Gadis Jeruk – Kisah tentang kebetulan dan semesta

Membaca kisah-kisah Jostein Gaarder mungkin adalah membaca kebetulan. Kebetulan-kebetulan yang kemudian terjelaskan, karena memang sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan. Atau yang belum terjelaskan, karena tidak semuanya bisa kita ketahui sekarang. Atau yang terjelaskan dengan berbagai cara, karena setiap orang mengalaminya dengan berbeda.

Saya tidak begitu ingat kebetulan-kebetulan yang dialami Sophie Amundsen dalam buku beliau yang lain, Dunia Sophie. Tapi, ketika membaca Gadis Jeruk, ada ‘kebetulan’ yang sama yang saya rasakan ketika membaca Dunia Sophie. Atau mungkin memang karena penceritaannya yang mirip, lewat surat yang disampaikan pada seorang remaja yang tengah mengalami pencarian.

Kebetulan-kebetulan itu awalnya terasa biasa, atau malah terlalu klise. Misalnya ketika sang tokoh remaja membaca surat dari ayahnya yang lama tersimpan belasan tahun lalu, sejak sebelum sang ayah meninggal, dan di surat itu ayahnya bertanya tentang teleskop Hubble, di saat yang sama persis setelah si anak membuat essay tentang teleskop Hubble dan mendapat pujian dari gurunya. Mengapa begitu bertepatan? Adakah alasan?

Semula saya kira kebetulan-kebetulan itu ada hanya demi jalan cerita, tapi di akhir, saya merasa bahwa itu semua demi makna. Andai ia cuma ada untuk menggerakkan cerita, mungkin saya akan kecewa, tapi setelah selesai membaca, saya merasa mendapat sesuatu darinya. Tentang keberadaan manusia, tentang usia dunia, tentang sebuah pilihan untuk membuat hidup tidak sia-sia.

Dan karena itulah, semua kebetulan yang awalnya membuat saya mengernyit saat membaca–misalnya pertemuan-pertemua kebetulan dengan si Gadis Jeruk, mengapa saat bertemu ia kebetulan selalu membawa jeruk–menjadi terlupakan.

Pada akhirnya, saya menyukai sikap buku ini terhadap ‘pertanyaan-pertanyaan besar manusia’. Yakni dengan membiarkan kemungkinan jawaban lain tetap ada.

Aku tidak pernah membiarkan Newton atau Darwin mencerabut selubung misteri kehidupan.

Demikian kata sang Ayah dalam suratnya. Walau ia juga menegaskan bahwa ia adalah ilmuwan, yang sama sekali tidak menolak sains. Tapi juga masih menyisakan ruang untuk pandangan yang mistik tentang dunia.

Bisakah aku memastikan tidak ada kehidupan lain setelah kehidupan ini?” tulis sang ayah, “Bisakah aku benar-benar yakin bahwa aku tidak berada di tempat lain ketika kamu membaca surat ini? Tidak. Aku tidak bisa mengesampingkan kemungkinan itu. Karena dunia ini ada, maka batas-batas kemungkinan telah dilampaui.

Ruang angkasa juga sudah sangat tua, mungkin lima belas miliar tahun umurnya. Namun, tak seorang pun mengetahui dengan pasti bagaimana ia dibuat. Kita semua tinggal dalam sebuah dongeng besar yang tak dimengerti oleh siapa pun. Kita menari, bermain, bercengkerama, dan tertawa, dalam dunia yang asal-usulnya tidak bisa kita mengerti.

Jadi, siapakah gadis jeruk? Mengapa ia membawa jeruk? Dan apakah itu merupakan pertanyaan yang tepat untuk buku ini? Tak ada yang lebih baik untuk menjawabnya selain menemukannya sendiri. πŸ™‚ Kalau teman-teman pembaca seperti saya, yang kadang suka menilai buku sembarangan di awal-awal, cobalah bertahan dulu dengan buku ini sampai akhir. Jangan seperti saya yang dulu pernah menyerah dan tidak meneruskannya, karena ternyata bagian terbaiknya ada di ujung, tapi juga tak akan terasa maknanya jika tidak kita tapaki sendiri dari awal. πŸ˜‰

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s