Don’t lose sight…

Pagi ini saya mendapat kabar. Kabar yang membuat pikiran saya kosong sejenak. Entah karena memang mengagetkan, atau persepsi saya yang berlebihan. Namun, sejenak kemudian saya putuskan mengalihkannya dengan tertawa. Menjadikannya parodi dan terbahak karena komentar konyol dari teman-teman terdekat.

Bagi saya itu obat. Obat agar pundak bisa tetap tegak. Obat agar tidak menganggap kabar itu terlalu besar untuk dipikirkan dalam-dalam. Obat agar kabar itu terdengar hanya seperti sebutir kacang polong yang mencelat ke tempat sampah, saat seperiuk besar sayur sedang dimasak. Tidak ada artinya. Tidak perlu mengobrak-abrik tempat sampah untuk memungutnya kembali. Meninggalkan api dan sayur setengah masak terabaikan, lupa diberi garam, atau hangus tak termakan.

Ketika saya berhenti sejenak untuk menertawakan kacang, saya menyadari bahwa dunia kembali cerah, tak ada yang perlu dikhawatirkan, dan hari-hari selanjutnya akan baik-baik saja penuh canda tawa. Di lain waktu, saat tak bisa menertawakan, saya menghibur hati dengan menuangkan sebagian besar cadangan kacang ke dalam panci. Hanya untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa saya punya berpuluh butir kacang polong lain yang lebih enak dan lezat dibanding sebutir yang terlanjur mencelat ke tempat sampah.

Tapi, pagi ini, saya bertanya-tanya, untuk apa saya memasak? Untuk apa saya makan? Untuk apa semua kacang polong ini? Mengapa saya begitu sibuk mengurusinya?

Bahkan, saking sibuknya ingin menertawakan kacang yang hilang, atau ingin meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja tanpanya, kadang justru saya jadi terlalu lama berhenti, meninggalkan periuk besar yang butuh perhatian di atas kompor. Juga kadang lupa, bahwa memasak kacang polong hanyalah satu fase kecil dalam hari-hari yang masih panjang.

Apa sebenarnya yang saya inginkan untuk hari-hari itu?

Kesehatan, perbaikan kualitas diri, hubungan baik dengan keluarga dan sahabat, amal dan berbekal, kembali pulang dari hari-hari fana ini dengan hati yang lapang, menghadap dengan perasaan lega karena tugas-tugas dan tanggung jawab telah tunai dan selesai.

Betapa jauh. Betapa jauh saya dari pikiran itu. Betapa banyak yang tertunda. Betapa sibuk saya mengurusi kacang polong tanpa sadar di mana posisinya dalam hidup ini. Saya tahu, saya terlalu sering lupa dan abai. Dan semoga, catatan kecil ini bisa menjadi pengingat. Bahwa masih banyak tugas yang belum selesai. Masih banyak amanah yang belum tertunai. Bahwa saya perlu bergerak. Bukan hanya berpuas diri karena sudah bisa tertawa dan mendinginkan hati.

Mungkin, saya masih akan terus menertawakan kacang polong, mungkin saya masih akan suka menghibur diri. Tapi, semoga saya tidak lupa untuk terus bergerak juga. Semoga saya tidak kehilangan tujuan dan terlalu lama berhenti untuk menentramkan hati.

Pagi hari di samping jendela; May we all not lose sight of where we’re going

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s