Now Reading-Go Set a Watchman

Atticus Finch mungkin adalah sosok ayah yang saya rawat diam-diam dalam hati. Tanpa menyadari bahwa ia telah menjadi begitu dekat dan nyata, hingga pagi ini.

Saya menangis. Menangis seperti seorang anak yang lama tak bertemu orang tuanya, dan menemukan kini tangan mereka telah keriput dan bergetar.

Entah sudah berapa lama saya tidak bertemu Atticus Finch. Jika mengikuti buku ini, dua puluh tahun sudah sejak terakhir saya mendengar kabarnya. Jika mengikuti kalender saya sendiri, mungkin sepuluh tahun, sejak entah 2007 atau 2008, saat pertama kali berkenalan dan menamatkan kisahnya. Dan kini, ketika saya menemukannya lagi, dengan artritis rheumatoid, membayangkan ia tengah duduk di ruang tengahnya yang remang, sosoknya menjadi begitu rapuh dan mundane. Ia manusia biasa yang tidak bisa luput dari jerat waktu.

Dan bayangan saya tentang sosok ayah idola yang tak terkalahkan, tempat semua teladan, tempat seorang anak mendongak dan selalu mendapatkan keteguhan, mendadak sedikit pudar. Tidak. Tidak pudar dalam kekecewaan, namun lebih bergeser menjadi perasaan kasih, simpati, dan keinginan untuk balas memberi.

Saya menangis dan menangis. Untuk sosok yang bahkan tidak berwujud di dunia yang saya tempati. Pada akhirnya saya sadar, mungkin saya hanya teringat orang tua sendiri. Mungkin tidak sanggup membayangkan andai setelah berpisah sekian lama lalu saya menemukan mereka dengan sosok yang rapuh dan bergetar. Tidak. Saya harus berhenti. Karena mata saya bertambah basah. Semoga Allah selalu menjaga beliau berdua. Aamiin.

Yang jelas, pagi ini saya menyadari, bahwa Harper Lee telah menciptakan tokoh dengan karakter yang begitu kuat membekas dalam benak saya. Setidaknya di bukunya yang pertama.

Saya belum tahu kelanjutan kabar Atticus di buku ini. Saya berhenti di halaman 20, dan memutuskan akan membacanya esok hari di perjalanan ke Amsterdam. Besok saya akan menemui seorang kenalan yang konon tengah liburan. Ada banyak waktu untuk membacanya di kereta dengan total perjalanan bolak-balik selama empat jam.

Saya tahu, saya menunda cukup lama untuk membaca buku ini, karena tidak ingin kecewa dengan bayangan Atticus yang telah saya bentuk sendiri dari buku pertamanya. Tapi, setelah membaca sekilas tentang kabarnya, saya tak bisa tidak ingin tahu lebih banyak lagi. Semoga dia baik-baik saja.

Sekarang ini, saatnya saya menelepon kedua orang tua yang saya kasihi, yang juga telah lama belum saya temui. Doa saya lebih kencang dari sebelumnya, semoga, semoga mereka baik-baik saja dan selalu dijaga-Nya.

 

*gambar diambil dari sini

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s