Monopoli ala Sacha Stevenson, Nasib, dan Sri Mulyani

Pagi tadi saya berniat mencari resep Matcha Molten Lava Cake namanya juga ibu-ibu, tapi begitu buka youtube, video teratas yang direkomendasikan malah video dari channel Sacha Stevenson yang kadang memang suka saya tonton. Nah, videonya kali ini adalah tentang Sacha bermain games monopoli dengan suaminya.

Tahu kan, monopoli? Kalau saya malah agak-agak lupa permainannya, terakhir main pas masih SD kayaknya. Ya mirip-mirip main get rich gitu, lah. Konon, dulunya monopoli ini digunakan sebagai mainan edukasi tentang bagaimana sebuah sistem ekonomi bekerja. *kalau saya salah dibenerin, ya.

Intinya permainannya terkait strategi jual-beli properti, mengumpulkan lahan, membangun hotel, rumah, dll, dan mengumpulkan uang dari pemain lain yang kebetulan menggunakan (alias numpang lewat) di properti kita.

Kata Sacha di awal videonya, “In normal monopoly, you can use your brain to win the game… But in Indonesia, it’s depend on your connection/silaturahmi, dan seberapa berpengaruh kenalanmu itu…”

Awalnya saya kira mainan monopoli yang dulu sering saya mainkan itu dipengaruhi silaturahmi segala. Eh, ternyata Sacha bikin mainan monopoli modifikasi sendiri yang menggambarkan realita sosial nan pahit di Indonesia. #halah

Cara mainnya lucu. Kartu dana umum dan kesempatan, diganti sama kartu takdir dan silaturahmi. Terus, kalau masuk penjara, bisa lolos kalau di kartu silaturahmi kita punya kenalan polisi dan mau disuap. XD

Terus, yang nonjok lagi, jika di mainan monopoli normal kita start dari modal yang sama, di monopoli aturan Sacha ini ENGGAK. Jadi, satu pemain bisa aja start dengan modal yang jauh lebih banyak, dan yang lainnya ga punya apa-apa, tergantung bagaimana hasil lemparan dadu kita di awal permainan. Dengan kata lain, tergantung di mana nasib menempatkan kita.

Mendengar itu, mendadak saya jadi ingat sebuah artikel yang mengutip Bu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Persisnya saya lupa, namun intinya beliau mengkhawatirkan kesenjangan kesempatan.

Jika Amerika punya American Dreams yang digembar-gemborkan itu, yang kemarin sekitaran pemilihan presiden beberapa kali saya dengar disebut-sebut di tivi, bahwa “…whoever you are, wherever you’re from, in America, you have the same chance as anyone else to rise, to success, according to ability and achievement. Regardless where you’re born or your social status.

Yah, walaupun mungkin saja itu cuma slogan, sih. Saya juga tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya di sana.

Namun yang jelas, di Indonesia, menurut Bu Sri Mulyani, you may not have the same chance. No.

Konon, menurut beliau, di mana kamu lahir, di provinsi apa, di desa atau kota, dari orang tua yang lulusan apa, does matter. You may not have the same chance to rise as anyone else. Mungkin bisa dibilang, bahwa kepentok nasib bukanlah sekadar alasan bagi orang malas, tapi bisa jadi memang begitu kenyataannya.

Saya jadi teringat Lintang di cerita Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Anak jenius yang putus sekolah dan mengikhlaskan diri untuk menanggung hidup keluarga dan adik-adiknya. Tidak ada cerita happy ending ala novel-novel inspiratif untuk Lintang. Tidak ada orang kaya yang mendadak trenyuh dan menyekolahkan, dia juga tidak berakhir jadi pemburu beasiswa yang bekerja keras demi mimpi dan ambisi pribadinya. Bahkan mungkin tidak ada waktu memikirkan mimpi dan cita-cita bagi Lintang, karena hari-harinya sudah tercurah untuk menyangga keluarga.

Dan saya kira, skenario semacam Lintang lebih sering terjadi dibanding skenario ‘rags to rich‘, di mana orang yang berawal dari nol kemudian menjadi bintang, yang lebih banyak disorot untuk menginspirasi orang-orang. Karenanya, saya kira apa yang dikatakan Bu Sri Mulyani ini benar juga.

Tapi, beliau mengatakan itu bukan dalam rangka menyebarkan pesimisme, kok. Justru yang saya tangkap, beliau menyadari kenyataan dan menganggap itu bagian dari tanggung jawabnya.

Pada kenyataannya, menurut beliau, koefisien gini, yang mengukur kesenjangan di Indonesia, semakin meningkat saja dari tahun ke tahun. Atau singkatnya, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Dan dua kelompok itu pada kenyataannya memang tidak start on the same ground, tidak berangkat dari titik yang sama. Yah, mirip sama mainan monopoli ala Sacha Stevenson itu.

Tapi, saya teringat ketika zaman SMA dulu kepala sekolah saya sempat mengundang Andi Malarangeng sebagai pembicara. Beliau bercerita tentang perbedaan antara beliau dan saudara-saudaranya yang lain yang lebih cerdas dan berbakat. Beliau bilang, modal saya (bakat dan kecerdasan) dibanding saudara-saudara yang lain memang lebih sedikit, jadi usaha sayalah yang harus berlipat ganda.

Tapi, dalam hal mainan monopoli Sacha sih kayaknya usaha nggak begitu pengaruh, tetap saja faktor bejo/luck yang diwakili oleh ‘takdir’ dan ‘kenalan’ itu yang lebih berperan. XD

*gambar dari sini

Iklan

2 comments

    • Betul, Mas XD Tadinya saya mau nulis gitu juga di akhir, habis ngomongin Andi Malarangeng itu, tp kok ya nggak nemu kalimat yang simpel dan nonjok seperti yang njenengan sampaikan, jadilah dibiarkan menggantung. XD

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s