gambar Tentang Batch Cooking dan Manfaatnya

Sewaktu mulai posting tentang makanan, sepertinya sudah beberapa kali Batch Cooking ini saya sebut-sebut. Kesannya istilah ini asing sekali, padahal artinya sederhana saja, yaitu masak dalam jumlah banyak sekaligus. Sayang saya belum menemukan frasa yang cocok dalam bahasa Indonesia. Masak banyak? Masak setumpuk?

Mungkin ada istilah lain yang lebih mudah dicerna selain batch cooking, yaitu meal preparing. Pengertiannya sama saja, menyiapkan makanan untuk periode waktu tertentu dengan mengolahnya di awal sekaligus.

Mengapa harus batch cooking, bukankah masak untuk sekali makan dengan bahan-bahan yang masih fresh jauh lebih baik dan sehat?

Awalnya saya pun berpendapat demikian, sampai kemudian negara api menyerang merasakan sendiri betapa sulitnya masak tiap hari sambil tetap kerja/kuliah. Mana masaknya masih amatir, cucian alat masak masih harus diberesin, capek, pulang malam, letih lesu lemah…hingga akhirnya sering kali menyerah dan membiarkan bahan di kulkas tidak tersentuh, atau beli makan di luar, atau kelaparan (karena males gerak), dan bahan yang dibeli kemudian terlupakan, busuk, lalu dibuang. 😦

Hh…Ibu, aku belum sekuat dirimu. 😦 *menunduk dalam-dalam

Tapii… life must go on. Saya mulai menemukan menu-menu yang mudah dibuat dan disimpan dalam jumlah banyak, serta ternyata kandungan gizinya tidak banyak berubah walau disimpan beberapa lama. Semasa kuliah lanjutan yang sudah dapat uang bulanan, andalan saya adalah saus daging, dimasak ala-ala bolognese jawa seperti yang untuk saus spaghetti. Kemudian daging burger bikinan sendiri, dan tentu saja telur yang bisa dimakan kapan saja di mana saja. Sedangkan sayurnya, cukuplah nyetok tomat dan timun kemudian dilalap begitu saja. XD

Itu saja sudah mewah bagi saya, karena ketika masih kuliah awal, saat masih di Indonesia, seharian makan dengan lauk kering tempe dari warteg, tiga kali sehari, ya sering juga, dan alhamdulillah sehat-sehat saja. >.<

Begitu sudah menikah, keluarga suami termasuk yang sangat memperhatikan gizi dan menu harian. Telur yang selama ini jadi favorit dan penyelamat saya tidak boleh dimakan sering-sering. Daging merah juga tidak bisa banyak-banyak, apalagi daging berlemak. Sayur dan buah juga harus selalu ada.

Jadi mau tidak mau saya harus memasak setiap hari, harus lebih kreatif dengan menu, apalagi membeli makanan jadi bukan pilihan kami, karena mahal dan tak halal itu tadi. Keuntungannya, saya jadi belajar banyak, juga jadi lebih memperhatikan makanan yang masuk ke tubuh, tidak asal lep saja. Kerugiannya, kalau bisa disebut rugi sih, saya jadi  merasa waktu saya habis untuk urusan dapur saja. Dalam hati kadang berpikir juga, apakah makan perlu seribet ini? >.<

Apalagi saya pernah membaca, lupa persisnya gimana, tapi intinya “Sesiapa yang waktunya dihabiskan oleh pakaian dan makanan, maka ia merugi.” Kurang lebih begitulah. Pakaian bila ia kualitasnya biasa saja, maka ia akan melayani, sedangkan bila dari kualitas luar biasa maka akan dilayani. Begitu katanya di Shaidul Khatir. Jadi saya pikir berlaku pula dong buat makanan, kalau terlalu ribet ngurusin makan ini gak baik-itu gak baik, hingga waktu kita tersita cuma untuk mikirin itu, makanan tidak lagi melayani namanya, tapi dilayani sampai waktu kita habis untuknya.

Jadi, saya pikir, bagaimana caranya agar saya tidak perlu bengong di depan kulkas setiap kali mau masak, bingung memilih jenis makanan dan mengkalkulasi kecukupan gizi, tapi tetap bisa mengikuti standar keluarga baru saya?

Dan jawabannya adalah catering sehat atau cari pembantu. #eh Ga dink. XD

Salah satu pertimbangan lainnya juga adalah hemat. Menu apa yang bisa sehat tapi hemat dan mudah dibuat?

Nah, dari pertimbangan itulah kemudian saya membiasakan diri membuat perencanaan di awal minggu, menyisihkan waktu sekitar satu jam di sabtu pagi untuk corat-coret menuliskan apa yang akan saya masak, apa bahan yang dibutuhkan, dan berapa banyak, sehingga belinya tidak berlebihan dan mubazir. Setelah itu belanja bahan, karena sudah ada plan, jadi alhamdulillah tidak laper mata. Lalu mulai menyiapkan makanan tersebut sekaligus untuk dua minggu ke depan. Biasanya makan waktu sekitar 4 jam untuk menyelesaikan persiapan tersebut.

Saya melakukannya dua minggu sekali saja. Jadi cuma dua kali dalam sebulan. Setelahnya, setiap pagi kurang lebih saya hanya menghabiskan 15 menit di dapur untuk finishing agar makanan tersebut siap dihidangkan. Tapi kalau cuci piring sih belom termasuk. :p

Dan karena sudah sepanjang ini prolognya XD, sekarang mari kita langsung saja, apa saja yang dibutuhkan dalam batch cooking ini?

  1. Wadah/container makanan. Tidak perlu tupperware atau yang mahal-mahal. Cukup yang memang khusus makanan, bukan bekas sabun mandi, misalnya. #eh Di awal-awal saya hanya menggunakan plastik biasa, semacam plastik es batu itu lho. Ketika ada kesempatan ke toko, saya membeli wadah kecil-kecil delapan buah. Ukurannya seperti di foto bawah, satu wadah cukup untuk 400 gr daging. Sisanya pakai wadah besar yang sudah saya punya di rumah. Btw, harga wadahnya cuma sekitar 6-7 ribuan. Bukan wadah tahan panas, karena memang tidak pernah saya panaskan langsung beserta wadahnya. Kalau mau praktis, bisa juga beli wadah kecil-kecil untuk satu porsi yang bisa langsung dihangatkan di microwave. Praktis dan hemat cucian piring, tapi lebih mahal.
  2. List jenis makanan yang akan dibuat. Batch cooking tidak bisa dipisahkan dari perencanaan, jadi memang harus dipikirkan di awal mau makan apa saja seminggu/dua minggu ke depan. Karena itulah, batch cooking ini banyak dipakai oleh orang-orang yang sedang diet, atau ingin menurunkan berat badan. Karena kalau di rumah sudah tersedia makanan yang sehat dan rendah kalori, konon mereka bisa jadi lebih patuh program dan tidak jajan sembarangan. Tentang jenis makanan apa yang bisa dijadikan menu, akan saya tulis di bawah beberapa contohnya.
  3. Udah dink, dua aja kayaknya yang dibutuhkan. XD Plus alat-alat masak seperlunya, tergantung menu yang dibuat.

Nah, karena saya pun tergolong emak-emak amatir dalam memasak, maka jenis masakan yang saya buat masih yang mudah. Yang penting jenis masakan tersebut bukan yang mudah rusak/busuk. Berikut ini contoh-contohnya.

Yang pertama chicken schnitzel atau chicken katsu, intinya dada ayam balur tepung. Saya memakai patokan satu takaran saji adalah 100 gr, jadi biasanya kalau beli 1 kg dada ayam jadi 10 porsi chicken katsu/schnitzel, untuk 10 kali makan. Buatnya mudah banget, cukup modal ayam, telur, tepung, garam, merica (kalau mau schnitzel pakai bubuk paprika). Ini juga termasuk menu yang rendah lemak, karena dada ayam termasuk lean meat yang paling sedikit lemaknya. Kalau mau disajikan tinggal digoreng sekitar 7-10 menit, karena tipis jadi dia mudah matang. Kami biasanya pakai air fryer untuk menggoreng tanpa minyak, kalau mau bisa juga dipanggang.

Yang kedua (dari kiri ke kanan), sosis ala-ala rumahan. Tidak perlu mesin pembuat sosis dan lapisan usus untuk pembungkusnya, cukup campur daging dengan bumbu, kemudian saya gulung dengan plastik microwave, setelah beku plastiknya bisa dilepas dengan mudah. Sosis yang saya buat biasanya sosis maroko yang pedas berempah, bumbunya semacam sambal cabe bawang, jinten, lada, ketumbar, merica, garam. Kalau pakai daging cincang rendah lemak, ini juga bisa jadi menu sehat.

Yang ketiga adalah ayam ungkep/panggang/goreng. Intinya ayam yang sudah matang dan dibumbui, tinggal memanggang/menggoreng sebentar saja. Biasanya bahkan sudah saya panggang dulu sampai hampir matang, jadi pagi hari tinggal memanaskan sekitar 10 menit. Kalau pakai paha ayam, apalagi kalau bumbunya ayam panggang solo yang manis, mungkin tidak termasuk menu diet ya, tapi saya sih karena tidak diet jadi ya hajar saja. XD Ini bisa difrozen sampai dua minggu dan masih tetap bagus. Walau mungkin agak kompromi di rasa/tekstur.

Yang keempat siomay. Ini menu camilan sih. XD tapi bisa juga difrozen kalau buat dalam jumlah besar. Bikinnya agak ribet, jadi jarang.

Yang kelima burger/patty home made. Ini juga mudah sekali buatnya, bahannya daging cincang, telur, tepung panir, garam, merica, bawang bombay. Kalau saya biasanya tambah wortel potong kecil-kecil atau jamur, lumayan nambah volume dan nambah sayur. Ehehe. Tahan lama kalau difrozen, sebulan masih bisa. Menyajikannya bisa digoreng atau dipanggang, saya menggoreng di air fryer sekitar 8 menit.

Yang keenam fish stick, alias ikan goreng tepung, hehe. Bikinnya mudah saja. Ikan potong-potong, bumbui, celup telur, gulingkan ke tepung. Tinggal goreng ketika akan disajikan. Sering juga saya membekukan ikan yang sudah dibumbui untuk dipanggang, kuncinya adalah pengemasan ketika akan memasukkan ke freezer. Pisahkan per porsi, agar tidak perlu mengeluarkan dalam jumlah besar ketika akan disajikan. Jadi, bagian lain yang belum akan digunakan tetap beku/tidak sempat mencair dalam suhu ruangan. Yang membuatnya cepat rusak adalah jika terjadi thawing, atau proses beku-cair-beku-cair berulang-ulang.

Yang ketujuh adalah saus daging. Saya membuatnya ala-ala saus bolognese. Bisa dipakai untuk spaghetti, dimakan dengan nasi kemudian dipanggang, dimakan dengan kentang, atau dijadikan isian roti goreng, dll. Patokan porsinya tetap sama, 100 gram per takaran saji. Jadi kalau beli 1 kg daging cincang, ya untuk 10 porsi. Penyimpanannya, karena ini bentuknya cair, saya pakai wadah2 kecil yang muat 400 gram itu. Karena kami di rumah cuma berdua, maka sekali penyajian cuma menghabiskan 200 gr, maka sisanya yang 200 gram lagi biasanya disimpan di kulkas bawah dan harus habis 24 jam ke depan.

Yang keenam nugget ayam/ikan, campur sayur di dalamnya. Nugget agak ribet sih buatnya, karena dagingnya harus dihaluskan dulu, dan campur tepung yang agak banyak, jadi kandungan proteinnya juga kurang. Kemudian setelah itu masih dikukus. Kalau di Indonesia mau nugget mungkin kami lebih baik membeli. Tapi kalau di sini kami membuat sendiri, walau tidak sering-sering.

Menu lainnya masih banyak, bulgogi, sapi lada hitam, ayam kung pao, adalah beberapa makanan yang bisa disiapkan jauh-jauh hari sebelum dimasak. tapi, terkadang saya juga menyimpan dalam bentuk mentahnya, per porsi. Misalnya saya ingin membuat kari daging sapi, atau soto betawi. Saya akan menyimpan daging yang sudah dipotong-potong ketika masih segar, dipotongnya sesuai ukuran yang akan disajikan, lalu saya bekukan sebanyak porsi yang diinginkan. Misalnya 400 gr, untuk 4 porsi. Jadi, misal saya buat kari untuk makan malam, paginya pastilah sarapan kari. XD

Atau kalau soto betawi, biasanya saya pisahkan kuahnya sebelum diberi santan/susu. Kuah tersebut kemudian dipisah untuk pagi hari, tinggal tambahkan santan.

Tapi, kalau untuk sayur saya belum bisa menggunakan metode ini. Jadi saya tetap harus masak sayur di sore hari, untuk makan malam. Tapi biasanya, kuah sayurnya juga sengaja saya pisah sebelum menambahkan bahan yang mudah layu, kemudian setengahnya saya simpan di kulkas, jadi pagi-pagi tinggal memanaskan kuah kemudian masukkan sayuran yang sudah dipotong-potong sebelumnya.

Ohya, satu lagi yang juga penting dalam batch cooking/meal preparing ini. Bumbu bisa dibuat jauh-jauh hari sebelumnya. Bumbu dasar seperti bawang yang sudah dihaluskan, cabai yang sudah dihaluskan, kemudian diwadahi di kulkas, juga membantu mempercepat masak.

Ada juga orang yang memotong-motong sayur dan bumbu untuk beberapa hari ke depan dan menaruhnya di wadah-wadah kecil per porsi. Jadi ketika akan disajikan tinggal tabur ke wajan. Tapi, kalau untuk sayur, selama cuma tumisan dan sayur sederhana sih, saya lebih suka membuatnya per hari, karena tidak makan waktu lebih dari setengah jam di sore hari.

Karena sudah kepanjangan, sekian dulu tentang batch cooking. Semoga bermanfaat!

Iklan

4 comments

  1. Saya baru denger istilah batch cooking itu. Salut utk njenengan yg bisa2nya prepare smuanya sambil sekolah. Ibu2 memang selalu mengagumkan tenaganya. Salut mb! Smoga sekolahnya sakses yaa

    Ohiya itu nugget masuk nomor urut 8 sepertinya hehehe

    Suka

    • Ealah… iya ternyata, salah tulis. XD Untung diingatkan, terima kasih ya, Mas.

      Wah, sekarang udah ga sekolah… ehehe. Dulu iya, ribet bgt sekolah sambil nyiapin makan sndiri, karena nggak bisa beli. Sekarang sebenernya banyak waktu, tapi tetap lebih suka batch cooking biar bisa ngerjain yang lain.

      Suka

  2. Halo Mbak, saya senang sekali menemukan blog tentang bacth cooking berbahasa Indonesia. Saya baru-baru menerapkan batch cooking dan meal prep tapi sering bingung dengan menunya, karena keluarga orang Bali asli dan terbiasa makan dengan nasi dan lauk berbumbu pekat.

    Suka

    • Salam kenal, Mbak Krishna. Boleh juga dishare pengalaman batch cooking dengan menu Bali, Mbak. Pasti menarik. Saya juga masih belum disiplin, tp memang lumayan banget ya pakai meal prep ini, jadi ngirit waktu. Ditunggu cerita2nya, Mbak. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s