Day #24 Writing Challenge: Lessons you learn the hard way

Suatu ketika saya pernah merasa sangat overwhelmed dengan penderitaan orang-orang di sekeliling saya. Yakni ketika saya mulai mengakrabi rumah sakit.

Perkenalan pertama saya dengan seorang pasien bangsal kelas tiga masih terbayang dengan jelas. Dan saya pun perlu berhenti berkali-kali sebelum melanjutkan tulisan ini. Entah karena terasa sesak mengingat beliau, atau merasa sedih karena kepekaan seperti itu sekarang seolah pudar dalam diri saya.

Beliau–pasien tersebut–mungkin adalah salah satu guru terbaik saya selama menempuh pendidikan. Saya masih mengingat dengan jelas wajah kurusnya dengan jambang yang mulai memanjang, lengan menggapai-gapai, luka dekubitus yang menghitam, dan istrinya yang pucat duduk menyuapi beliau di sebelahnya.

Pak, semoga Allah jadikan sakitmu sebagai penghapus dosa, dan semoga keberkahan selalu tercurah untukmu, dalam sempit maupun lapang.

Saat itu, saya seperti gagu. Menyadari bahwa kedua kakinya tidak bisa bergerak lagi. Ia kunduran truk, kata istrinya. Tertabrak truk yang sedang mundur. Hingga ruas sarafnya dari pinggang ke bawah tidak bisa berfungsi lagi. Hati saya terus meronta, benak saya terus bertanya, bagaimana kehidupannya kemudian? Bagaimana dengan istrinya? Anak laki-lakinya yang masih SMP? Bagaimana dengan dirinya? Bagaimana rasanya harus terus tergantung pada orang? Bagaimana rasanya tidak lagi bisa menjadi kepala keluarga yang melindungi anak dan istrinya?

Saya kehilangan kata-kata, sementara rekan-rekan sekelompok saya mengukur luka yang menghitam di tungkainya, mencatat sesuai template yang kami dapat dari buku teks. Berapa panjangnya, berapa lebarnya, berapa kedalamannya, berapa jumlah lukanya? Entah mengapa, semua itu menjadi terasa tak penting lagi. Saya merasa begitu buruk, harus menggali informasi itu untuk kepentingan saya sendiri, tanpa sedikit pun memberi timbal balik yang setimpal.

Bukan, bukan materi, tapi mungkin sekadar simpati, menguatkan, menjadi teman untuknya agar ia tak kehilangan semangat. Saat itu, saya berjanji, walau tugas saya di situ hanya tiga hari, tapi saya ingin menyempatkan diri untuk menengoknya sewaktu-waktu. Saya juga berjanji, untuk tidak pernah bermuka masam, menyepelekan, mengecilkan perasaan, terhadap pasien-pasien berikutnya yang saya temui.

Saya ingat, kadang betapa berjarak posisi seorang dokter dari pasiennya, betapa jauh dan tak terjangkau. Sewaktu kecil, saya pernah merasa sedih dan malu, ketika berobat ke dokter untuk batuk pilek, kemudian dokter tersebut segera memasang maskernya saat saya terbatuk-batuk. Suatu hal yang sepele sebenarnya, dan mungkin juga wajar. Kadang itu bukan hanya untuk keselamatan dokter, tapi untuk keselamatan pasien juga. Bisa jadi dokternya yang sakit, dan ia tidak ingin pasiennya tertular.

Namun, rupanya, hal sepele itulah yang saya pelajari lewat jalan yang curam. Yang seharusnya saya pahami dengan mudah, justru saya lalui dengan susah payah.

Berawal dari pertemuan saya dengan pasien pertama tadi, kemudian dikuatkan oleh guru-guru saya yang saya kagumi, tentang bagaimana sebaiknya kami menghargai pasien, tentang bagaimana sebuah penyakit tidak menular dengan mudahnya. Mereka membesarkan hati kami untuk tidak terlalu ‘takut’ pada pasien. Bahkan buku teks mengajarkan, kalau memungkinkan, peganglah lesi pada penyakit kulit dengan tangan kalian, selain untuk mengetahui karakteristik lesinya pada perabaan, hal ini juga bisa membesarkan hati pasien ketika melihat kami tidak jijik memegangnya. Maka, saya berusaha menerapkan itu semaksimal mungkin.

Tapi, mungkin saya lalai. Dan, kadang saya lupa, bahwa ada hak-hak tubuh kita yang juga harus ditunaikan. Saya kerap berkompromi untuk kesehatan saya sendiri. Sehingga, saat orang normal yang sehat bisa tahan walau berkali-kali kontak dengan pasien, rupanya tidak demikian dengan orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Dan mungkin, itulah yang terjadi pada saya.

Di satu titik, saya dikejutkan oleh sebuah diagnosis yang tidak saya sangka-sangka, beberapa bulan setelah saya meninggalkan bangsal dengan penyakit serupa. Saya sadar, tidak sehelai daun pun jatuh tanpa seizin-Nya, dan tidak satu hal pun yang terjadi pada saya melainkan sudah digariskan-Nya. Saya tidak ingin menyalahkan semangat saya untuk berempati pada pasien, tapi saya belajar, bahwa saya juga harus sehat sebelum menolong orang. Dan bahwa ketelitian yang saya terapkan untuk pasien, sepatutnya juga menjadi kebiasaan saya sendiri.

Setelah diagnosis itu, saya memperburuknya dengan meminum obat tanpa menelitinya lebih jauh lagi. Saya tidak teliti. Tidak menyadari bahwa ada kesalahan penulisan etiket, rupanya obat yang diberikan pada saya adalah 3x lipat dari dosis terapi yang tertulis di resep. Seharusnya saya meminum hanya satu butir setiap kali, namun di etiket tertulis 3 butir, dan saya percaya tanpa memeriksanya kembali. Kondisinya bertambah buruk. Tidak terbayangkan sama sekali. Dan saya tidak ingin mengingatnya dengan bercerita di sini.

Butuh waktu lama bagi saya untuk memahami apa makna di balik kejadian tersebut, yang pada akhirnya membawa saya pada rentetan kejadian lain yang sama sekali tidak terduga. Butuh waktu lama bagi saya untuk menerima ketika jalan hidup berbelok tiba-tiba. Dan ketika semua telah kembali normal, saya memutuskan, paling tidak ada satu hal yang saya pelajari dari sana. Bahwa memang benar tubuh kita punya hak atas diri kita, dan bahwa tindakan proteksi diri bukan berarti kita tidak menghargai pasien, tapi untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas yang disebabkan oleh diri kita.

Sepele mungkin, tapi betapa susah payah saya mendapatkannya.

Iklan

10 comments

  1. Tan, aku baper bacanya masa… baper banget… terus bapak guru itu gimana kabarnya, tan? sembuh kah? :’)
    aku suka hal-hal kecil yang bermakna gitu lewat sudut pandang dokter di sini. menghangatkan hati…

    Suka

  2. Tan, aku jadi baper. Dan aku jadi dilema. Hiks.
    Btw Tan, menjawab pertanyaan Tansis pada postingan yang kukoment sebelum ini (aku lupa yg mana. Wkwk), aku juga ikutan challenge ini. Wes gitu tok. Hahaha.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s