Tentang berbasa-basi dan menjadi dewasa

Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang menjaga kesopanan. Tempat para perempuannya ramah dan para lelakinya menjaga wibawa. Tempat citra dijunjung penting dan masalah hanya ada di dalam rumah. Saya jadi teringat sebuah kutipan entah dari mana, bahwa seseorang di atas usia tertentu bertanggung jawab menjaga ekspresi wajahnya. Mungkin itulah yang disebut dewasa?

Saat masih kecil saya tidak peduli dengan aturan-aturan semacam itu. Ketika saya menemukan orang yang menyebalkan, saya menunjukkan ekspresi apa adanya; tidak suka. Saat saya kesal, marah, sedih, semua tergambar begitu saja, tidak ada saringannya. Saya bisa berteriak, mengernyit, menangis, di mana saja, di luar ruang pribadi saya.

Beranjak besar sedikit, saya juga tidak ingin menyembunyikan ketidaksukaan di balik wajah manis dan ramah. Saat itu saya pikir, cukuplah memasang wajah datar dan bicara seperlunya, tidak perlu bersikap manis kalau memang tidak suka.

Ketika saya menempuh pendidikan, lini yang saya ambil tidak sepenuhnya membutuhkan basa-basi pada para dosen dan petinggi. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menjaga idealisme dan tidak banyak basa-basi. Sopan tetap perlu, tapi tidak sampai berlebihan. Setelah mendapat bimbingan, misalnya, saya tidak perlu memasang wajah terkagum-kagum dan hyper-antusias atau berulang kali mengamini pendapat seorang profesor yang membimbing dengan berkata:

“Njih Prof, betul sekali apa yang Profesor bilang, saya salut terhadap Prof, yang selalu menjaga keilmuan, saya sungguh beruntung diajari Prof, semua yang Prof katakan benar adanya, benar sekali bahwa sitokin anu akan beresepon positif pada mediator anu…aduh, saya sendiri tidak terpikir sampai ke sana, Prof, ampunilah ilmu saya yang masih cetek ini.”

Memang ada di antaranya yang ingin diperlakukan seperti itu, bahkan terkadang sampai harus pedekate dengan cara membawakan makanan atau mengantar jemput. Tapi, kebanyakan dari mereka tidak menjadikan itu alasan untuk berlaku tidak adil pada orang yang tidak melakukannya.

Bagi orang-orang yang melakukannya pun, menurut saya tidak masalah. Mungkin ada orang yang merasa begitulah cara mereka menunjukkan rasa hormat pada gurunya.

Tapi, saya selalu berpikir, jika saya melakukannya dengan maksud tertentu, tentu tidak tulus namanya, dan lebih baik saya tidak melakukannya. Cukup seperlunya saja. Saya menyapa beliau saat bertemu, mendengarkan ilmu-ilmu yang beliau berikan dan berusaha menerapkannya, serta berusaha meneladaninya, tanpa banyak bicara.

Tapi, ketika dewasa, kelihatannya lebih banyak orang yang terganggu ketika kita tidak banyak bicara. Mendiamkan seseorang yang sedang bersama kita bisa dianggap tidak sopan. Padahal sejujurnya, saya memang sulit membuka pembicaraan, dan juga tidak terbiasa menemukan topik ringan sekadar untuk berbasa-basi.

Untunglah pekerjaan saya menuntut saya untuk berbasa-basi bukan karena demi kepentingan saya sendiri, atau sekadar demi keramahan saja, tapi memang untuk tahu lebih dalam tentang lawan bicara–yang dalam pekerjaan saya adalah seorang pasien. Sehingga saya merasa terbantu untuk belajar dari situ.

Saya merasa sudah cukup jadi orang dewasa yang bisa berbasa-basi dan menjaga mimik muka sampai beberapa tahun ke belakang. Tapi rupanya belum.

Berkali-kali saya mendapat teguran, “Yang profesor saja kalau ngomong sama saya itu “njih-njih” dan menghargai kok, kamu malah menyepelekan.”

Padahal saya sungguh tak ada niat menyepelekan, hanya saja saya memang tidak bisa terlihat antusias dan berbinar-binar mengagumi, bahkan ketika saya sangat kagum sekalipun. Saya hanya mengangguk-angguk speechless dan tersenyum, mengiyakan, dan mencoba mencatatnya dalam hati.

Atau terkadang, “Nggak kepikiran untuk melakukan ‘anu’ ya, sampai harus diingetin dulu.” *dengan ‘anu’ sebagai perbuatan yang menunjukkan kesopanan dan tatakrama, misalnya, membawakan buah tangan, menjemput, mengucapkan selamat, dsb.

Padahal, kadang saya sudah berniat jauh sebelum diingatkan. Tapi ketika diingatkan saya hanya mengiyakan, merasa tidak perlu untuk berpanjang-panjang menjelaskan bahwa “Iya kok, aku juga sudah kepikiran kok, udah lama mau melakukan itu kok, dsb.” Toh saya memang sudah berniat dan tidak merasa perlu untuk berkoar-koar.

Selain perlu berbasa-basi, sepertinya semakin banyak pula yang perlu diutarakan dengan kata-kata, ketika kita sudah ‘dewasa’. Mungkin, sebagai orang dewasa, kita semakin sulit menangkap maksud baik seseorang, sehingga orang tersebut perlu menerangkan sedetail-detailnya bahwa dia bermaksud baik.

Mungkin sebagai orang dewasa kita semakin perlu banyak menjelaskan dan bicara kepada orang lain, karena kita sendiri juga semakin sulit untuk mengerti dan memahami. Karena mungkin nurani kita tidak setajam dulu lagi.

 

*gambar dari sini

Iklan

4 comments

  1. Aku suka jugaaa…terutama dialog minta maaf ke profesor itu. Astaga ngakak, Tan. Eh, maaf sebelumnya atas ngakak saya ya, Tan. Maaf kalau saya tidak sopan dengan ngakak seperti ini tapi memang tulisan ini benar-benar lucu dan menghibur. Tidak pernah ada niat ngakak untuk tidak menghormati Tan Sis yang lebih tua, tapi ngakak saya ini lebih karena saya menyadari bahwa tulisan Tansis penuh inspirasi. Sekali lagi maaf ya, Tan kalau ngakak ini mungkin tidak sesuai dengan adat ketimuran yang Tansis junjung tinggi. *terdrama*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s