gambar Day #19 Writing Challenge: About your first love…

Mungkin ini lebih cocok disebut konyol ketimbang romantis. Kalau diingat-ingat, ternyata dulu waktu kecil saya cupu sekali. >.<

Selain sama tokoh fiktif pemeran cowok di J-dorama Rindu-rindu Aizawa, saya juga pernah suka sama teman SD yang ketemu waktu TK. *kalau orangnya baca, palingan sekarang ngakak-ngakak sih. 😄

Saya merasa perlu banget menyertakan foto di sini.

rindu2-aizawa-03-avi-001046745

rindu2-aizawa-03avi-001408974

Itu diaaaa… itu dia orangnya. 😀 saya lupa namanya siapa *tadi waktu google gambar nggak sempat lihat namanya*, tapi dulu saya suka banget sama karakter dia. Pendiam, ramah, lembut, nggak banyak tingkah, sayangnya dia meninggal kalau nggak salah. Saya juga lupa ceritantya 😀 yang jelas ada satu adegan di mana Aizawa berlari-lari mencari si cowok ini (yang oleh orang tuanya dilarang ketemu Aizawa), dan cuma menemukan kursi rodanya di dekat danau. Habis itu kayaknya dia nggak pernah muncul lagi di serial berikutnya.

Adanya pemeran cowok lain, namanya Makimura Harumi, tapi tetap saya lebih suka sama si tokoh berkursi roda ini. Dan kayaknya, teman TK yang saya taksir zaman dahulu itu mungkin juga karena karakternya agak-agak mirip. 😄 Walaupun, kalau diinget-inget lagi, pertama kali saya melihat dia, adegannya pas dia pecicilan pakai baju batman sih. Sama sekali nggak pendiam. 😀

Tapi memang seingat saya dia baik, tidak suka ngeledekin dan ngisengin seperti teman-teman cowok yang lain. Dia anak guru TK saya, bersekolah di TK yang berbeda tapi suka ikut ibunya mengajar. Waktu kelas 1 SD ternyata kami satu kelas, dan saya senang sekali.

Tidak banyak detail yang saya ingat, kesan yang paling dominan dari dia adalah baik, cerdas, menghargai orang lain, diajari tanggung jawab sejak kecil. Terbukti dari obrolan dia dan ibunya yang berkali-kali saya dengar setiap siang hari ketika kami akan pulang sekolah. “Nasinya sudah ada, lauknya kamu bikin sendiri ya. Bikin nasi goreng juga boleh, ada telur sama pete.”

*itu ngomongnya pakai bahasa sunda btw >.<

Saat itu kami masih kelas satu atau dua SD, mungkin. Dan dia sudah diajari memasak. Sementara saya suka diusir-usir dari dapur karena dianggap ngerecokin. Waktu kecil saya ingin sekali dianggap dewasa seperti itu. Ingin dianggap bisa mengurus diri sendiri, ingin diberi tanggung jawab. Mungkin karena itu dulu saya kagum sama dia. Saya teringat obrolan kasual kami suatu hari tentang memasak.

“Memangnya kenapa kamu nggak masak?” tanya dia.

“Nanti nggak enak.”

“Gampang kok, kasih garam gula-nya sedikit-sedikit dulu, nanti dicicipi.”

Dia bilang gitu, padahal umurnya ya sama aja kayak saya, paling sepuluh tahunan. Tapi, dari situ saya belajar untuk tidak takut mencoba, dan juga bertekad, kalau nanti punya anak, mau diajari mandiri sejak kecil. Semoga.

Dia juga tidak pernah bolos piket, juga tidak pernah datang siang-siang pas jadwal dia piket, sehingga yang mengerjakan cuma cewek-cewek saja. Mungkin kelihatannya sepele, tapi buat saya itu menunjukkan tanggung jawab. Saya suka ilfil lihat anak-anak cowok yang bangga kalau berhasil mengakali biar nggak kerja piket. Walau tampaknya sekadar keisengan kecil, tapi saya kira dari hal kecil itulah kita belajar nilai-nilai.

Kalau dipikir-pikir, mungkin lebih tepat kalau ‘cinta pertama’ ini diterjemahkan sebagai pencarian role-model bagi saya. Sampai saya lulus SD, pindah kota, SMA, saya masih menghargainya sebagai orang yang patut diteladani. Tidak pernah ada hal-hal yang romantis terjadi, dia juga tidak pernah “nembak” sampai saya pindah kota. Dan setelah itu kami cuma bertemu kadang-kadang saja kalau saya pulang mudik, terakhir mungkin pas saya SMA, yang berarti sudah beberapa dekade yang lalu, mengingat umur saya yang sekarang sudah lebih dari seperempat abad. #heh

Namun, rupanya, pengalaman ini juga membentuk pilihan bawah sadar saya setelah dewasa. Saya hampir nggak pernah naksir tipe-tipe bad boy sok keren. Malah ilfil lihatnya. You can be a bad boy, but you must have a strong reason for that. Kalau cuma pingin kelihatan keren mah malah bikin ilfil, IMHO.

Jadi demikianlah kisahnya. Sebuah catatan kecil yang sudah tidak pernah saya buka lagi, tapi masih memberi pelajaran buat saya.

*Gambar dari sini 

Iklan

10 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s