We Were Liars – E. Lockhart

Membaca judulnya, juga membaca beberapa ulasan yang cukup antusias, membuat saya membayangkan sebuah kisah besar dalam buku ini. Paling tidak, sebuah kisah yang gemanya universal. Mungkin karena kata “We” di buku ini membuat saya merasa diajak terlibat dalam kisahnya, dan mengira bahwa kisah ini akan punya cukup resonansi di kehidupan banyak orang.

Entah karena ekspektasi saya yang meleset, atau karena memang sedang ‘kering’, saya merasa tidak bisa menikmati buku ini. Tidak dari segi karakter, tidak dari segi jalan cerita, tidak dari segi narasi, juga tidak dari pesannya. Tapi, memang dari segi jalan cerita sangat terasa bahwa penulis menjalinnya dengan baik. Menyebar clue sedikit-sedikit di tempat-tempat strategis, membukanya secara bertahap, kemudian membuat kejutan besar di akhir.

Sayangnya, saya merasa, bahwa semua elemen dalam cerita ini hanya hadir demi kejutan itu saja.

Karakter, tokoh utama, teman-teman, latar belakang tempat, dan latar belakang masing-masing tokoh, tidak terasa hidup dan bernyawa. Tidak terasa nyata dan meyakinkan. Mereka terasa seperti hanya seperti alat. Hanya seperti pion-pion kaku yang digerakkan oleh mesin mengikuti pola tertentu. Polanya memang rapi sekali. Meminjam istilahnya Heru, manuver-nya rapi dan terukur.

Tapi, justru di situ yang jadi terasa tidak alami. Sepanjang membaca saya terus-terusan curiga bahwa ada maksud tertentu di balik cerita ini, ada maksud untuk mengejutkan di ujung sana. Jadi, ketika plot twist itu terbuka, saya tidak merasa terpesona. Mungkin karena kebanyakan curiga kali, ya. #eh

Mungkin akan lain ceritanya jika di balik plot twist, atau di balik misteri yang terbuka di akhir itu ada makna lain. Misalnya seperti dalam The Orange Girl yang baru-baru ini saya baca. Di awal terasa sekali penggalan-penggalan ceritanya seperti alat untuk mencapai efek tertentu. Cara bercerita yang dibuat misterius, seolah sengaja menyimpan identitas si Gadis Jeruk untuk efek kejut. Juga, kebetulan tentang teleskop Hubble yang membuat saya merasa janggal. Tapi, di akhir, ternyata bukan di situ poin pentingnya. Bukan di identitas si gadis atau teleskop Hubble, tapi ada pesan lebih jauh yang ingin disampaikan.

Sementara di kisah ini, grand-nya berhenti di plot cerita. Tidak masalah sih sebenarnya. Kisah seperti akan cukup menghibur jika bisa terhanyut di dalamnya. Sayangnya, saya juga tidak merasa karakter tokoh utamanya cukup simpatik untuk menarik saya ke dalam kisahnya. Karakternya terlalu ‘Princess’ bagi saya. Dan tokoh-tokoh lain yang ada di sana juga hanya terasa seperti figuran yang perannya kurang penting.

Jadi, begitulah, singkatnya saya kurang menikmati buku ini. Mungkin kalau dibaca lain waktu dalam mood yang berbeda bisa beda lagi kesannya.

Sekian ulasan sangat amat subjektif dari saya. Jangan dilempar bata, ya. Ini cuma ulasan recehan yang dibuat berdasarkan perasaan. >.<

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s