The Cuckoo’s Calling: untuk dikunyah lama dan pelan-pelan

Sebetulnya saya bukan jenis orang yang mengulas buku dengan detail setelah membaca. Sering kali komentar saya hanyalah satu kata atau kalimat sebagai kesan keseluruhan yang saya tangkap dari bukunya. Mirip-mirip endorsement yang suka ada di cover belakang:

“Mesmerizing! – New York Time Bestseller”

Semacam itu. *padahal sih karena males nulis aja*

Tapi, ini salah satu buku yang masih terbayang-bayang bahkan lewat beberapa bulan setelah dibaca. Jadi, di tengah kekeringan buku yang tengah saya alami, saya memutuskan untuk mengenang buku ini sebagai salah satu cara untuk mengisi blog.

Ya begitulah. Jadi, sesuai kebiasaan, mungkin saya akan memulainya dengan kesan keseluruhan:

Overall buku ini mengingatkan saya pada kembang tahu, yang agak alot tapi kalau dikunyah pelan-pelan ya enak juga. Atau roti pita. Atau fillet dada ayam yang cuma dipanggang dengan bumbu garam dan merica. Enak. Tidak hambar. Tapi juga tidak bikin greget seperti makan rujak, atau rendang, juga tidak seperti jus alpukat yang menenangkan.

Buku ini meminta untuk dihabiskan, tapi dengan cara yang pelan dan tidak penuh gusto.

 

Ia cukup menghibur, ada sensasi lega setelah membacanya, sebagaimana setelah menonton film-film thriller. Walau ketegangannya tidak seintens itu. Dan sebagaimana buku maupun film crime thriller pada umumnya, ini bukan jenis genre yang penuh take home message tentang moral atau kehidupan. *Kecuali pelajaran untuk selalu waspada karena kejahatan bisa ada di mana saja, waspadalah, waspadalah!

Lagi, sebagaimana genre thriller pada umumnya, ia juga bukan jenis yang enak untuk dibaca berulang kali, karena kita sudah tahu ceritanya, dan tidak ada hal mendalam untuk dikupas lebih jauh.

Itu kurang lebih kesan saya setelah membaca buku ini. Sedangkan sinopsis ceritanya kurang lebih seperti ini: Tokoh utama, si detektif partikelir bernama Cormoran Strike, yang hampir bangkrut dan dipertemukan tidak sengaja dengan seorang sekretaris cerdas bernama Robin Ellacott (yang kemudian menjadi partner dan asistennya dalam memecahkan kasus), mendapat permintaan untuk memecahkan kasus supermodel terkenal yang diperkirakan bunuh diri.

Daya tarik novel ini bagi saya bukan di misteri kasusnya, tapi di karakter di tokohnya. Jadi, untuk plot dan twist cerita, walau saya cukup menikmatinya, tapi ya itu tadi, rasanya seperti fillet ayam berbumbu minimalis. Yang saya sukai justru bagaimana penulisnya memunculkan setiap tokoh dan membuat saya membayangkan karakter mereka lewat dialog-dialog yang menggerakkan cerita.

Bisa dibilang memang novel ini banyak dialognya. Begitulah cara Cormoran Strike mencari informasi. Dan begitu pula cara pembaca disuguhi plot secara pelan-pelan lewat dialog tersebut.

Karakter Cormoran Strike dan Robin Ellacott juga menarik, dan saya kira cukup sentral terhadap perkembangan cerita di seri-seri berikutnya. Saya suka bagaimana kehidupan pribadi dan latar belakang mereka terkuak perlahan-lahan. Dan justru, di situlah saya kira kelebihan JK Rowling, ia selalu bisa membuat tokoh ceritanya terasa nyata. Ia membuat saya membayangkan apa yang akan terjadi pada Cormoran Strike setelah kisah ini selesai, ya?

Dan itu pula yang membuat saya penasaran ingin membaca buku kedua dan ketiganya. Setelah selesai buku ketiga pun, terkadang saya masih membayangkan Cormoran Strike menaiki tangga di flat seberang jalan yang terlihat dari jendela saya. Membayangkan ia terpincang-pincang menyusuri jalanan untuk mengumpulkan bukti demi menguak kasus lainnya. Sayangnya rumah saya bukan di London. 😦

Jadi demikianlah, karya JK Rowling favorit saya tetap Harry Potter. Tapi saya mulai menunggu-nunggu juga petualangan Cormoran Strike berikutnya.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s