Day #20 Writing Challenge: Your body and how comfort you are…

Lagi-lagi ini salah satu tema yang berbelok. Berbelok karena saya pernah menuliskan yang agak mirip, tanpa sengaja. Awalnya tema hari ini adalah celebrity crushes, namun tepat kemarin saya sudah menuliskan yang agak mirip di sini. Maka, saya berbelok pada tema yang terinspirasi dari tante anggi seorang kawan di sini.

Tentang hal ini, bisa dibilang dulu saya adalah orang yang sangat insekyur (baca: insecure). Selain sedari kecil suka diledekin hidung besar, hidung VW, hidung jambu, hidung perampas oksigen, dsb… waktu kecil saya juga suka diledekin pentol korek api (saking kurusnya, hingga kepala saya terlihat besar), suling aing tulang maung (itu lirik nursery rhyme sunda, tp intinya saya diledek mirip belulang, gtu), jerangkong berjalan, korban narkoba, cacingan, dll. Banyak deh. πŸ˜„

Saking insekyurnya, saya jadi selalu self-conscious saat diminta tampil, maju ke depan, atau sekadar berdiri di lapangan untuk upacara atau olahraga. Saya merasa tidak nyaman berada di tempat terbuka. Karena itu sebisa mungkin selalu memilih barisan belakang. Dan, ini juga yang membuat saya malas pelajaran olah raga. Sebenarnya saya bukan anak yang pasif atau couch potato. Saya sangat suka bergerak, suka menjelajah, cukup gesit dan waspada untuk ukuran anak kecil. Tapi, saya merasa minder dengan tubuh saya sendiri. Hingga akhirnya saya sering kali membatasi bergerak karena malu dilihat orang.

Ini juga menyebabkan ekspresi saya selalu terlihat sedih dan murung. Merasa tidak cukup pantas disukai teman-teman karena saya jelek. Wkwkwk. Ini serius. Sekarang sih karena sudah lewat masanya, jadi saya bisa tertawa. Tapi ketika melihat foto-foto saya zaman dahulu, saya sadar, dulu tampang saya asem banget! >.< Beneran nggak pernah senyum waktu difoto.

Sekarang, setelah semua itu jadi tidak penting lagi, saya kadang suka berpikir. Kenapa ya ledekan itu jadi begitu berpengaruh pada saya, sedangkan banyak orang lain yang diledek bisa cuek aja, atau malah balas ngeledek hingga si peledek jadi K.O.?

Sampai sekarang juga saya belum ketemu jawabannya. Apakah ituΒ ada bakat genetiknya gitu, untuk balas ngeledek? Atau semata karena lingkungan dan pola asuh? Jadi, apakah ini karena nature, or nurture?

Walau saya tidak tahu pasti, tapi saya punya feeling mungkin lingkungan juga berperan. Orang-orang terdekat saya dahulu sedikit banyak menyiratkan betapa pentingnya perkara estetika fisik, ketimbang perkara fungsional. Betapa sering saya mendengar pujian atau celaan berbasis fisik. Misalnya, “hiy, amit-amit deh si itu mah item keriting, siapa juga yang mau…” atau “ih, kok bisa sih si pak anu nikah sama mbak itu, mbaknya kan bulu kakinya banyak. Ih jijik.” atau “pantas aja dia mah diterima kerja di anu, orangnya cantik, bulu matanya lentik, bodinya bahenol.” Seolah-olah perkara disukai dan mendapatkan posisi tertentu adalah berbanding lurus dengan estetika fisik.

Mungkin, kita memang banyak mendengar itu dari orang lain. Tapi, ketika hal itu diucapkan berulang-ulang oleh orang-orang terdekat, dan bukan cuma satu orang, it sinks in. Dia membekas cukup dalam dan seolah-olah sudah confirmed kebenarannya.

Bisa dibilang, awal-awal masa remaja saya dihabiskan untuk berkutat melawan stigma itu. Ada perasaan seolah-olah ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi sesuatu tanpa kelebihan fisik. Saya berusaha meningkatkan keterampilan di bidang lain agar bisa membuktikan tidak perlu cantik untuk meraih sesuatu.

Tapi, ada efek lain. Saya juga jadi menghindari sama sekali atribut-atribut yang sifatnya memperindah fisik. Mungkin ini yang namanya perlawanan bawah sadar. #halah. Saya jadi menolak mentah-mentah untuk menonjolkan, atau sekadar memperlihatkan keindahan fisik (kalo ada yang indah sih, wkwk).

Tapi, naluri untuk merawat diri itu pasti ada di setiap orang kayaknya. Jadi, walau secara sadar nggak pingin menyuburkan trend fisik-oriented, tapi saya juga secara naluriah menemukan kesenangan dalam kulit yang bebas jerawat, rambut yang tidak kusut, dan badan yang tidak cuma belulang seperti residivis narkoba. 😦 Sedangkan untuk hidung yang gede, saya sudah sadar bahwa ia tidak lebih menyiksa dibanding kaki yang cantengan. #eh Β Jadi, keinginan ‘mempercantik’ saat itu lebih ke arah perawatan diri.

Cuma, rupanya saya-remaja tetap merasa dilema. Mungkin karena selama ini berusaha membuktikan bahwa keindahan fisik bukanlah segalanya, tapi kenapa kok saya masih menginginkannya juga? Dan apakah benar saya menginginkannya karena saya secara naluriah memang ingin, atau karena saya cuma terbawa arus seperti orang-orang lain (yang dulu tidak saya sukai itu)? Mungkin saat itu saya takut kecenderungan tersebut hanya berakar dari keinginan untuk diakui cantik oleh orang-orang tersebut. Soalnya, bukankah selama ini saya berusaha mengabaikan penilaian mereka itu?

Kalau cognitive dissonance seperti itu tidak didapat titik temunya saat saya remaja dulu, mungkin sampai sekarang saya akan memilih abai sama sekali terhadap perawatan diri. Demi koherensi, mungkin saya akan memilih tidak mau berdandan dan abai sama sekali terhadap penampilan, karena takut melakukan itu semata-mata untuk penilaian orang lain. Tapi, saya bersyukur menemukan jawabannya dengan berhijab. Saat itu, yang ada di pikiran saya cuma begini: yang bisa membuat saya yakin bahwa saya tidak merawat diri untuk penilaian orang lain, adalah karena saya tidak menunjukkannya pada orang lain. Itu saja.

*Ruwet amat yak, pikiran saya waktu dulu. wkwk.

Sekarang, tentu saja saya punya banyak alasan kenapa saya harus merawat diri. Agar sehat, karena men sana in corpore sano, karena untuk menghargai diri sendiri, karena agar nyaman beraktivitas, dan lain sebagainya. Tapi, saya masih tetap bersyukur karena si saya jaman dulu yang insekyur itu sudah rela berpusing-pusing mikir sampai ke sana. Terima kasih ya, Saya. πŸ™‚

Eh, jadi gimana, how comfort you are? Kalau saya yang sekarang kayaknya sudah nggak terlalu mikirin lagi hal-hal seperti itu. I’m content enough with what I have, as long as it functions normally, alhamdulillah. Dan semoga saja yang masih struggle seperti saya dulu, bisa lekas menemukan jawabannya. Because I believe, that kind of growth is personal and unique for each of us. πŸ™‚

*gambar dari sini

Iklan

15 comments

  1. “…yang bisa membuat saya yakin bahwa saya tidak merawat diri untuk penilaian orang lain, adalah karena saya tidak menunjukkannya pada orang lain. Itu saja.”

    Loh, kalau tante-tante pikirannya harus sama ya, Tan?

    Suka

  2. Aku juga kayaknya bermasalah sama hidung. Hidungku mancung sebenernya, tapi kalah maju sama pipi. Jadi ya tetep ga keliatan 😐 Kalo foto dari samping, kayak nggak punya hidung :’D

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s