Go Set a Watchman: Gerumbulan semak yang mencuat di sana-sini

Sewaktu membacanya sampai pertengahan cerita, saya masih belum menemukan kisah yang bulat dan dapat saya genggam. Namun, banyak yang masih saya nikmati dengan cara yang sama, Aunt Alexandra, misalnya. Ia adalah karakter yang konstan kesannya sepanjang cerita. Perasaan saya padanya tidak pernah berubah.

Aunt Alexandra adalah orang yang baik. Tidak ada yang salah pada sikapnya dinilai dari sudut pandang orang kebanyakan. Tapi, dia menyebalkan. Menyebalkan karena kepeduliannya pada hal-hal wajar sebetulnya. Hanya saja jadi menyebalkan karena dia bersikukuh mempertahankan kepedulian itu di saat-saat yang tidak tepat.

Misalnya ketika Jean Louise Finch melempar koper ke atas kasur dan mengepak barang serampangan, dia hanya peduli bahwa “Tidak ada Finch yang seperti itu!”, dan “Bukan begitu caranya mengepak!”. Padahal saat itu Jean Louise tengah mengalami pergolakan batin yang lebih hebat, yang mungkin lebih penting untuk diperhatikan ketimbang cara mengepak barang.

Ia sangat peduli pada norma dan bagaimana orang-orang sekitar memandangnya, ia peduli pada printilan kecil tentang bagaimana wanita harus bersikap dengan terhormat. Tidak ada yang salah mungkin, tapi entah bagaimana caranya, penulis berhasil menunjukkan bahwa sikap seperti itu terkadang hanya seperti gestur tak penting di tengah permasalahan yang lebih besar.

Walaupun di akhir cerita, saat Jean Louise menyampaikan itu pada bibinya, bahwa sang Bibi “sombong dan berpikiran sempit”, kemudian dia menangis. Saya merasa ada sesuatu di balik tangisan bibinya. Bahwa ia punya alasan mengapa karakternya menjadi seperti itu. Bahwa ia hanya manusia biasa yang berusaha berbuat semampunya dalam posisi yang dilemparkan hidup kepadanya.

Tapi, saya tetap tidak ingin jadi seperti Aunt Alexandra sih kalau sudah tua nanti. Lagipula, buku ini juga sebetulnya bukan tentang dia. Hanya saja saya belum tahu bagaimana menanggapi bagian-bagian lain dari buku ini, selain Aunt Alexandra.

Pada Jean Louise, sang tokoh utama yang telah dewasa, saya tidak menemukan kebulatan karakter seperti Jean Louise yang saya temui ketika masih kecil. Interaksinya dengan tokoh lain tetap menyenangkan untuk dibaca, celetukannya masih tajam dan kadang membuat tertawa, tapi entah mengapa ada yang…kurang konsisten (?) dalam karakternya. Entah. Saya sendiri tidak bisa menunjukkan poin-poinnya. Tapi, rasa keadilan yang dituntutnya rasanya agak naif mengingat apa saja yang mungkin telah dilakukan perempuan seusianya.

Mungkin karena itulah dulu naskah ini diminta penerbit untuk diubah ke dalam sudut pandang anak kecil. Karena nurani anak kecil lebih jernih dan lebih cocok untuk ‘menggugat’ seperti itu.

Tokoh Paman Jack masih konsisten. Dan tokoh Atticus sendiri tidak begitu mengecewakan. Ia memang tidak sempurna. Tapi masih tetap membanggakan. Ia memiliki alasan-alasannya sendiri untuk tindakannya yang kadang terlihat bertentangan, dan mungkin memang begitulah manusia. Seperti yang Atticus bilang, “Men carry their honesty in pigeonholes, Jean Louise. They can be perfectly honest in some ways and fool themselves in other ways.

Ia berusaha mengajarkan pada Jean Louise bahwa salah-benar di dunia ini tidak sesederhana yang ia kira.

Mungkin itulah yang saya tangkap dalam buku ini. Walaupun tidak sepenuhnya yakin. Karena di satu sisi, saya merasa buku ini tetap ingin mempertahankan idealisme seperti yang ditemukan dalam To Kill a Mockingbird, bahwa kesetaraan, keadilan, kejujuran, integritas, dan suara nurani, adalah sesuatu yang harus dipegang sepenuh hati. Tapi di sisi lain, saya juga melihat tokoh-tokohnya tidak ada yang dengan bulat menampilkan hal itu. Bahkan juga tokoh utamanya yang secara tepat disebut oleh salah satu ulasan sebagai–more hysterical, and register less confident – both prose and character operating as if they had something to prove.*

Saat saya mengingat kisah To Kill a Mockingbird, ada perasaan tuntas dan utuh ketika selesai membacanya, ibarat melihat semak pembatas di rumah orang yang dipangkas dengan rapi dan jelas bentuknya, bulat, kotak, memanjang. Jelas dan distinct. Sedangkan di sini, semak itu masih terlihat bentuknya, tapi masih tidak rapi dan mencuat di sana-sini.

Memang daripada disebut sekuel, buku ini lebih cocok disebut versi ‘raw‘ dari To Kill a Mockingbird. Mengingat ini adalah draft yang dibuat sebelum To Kill a Mockingbird terbit, sebelum editor meminta penulis untuk mengganti sudut pandang dan mungkin beberapa hal terkait cerita.

Bagi saya, sebagai pembaca, buku ini mengingatkan saya bahwa buku sebelumnya hanyalah fiksi. Yang ceritanya sudah diramu sedemikian rupa sehingga semua pas dan pada porsinya. Dan bahwa dengan buku ini saya bisa melihat cerita itu sebelum dipoles menjadi sebuah mahakarya yang berhasil menggugah pembacanya.

Sedangkan, bagi saya sebagai pengkhayal, yang sering membayangkan bahwa Atticus, Scout, dan Jem benar-benar ada, saya merasa lebih baik berpura-pura bahwa buku ini tidak pernah ada. Lagipula, sosok final Atticus toh adalah sosoknya dalam To Kill a Mockingbird yang telah dibentuk selama dua tahun proses pematangan oleh penulisnya. Bukan tokoh Atticus di buku ini yang merupakan draft awal sebelum mengalami proses pengeditan menjadi To Kill a Mockingbird.

Jadi, begitulah, saya masih meyakini bahwa seseorang bisa menjadi seteguh Atticus, saya masih meyakini bahwa di dunia ini ada orang yang berintegritas sekuat Atticus, dan yang berpegang pada nuraninya sampai mati. Iya, saya naif ya. XD

 

*gambar dan kutipan berasal dari sini

Iklan

4 comments

  1. ‘mentah’. beklah.. sepertinya penerbit emng mempertimbangkan buku ini terbit agar penggemar harper lee bisa melihat bagaimana proses itu bisa mengantarkan pada hasil yg jauh lebih baik. Tapi buat penggemar Tokoh2 dalam To Kill A mockinbird sendiri, buku ini bisa mrnghancurkan imajinasi mereka yg sudah terlanjur hidup. Saya jadi takut bacanya…

    Suka

  2. Aku juga termasuk golongan yang naif, Tan karena aku kecewa dengan Atticus di buku ini. Aku pengennya, dia masih Atticus yang sama. Mungkin aku juga harus berpura-pura tidak membaca buku ini supaya dia tetap sempurna, tapi kayaknya sulit >,<

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s