Tentang Ngeblog Resep (dan blog ini)

Usia blog ini sudah tua, tapi masih tidak jelas arah tujuannya. Dari zaman alay ketika saya masih menganggap bahwa blog cuma diari yang pindah, hingga zaman sekarang ketika isinya sudah bertambah menjadi curhatan yang lebih ga penting lagi beberapa tema.

Di awal-awal memang saya membuat blog untuk sekadar meninggalkan jejak *jadi inget heading blognya blacklazy yang sering saya kunjungi. Untuk mencatat lintasan-lintasan pikiran, sekadar ngedumel, menuliskan pertanyaan-pertanyaan, mencatat hal-hal yang saya lihat dan lalui, dalam bentuk yang paling mentah. Alias setumpahnya dari ujung jari. Kadang dengan tanda baca yang masih berantakan, dan struktur kalimat yang hanya-Tuhan-Yang-Tahu artinya. Karenanya, bertahun-tahun sejak blog ini dibuat (kesannya udah lama banget) saya tidak berusaha berbagi link-nya kecuali dengan satu orang terdekat.

Setelah sekian lama, saya bergabung dengan sebuah komunitas penulis yang rutin mengadakan writing challenge. Kalau tidak salah sekali seminggu pada waktu itu. Karena malas bikin blog lagi, akhirnya saya gunakan blog ini (walau ikut challenge-nya cuma 2-3 kali). Lalu beberapa saat kemudian saya pakai blog ini untuk resensi buku. Kemarin-kemarin, sewaktu ada 30 days writing challenge, eh saya pakai juga blog ini untuk mencatat resep. Saya merasa semakin kehilangan arah. :’)

Sewaktu mulai mengumpulkan resep, niat awalnya untuk mempermudah belajar. Karena saya memang cenderung cepat bosan, setelah mencoba resep sekali biasanya malas mencobanya lagi sampai beberapa bulan ke depan. Lalu, ketika mau membuatnya lagi malah sudah lupa. Akibatnya tetap nyontek gugel, nyari-nyari lagi, dan terkadang tidak menemukan resep yang sama. Apalagi, sering kali resepnya saya otak-atik sendiri, lalu lupa apa yang dilakukan waktu itu.

Menjelang kelar writing challenge 30 hari, saya jadi berniat memisahkan resep-resep ini di satu blog sendiri. Saat itulah saya teringat blog-blog masakan yang sering dikunjungi saat pertama belajar masak, yaitu blognya Teh Ricke Indriani, Mbak Diah Didi, dan Just Try and Taste. Ketiga blog itu nempel terus di ingatan. Kalau Mbak Ricke karena di blog beliaulah saya pertama kali menemukan resep angeun kacang beureum, makanan kesukaan saat saya kecil, kalau dua yang lain karena namanya ear catchy dan resepnya banyaaak banget di sana.

Tadinya lihat ke sana untuk mencari inspirasi bagaimana caranya membuat blog resep yang baik dan benar, yang ada saya malah jadi ciut dan pingin ngumpet di balik wajan. Setelah bertahun-tahun tidak menengok blog-blog tersebut, ternyata beliau-beliau ini masih terus konsisten menulis, menyajikan inovasi resep, lengkap dengan foto step by step, juga foto hasil akhir yang alamak amboy indah dan ciamik menggugah rasa. *apasih bahasa saya >.<

Dipikir-pikir, saya sepertinya belum siap konsisten mengisi konten resep masakan. Terkadang ingin curhat, terkadang ingin cerita tentang buku, dan terkadang cuma ingin mengurai apa yang berdesakan di kepala. Juga, terkadang saya malas masak dan hanya nyeplok telur.

Jadi, pada akhirnya saya urung memisahkan resep dan membuat blog ini agak lurus tujuannya. Biarlah tetap campur aduk begini adanya. Saya juga belum sanggup menyiapkan konsep yang lebih serius, motret dilengkapi properti keren dan ilmu-ilmu fotografi biar terlihat lebih aduhai, serta menyempatkan diri memotret setiap kali masak. Ternyata ribeeet ih 😄 apa mungkin saya aja yang malas, dan inginnya langsung Hap! dimakan.

Saya juga takut tujuan awalnya yang sederhana (untuk mencatat) malah jadi terlupakan karena saya terbebani untuk menyiapkan konten yang bagus sebelum publish. Buktinya masih banyak resep-resep yang belum saya tulis karena lupa memotret saat habis masak. apalagi kalau masaknya ditungguin perut lapar. Di pikiran saya, ah nanti saja nyatetnya, belum ada fotonya ini. Lalu ketika mau masak lagi, saya sibuk nginget-nginget, dulu pake apa aja dan gimana caranya. Kemudian akhirnya pake cara coba-coba dan berbeda dari hasil sebelumnya. Mending kalo enak, kalo gagal ya kzl.

Terus kenapa nggak di instagram aja?

Yang paling jujur sih karena saya malas ngetik panjang-panjang dengan ponsel. 😄 Apalagi mungkin saya masih perlu mencatat hal-hal sepele (misalnya, oh souffle dengan yoghurt kemarin waktu panggangnya perlu ditambahin 3 menit karena adonannya cenderung basah, dll) yang saya temukan saat memasak, dan kayaknya kepanjangan untuk ditulis di sana. Selain itu, tidak semua resep yang saya buat hasil akhirnya cukup layak buat difoto, tapi kegagalannya tetap cukup penting buat ditulis. 😄

Begitulah, jadi mungkin blog ini akan tetap tidak jelas, tapi saya coba tuk menerimanya apa adanya. Mencoba untuk hidup dengannya dan menemuinya setiap hari untuk bercerita hal baru, tanpa terhalangi beban untuk memolesnya di sana-sini. Yang penting sekarang, belajar untuk terus mengakrabinya dulu. 🙂

Salam sehat dan semangat dari saya yang habis makan mie rebus pakai nasi!

*Postingan ini ditulis karena kemarin bolos ngeblog dan review buku untuk hari ini belum selesai dibaca

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s