gambar Getting Back on Track

Misi ini sempat saya coret dari list, dengan berat hati. Perkaranya masih sama, takut berisik dan dikeluhkan para tetangga. 😄 Tapi, setelah tadi malam kami mencoba mengukur tingkat kebisingan beberapa aktivitas, dan hasilnya masih dalam level normal, akhirnya saya memutuskan untuk mencobanya paling tidak dalam seminggu ke depan.

Misinya adalah… menyusun jadwal harian dan menyelesaikan beres-beres sebelum jam tujuh pagi. 😄

Maafkeun lah misi ini begitu receh dan emak-emak banget. 😄 Sebetulnya ada dua misi hari ini, membuat cerita mini dalam satu jam, serta menyusun jadwal harian. Tapi saya agak kesulitan posting sebuah misi dan melakukan misinya di hari yang sama. Soalnya gara-gara writing challenge saya jadi terbiasa menulis di pagi hari, padahal si misi tersebut mungkin baru terlaksana siang-siang. Jadi, mulai besok postingannya akan berisi misi di hari sebelumnya, sehingga si misi cerpen yang merupakan misi hari ini baru diposting besok. Dan misi yang saya lakukan besok, diposting di hari berikutnya. Begitulah.

*Heu, itu ada berapa kata misi dalam paragraf di atas yak. >.<

Nah, kalau tentang menyusun jadwal, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Memang cuma begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Paling-paling yang istimewa adalah pertarungan batin saya soal keluhan tetangga. #halah

Mungkin karena saya masih lekat dengan budaya timur, yang cukup sungkan jika dianggap mengganggu. Apalagi, kalau memang aktivitas yang saya lakukan itu dianggap tidak lazim, mau tidak mau jadi merasa harus memikirkan alternatif solusinya.

Padahal sih, receh banget yang saya lakukan di pagi hari, hanya beberes rumah sebangsa menyapu, mengepel, mengembalikan barang pada tempatnya, nyuci piring, menyiapkan sarapan, dsb. Maklum, di sini tidak lazim mempekerjakan pembantu. Saya teringat profesor pembimbing di lab dahulu, di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya di sebuah departemen yang cukup besar, ia tetap masih kebagian tugas harian di rumahnya.

Dan, btw, profesor itu seorang laki-laki. Ia bisa dengan santainya menolak acara di luar jam kerja dan bilang, “Wah, jangan, hari itu giliran saya masak makan malam buat orang rumah.”

Hal itu cukup berkesan bagi saya. Bagaimana cara mereka mengatur tetek bengek pekerjaan rumah tangga–yang di Indonesia mungkin akan dikerjakan oleh si Mbak, atau hanya oleh istrinya saja–tanpa mengabaikan aktivitas lain di ruang publik.

Mereka memiliki dua (atau tiga ya?) anak yang semuanya laki-laki dan masih usia sekolah/kuliah. Istri si Pak Prof ini juga bekerja, dengan kesibukan yang tak kalah dengan suaminya. Tapi, urusan tetek bengek rumah tangga juga bisa terkendali tanpa pembantu.

Pasti ada caranya, kan. Pastilah ada waktunya kapan mereka mengerjakan itu semua. Nggak mungkin lah kalau lantai di rumah mereka punya teknologi membersihkan diri sendiri. Heu, kalo itu sih saya juga mau.

Makanya saya agak heran juga dengan komplain tetangga bahwa aktivitas saya di pagi hari mengganggu beliau. Memangnya mereka kapan sih bersih-bersihnya? Kok di rumah saya mah ga disapu sehari aja debunya sudah bikin bersin-bersin? Masa mereka bersih-bersih sepulang kerja di sore hari, kan capek?

Ah, mendadak saya jadi benar-benar mengagumi ibu saya. Dulu tidak terpikirkan bagaimana caranya Ibu selalu membuat rumah kami rapi dan bersih, dengan makanan sudah terhidang di meja, pada pukul enam pagi. Juga tanpa pembantu. Ma, engkau memang benar-benar luar biasa. 🙂

Sementara ibu saya dan bu prof itu memang memiliki kesibukan lain yang tak terelakkan, motivasi saya untuk bisa menangani kerjaan di rumah secepat mungkin masih terlalu receh dibanding mereka. 😦 Semata karena ingin lebih banyak waktu luang untuk belajar hal lainnya, dan tentu juga untuk keluarga.

Tapi ya itu tadi, kalau bukan pagi-pagi, terus kapan dong? 😦 Menerima keluhan tetangga ketika kemarin saya menyapu jam tujuh pagi itu cukup membingungkan. 😄

Lha wong debunya tidak nyiprat-nyiprat ke rumahnya kok, dan seberapa ribut sih orang menyapu? Dulu saja waktu masih mahasiswa, saya tinggal bersebelahan dengan orang India, malah setiap pagi saya dibangunkan lagu-lagu Bollywood. 😄 Dan tiap jam 7 pagi anjing milik tetangga di lantai bawah akan menyalak dengan ribut.

Jadi semalam, setelah berdiskusi dengan suami, kami berkesimpulan, jika dengan aktivitas normal di rumah sendiri orang lain kemudian merasa terganggu, mungkin ada yang salah dengan struktur rumahnya. Kami akan mencoba lanjut dengan aktivitas seperti biasa, jika memang masih dikomplain ya nanti baru dicari solusinya.

Yah semoga saja tidak ada komplain lebih lanjut. Repot juga kalau harus berjingkat-jingkat di rumah sendiri.

Ini dia jadwalnya, sengaja fotonya ngk begitu jelas, malu jadwalnya juga gitu2 doang. 😄 Tapi, semoga dengan ini saya bisa kembali beraktivitas dengan lebih teratur. Aamiin. 🙂

img_20170215_152040

Oke, sekian dulu. Maaf curcolnya kepanjangan. 😄

Iklan

6 comments

  1. tan, cadas bener sik si profesor. selain bisa menolak di luar jam kerja *berharap indo bisa gitu* semuamua dikerjain sendiri. da aku mah apa atuh…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s