Tentang kendali dan melabeli

Pagi ini saya berpikir tentang sebuah kotak. Kotak itu diberi tulisan besar-besar yang terbaca ANJING–no offense, saya hanya melihat seekor anjing melompat-lompat dengan girang ketika menulis ini. Kembali lagi ke kotaknya, kotak tersebut lebih mirip celengan. Berwarna hitam, tertutup, tidak transparan. Ia ditaruh di pinggir jalan. Di sebuah tempat yang terlihat dengan mudah. Semua orang bisa melihat kotak ini dan tulisan ANJING yang tercetak besar-besar di dindingnya.

Semua orang yang lewat bisa memasukkan sesuatu ke dalamnya, tapi tidak ada yang bisa melongok apa saja isinya. Mirip kotak amal yang diedarkan. Tidak tahu apakah kita memasukkan 100 rupiah atau 100 ribu. Bedanya, semua orang setuju bahwa segala yang ada di dalam kotak ini adalah anjing.

Semua yang masuk ke sana adalah anjing.

Bagi saya, yang hidup di lingkungan di mana kata tersebut adalah makian, menuliskannya berkali-kali saja membuat saya sedikit berjengit. Mendadak saya merasa jadi orang yang kasar dan sedang ingin mengumpat. Namun, saat itu juga saya berusaha rasional, bukankah itu hanya sebuah kata?

Tapi sebuah kata bukanlah hanya. Sebuah kata kadang sungguh berdaya. Baik untuk membangun maupun membungkam.

Tadi pagi, setelah sebuah diskusi kecil dengan Asmira Fhea, saya jadi teringat George Orwell dengan 1984-nya. Di mana rezim yang berkuasa di sana tak lagi tertarik pada nuklir dan senjata pemusnah masal. Mereka berkuasa dengan kata-kata. Mereka memegang kendali lewat bahasa. Mereka mengontrol pikiran jutaan orang dan menciptakan masa kini juga masa depan, sepenuhnya dengan kata-kata.

Mereka menjejalkan makna ke dalam kata-kata, menjejalkan peristiwa yang tidak ada, atau menghapus fakta-fakta yang justru nyata, dari dan ke dalam kata-kata. Kemudian, dengan menggunakannya berulang-ulang seperti mantra, tidak ada lagi yang peduli apa isi/makna dari kata tersebut sebenarnya.

War is Peace

Freedom is Slavery

Ignorance is Strength

Itu salah satu contohnya. Perang adalah kedamaian. Kebebasan justru adalah perbudakan. Dan ketidaktahuan adalah kekuatan. Semakin sering kata itu bergaung, semakin kuat orang percaya.

Maka, orang-orang yang menginginkan jiwanya bebas dari doktrin penguasa justru adalah orang-orang yang merelakan diri mereka lapuk didera kelelahan, orang-orang yang mengklaim bebas justru adalah orang yang terbelenggu dengan pikiran, tidak seperti orang-orang yang tunduk dan patuh pada penguasa, yang mana hidup mereka justru lebih tenang dan bahagia. Maka, kebebasan menjadi kata yang buruk dan tabu. Dan mereka yang dilabeli pejuang kebebasan adalah orang yang menjijikkan. Hingga pada akhirnya, orang-orang dengan dengan sendirinya tidak mau memikirkan kebebasan, tanpa  harus dipaksa.

Tidakkah ini kita lihat juga sekarang? Bahwa melekatkan makna ke dalam kata-kata, kemudian menempelkan kata itu pada seseorang, tak peduli sesuai atau tidak, membuat orang-orang menilai tanpa benar-benar melihat, dan membuat orang yang dilabeli terpasung ruang geraknya.

Ibarat memasukkan apapun yang bukan anjing, ke dalam kotak berlabel anjing.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan kata anjing, tapi konotasi yang terbentuk membuat kita memikirkan hal negatif. Dan pada akhirnya, keberadaan kotak itu, keberadaan label itu, dengan sendirinya memperkuat kesan negatif bagi orang-orang yang dilabeli dengan kata tersebut.

Sama halnya ketika orang-orang melekatkan makna buruk pada kata ‘fundamentalis’, menjadi identik dengan teroris. Dengan sendirinya, orang-orang takut dilabeli sebagai fundamentalis, takut bahkan untuk sekadar belajar dan melihat-lihat. Padahal fundamentalis sendiri awalnya hanyalah kata yang netral.

Sama juga dengan label ‘cupu’, atau ‘baperan’, yang lebih sering digunakan anak-anak muda jaman sekarang. Ketika siapa saja yang posisinya lebih dominan dalam pergaulan, melekatkan makna-makna negatif pada kata di atas, maka kata itu pun jadi alat untuk melabeli, mengkotakkan, dan membatasi ruang gerak orang yang dilabeli.

Padahal, apa yang salah dengan menjadi cupu? Di belahan dunia lain, orang-orang cupu itulah yang memimpin peradaban.

Dan, apa salahnya menjadi baperan? Dalam konteksnya yang netral, orang-orang yang mudah terbawa perasaan adalah orang yang peka dan bisa berempati. Bukan tak mungkin Bunda Theresa dahulu adalah orang yang akan diledek baperan oleh teman-teman sepermainannya jika ia hidup zaman sekarang.

Jadi, bagi yang terlanjur dimasukkan ke dalam kotak hitam berlabel apapun, tidak perlu takut, mari keluar dan lihat dunia. Akan ada banyak tempat di mana label itu dilekati makna berbeda. Tempat di mana kita bisa berbuat hal lebih berguna dengan apa yang ada dalam diri kita.

 

Iklan

6 comments

  1. Setuju, Tan. Melabeli seseorang yang tidak dominan di lingkungan pergaulan, apalagi jika itu adalah label yang negatif bisa menjatuhkan citranya, merusak reputasinya, dan membatasi ruang geraknya. Bahkan label yang positif pun bisa menyulitkan. Jadi memang sebaiknya stop melabeli seseorang.

    Suka

  2. aaak namaku disandingkan sama George Orwell 1984 dan bukunya nggak ada di Ijak…
    aku dilemaaaa… :’)
    terus baca ulasan tansis tentang 1984 ini bikin aku makin kepo. aaaaaakkk…
    *berharap ada malaikat di rekening atm*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s