnya mendidih, kecilkan dulu api, baru masukkan. Agar tekstur baksonya lebih halus.
  5. Untuk penyimpanan, bakso ini tahan di freezer 2-3 bulan, dan di lemari es bawah sekitar 1 minggu. Jika ingin menyimpan di freezer, jangan ditaruh seluruhnya di wadah atau di kantong plastik tertutup begitu saja. Karena ketika akan disajikan, kita jadi harus men-defrost si bakso dalam jumlah besar sebelum kita bisa mengambil sejumlah yang kita inginkan. Percayalah, misahin bakso beku yang saling menempel karena lapisan es itu susah. Bisa di-defrost di microwave memang, tapi harus sejumlah besar itu pula yang didefrost, sehingga si bakso yang tidak akan dipakai harus dikembalikan lagi ke freezer setelah dihangatkan di microwave. Dan proses thawing berulang seperti itu tidak baik untuk makanan. Apalagi kalau untuk defrostnya dibiarkan di suhu ruang beberapa lama.
  6. Tipsnya, pisahkan per porsi sebelum ditaruh di wadah. Bisa menggunakan plastik es yang kecil, per plastik diisi seporsi bakso yang kita inginkan, misalnya 5 bakso per plastik, baru plastik-plastik itu disimpan di wadah besar. Atau, gunakan plastik yang besar, tapi susun baksonya berjauhan, dan keluarkan udara dari dalam plastik, sehingga si bakso tampak seperti bakso dalam kemasan vakum yang biasa kita beli di supermarket. Saya biasanya menggunakan plastik microwave/plastik parsel yang lentur. Taruh selapis plastik di meja, susun bakso berderet dan beri jarak, lalu tutup dengan selapis plastik lagi di atasnya, bungkus hingga tiap bakso terpisah plastik tipis dari bakso disebelahnya. Baru setelah itu saya masukkan ke wadah.
  7. Hal yang sama saya lakukan untuk pangsit (kalau si tahu langsung habis jadi belum pernah di-freezer), karena itu si pangsit saya bentuk mendatar, lebih mudah menyimpannya.
  8. Untuk kuah, ini yang penting, karena bakso tanpa kuahnya tidak akan seperti dari mamang-mamang. Jadi, si kuah juga saya taruh di freezer. Caranya, taruh di cetakan es batu dan biarkan beku. Di sini, selain wadah plastik biasa, ada juga kantong plastik bersekat-sekat untuk membuat es batu. Jadi saya bisa menaruh kuah di 2-3 kantong plastik tersebut. Sejauh ini, saya belum pernah menyimpannya lebih dari 1 bulan, selama 1 bulan itu alhamdulillah tidak ada perubahan warna, rasa, maupun teksturnya.
  9. Beberapa orang yang mempraktekkan batch cooking biasanya punya puluhan wadah tupperware kecil untuk menyimpan menu selama seminggu. Kalau punya wadah seperti ini lebih enak, bisa ditaruh per porsi di freezer dan tinggal ambil satu wadah sebelum disajikan. Tapi freezernya harus gede juga kali, ya.
  10. Saat akan menyajikan, saya biasanya mengambil beberapa balok kuah yang telah menjadi es batu. Untuk satu porsi biasanya saya memasukkan 5 balok kuah, ditambah air lagi sekitar setengah gelas. Panaskan di panci kecil. Kemudian, karena baksonya tidak perlu di-defrost, langsung saja saya gunting plastiknya sesuai jumlah bakso yang diinginkan, keluarkan baksonya lalu dicemplung ke panci. Kalau mau tambah sayuran, sayurnya bisa dimasukkan sekalian di kuah tersebut. Sambil menunggu baksonya empuk, bisa menggoreng pangsit.
  11. Biasanya tidak sampai 15 menit sudah jadi, dan tidak banyak wadah yang digunakan, jadi hemat cucian piring. Dari bahan tadi, kalau saya bisa untuk 10 porsi. Setiap porsi 4 buah bakso, 2 buah pangsit, dan 2 buah tahu bakso. Tinggal tabur bawang goreng atau kasih kecap, bisa juga taburi irisan seledri dan bawang daun lagi di atasnya. Kalau lagi lapar banget, saya makan pakai nasi. hehe. Atau pakai bihun dan mie bisa juga.

Alhamdulillah dengan cara ini kami bisa makan bakso kapan pun ingin, walaupun sekarang tinggal di tempat di mana kami tak bisa memanggil Mamang Bakso sesuka hati. Untuk teman-teman yang juga jauh dari Mamang Bakso, semoga tips ini membantu, ya. 🙂

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s