Tentang Tangga dan Bertetangga

Pengalaman saya dengan tetangga tidak begitu banyak. Sampai usia dua belas tahun saya tinggal di kampung yang masih erat kerukunannya antar tetangga, tetapi saat itu masih kecil jadi tidak mengalami interaksi secara langsung. Ketika tinggal di kota (baca: Depok pinggir), hanya tiga tahun masa SMP saya tinggal bersama orang tua. Setelah itu tinggal di asrama saat SMA. Kemudian ngekost sejak mulai kuliah sampai sekitar empat tahun lalu.

Saya sering berpikir, kalau nanti kami sekeluarga sudah settled tinggal di suatu tempat, saya ingin mengunjungi tetangga-tetangga dan mengirimkan sesuatu, seperti di film-film saat sebuah keluarga menempati rumah baru. Akhir tahun lalu, saya bermaksud mengirim sesuatu pada tetangga flat, sekalian berkenalan, tapi suami yang telah bertahun-tahun lebih dulu tinggal di sini sepertinya kurang merespon. Saya pikir mungkin budaya saling berkunjung kurang umum di sini, lagipula menerima sesuatu dari orang tidak dikenal mungkin risih, ya? Bagaimana kalau isinya bom, atau makanannya diracun? #eh

Jadilah saya urung berkunjung, paling-paling hanya bertegur sapa kalau kebetulan bertemu. Paling banter mengenalkan nama kalau ada paket atau surat yang nyasar ke rumah, kemudian saya antarkan ke alamat sebenarnya. Mereka ramah-ramah dan baik. Selalu kelihatan antusias menyambut bila saya menyapa atau bertanya sesuatu.

Intinya saya tidak merasa ada masalah hidup bertetangga di sini. Lagipula sepertinya orang-orang western cenderung mind their own business dan tidak suka usil melihat kehidupan orang lain, begitu saya pikir. Sampai tadi pagi, saya dilabrak seorang tetangga! 😄

Literally dilabrak, dengan bunyi bel yang dipencet berkali-kali secara tak sabar, dan nada suara yang tinggi serta raut muka marah.

Ceritanya begini, tadi pagi saya membersihkan tangga. Sekitar pukul tujuh kurang sedikit. Tangga di rumah saya berbatasan dengan dinding tetangga di sebelah kiri. Nah, saya membersihkannya dengan sapu, karena–seperti sudah berkali-kali saya tulis di blog ini–saya sangat tidak suka suara berisik. Menyalakan keran di kamar mandi pun saya ogah karena berisik. Jadi saya paling anti menyalakan vacuum cleaner.

Bahkan di awal-awal pindahan, saya pernah tidak membersihkan lantai selama dua minggu karena hanya ada vacuum cleaner dan tidak ada sapu.

Namun, rupanya, entah bagaimana, suara sapu itu mungkin lebih berisik bagi mereka? Atau mungkin suara langkah kaki saya di tangga? Atau entah apa.

Oh, ya, rumah-rumah di sini rata-rata menggunakan pelapis karpet agar tidak dingin. Sedangkan rumah kami sebagian besar menggunakan laminat yang bisa dipel–salah satu alasan kami tidak memasang karpet juga karena cara membersihkannya harus divacuum, dan saya kurang suka. Namun, di bagian tangga, memang tetap menggunakan karpet, dan karenanya saya harus menggunakan lebih banyak tenaga agar si sapu (yang bentuknya lebih mirip sikat itu), bisa mengangkat debu yang menempel. Mungkin suara menggosok itu yang mengganggu. Walau menurut saya sih tetap jauh lebih berisik vacuum cleaner.

Jadi, begini percakapan saya dengan ibu tetangga tersebut.

Saya: Hi, what can I help?

Tetangga: Good morning. (dengan wajah menahan emosi)

Saya: Yes? (berusaha ramah padahal mulai cemas lihat muka si Ibu)

Tetangga: This morning (telunjuk mengarah ke lantai), at six fifty (matanya menatap saya lurus-lurus), YOU WAKE ME UP!

Saya: Oh! (langsung tergagap, kaget) I-I’m so sorry… I was cleaning up the stairs…

Tetangga: Ja, but you do it every morning! So noisy! You wake me up every morning!

Heeeeee??? Saya langsung mengerut. Antara kaget sama heran sih. Kaget karena dia ngomongnya benar-benar pakai ekspresi marah. Matanya tidak lepas-lepas mengintimidasi saya seperti seorang bos sedang memarahi bawahan.

Heran karena seumur-umur tinggal di sini, baru pertama kali inilah saya bersihin tangga.

Kalau ngikutin impuls mah saya pingin langsung protes, “Hey, saya baru kali ini bersihin tangga! Kemarin-kemarin ga pernah, maksud loe apa?” #eh

Tapi akhirnya urung, masih agak gelagapan, saya berusaha nanya, “Oh, every morning? Hmm…(nyari kata-kata) sekitar jam berapa kira-kira, dan suara apa yang Anda dengar, biar saya bisa menguranginya?”

Si tetangga, “Mana saya tahu! Your… (dia memeragakan langkah kaki dengan kedua tangannya yang digerakkan)”

Oh, my steps down the stairs?” tanya saya. Si tetangga ini umurnya kira-kira 50 tahunan, rambutnya sudah menipis, dipotong sebahu, warna pirang pudar (emang ada gitu pirang pudar XD), dan wajahnya bulat. Perawakannya tinggi, tapi badannya juga besar dan agak membulat di tengah. Mengingatkan saya pada Madame Maxime sang kepala sekolah Beauxbatons di Harry Potter, cuma beda rambut doang. Saat bicara kepalanya merunduk mendekati wajah saya, dan jujur saya agak takut juga. 😄

Dia mengangkat bahu, “I don’t know. But YOU–tangannya menunjuk saya lagi–you wake me up. EVERY. MORNING. You, know? EVERY MORNING.”

Haduh, di saat seperti ini saya sungguh menyesal tidak bisa lancar berbahasa Belanda seperti suami. Beliau akan dengan mudah memenangkan hati lawan bicaranya dengan bicara bahasa Belanda yang fasih dan sopan. 😦 Dan mungkin dengan begitu si tetangga juga bisa menjelaskan lebih detail tentang suara apa yang menggangu dia sehingga kami bisa menguranginya.

Pada akhirnya, karena saya gagal menanyakan apa yang mengganggunya setiap hari, saya cuma bisa minta maaf dan berjanji akan lebih pelan-pelan ketika beraktivitas.

Tapi, sepeninggal Bu Tetangga itu, saya sungguh jadi takut untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.

Lha wong saya yang tidak suka berisik saja sudah dianggap berisik oleh tetangga. Berarti mungkin aktivitas kecil-kecil yang menurut saya tidak berisik pun bisa terdengar ke sebelah ya? Ah, beginilah memang kalau tinggal di flat dempet-dempetan.

Sampai sekarang saya masih berpikir-pikir, aktivitas apa yang berisik di pagi hari ya? Microwave adalah benda yang paling sering saya pakai di pagi hari, klontang-klontang masak biasanya saya kurangi. Saya membiasakan batch cooking dua minggu sekali. Jadi lauk untuk pagi hari hanya tinggal memanaskan, dan sayur sudah disiapkan dari malam sebelumnya. Tidak ada bunyi blender, ngulek, pisau menyentuh talenan, dsb.

Setelah suami berangkat kerja, baru saya sarapan, cuci piring, olah raga kalau inget, terus mandi dan menulis sampai jam 10-11 pagi. Aktivitas apapun biasanya baru saya mulai di atas jam 11 itu. Heu… jangan sampai suara ngetik di keyboard ini termasuk salah satu yang mengganggu juga. 😦

Ah, saya jadi curcol berkepanjangan. Mungkin besok saya harus keliling tetangga dan minta maaf kalau memang kami pagi-pagi berisik dan mengganggu. Sekalian kenalan yang tertunda kali, ya.

Jadi, moral of the story-nya apa, nih? Hm… Moral of the story-nya… Hm, saya tidak tahu. Pilih flat kedap suara atau tinggal di rumah yang nggak dempet-dempetan kayaknya. 😄

*gambar dari sini

Iklan

6 comments

  1. bahhaha akhirnya aku tau ceritanya juga…
    jadi keinget dominjun (eh, dominjun meneh). keberisikan gegara cheon song yi (si tokoh ceweknya) nyanyi2 suara sumbang. padahal apartnya apart mahal dan kedap suara. salah sendiri jd makhluk supranatural. :’D

    eh, apa jangan-jangan tetangga tansis itu…….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s