Tentang Lidah Indonesia

Beberapa hari ini lidah saya dimanjakan makanan yang enak-enak. Setiap sore, setelah seharian duduk di depan layar, secapek apapun saya bakal dengan senang hati menembus hujan maupun angin untuk jalan kurang lebih 2 km ke warung makan. *tetep aja soal makanan 😀

Ngomong-ngomong soal warung, tempat makan yang pertama saya kunjungi memang namanya warung, Warung Jawa lebih tepatnya. Tapi, yang punya orang Suriname sepertinya. Atau paling tidak pelayannya. Warung Jawa ini interiornya benar-benar mengingatkan saya pada warung makan pinggir jalan dekat kampus dulu. Waktu saya share fotonya dengan Fhea, dia malah bilang kalau itu mirip warung makan yang biasa jadi tempat mampir bis waktu pulang mudik, katanya. 😀

Bedanya, di sini dia berdampingan dengan berbagai kedai dan toko pakaian ternama. Yah, yang merk-merk gitu lah. Di sepanjang jalan banyak pilihan restoran dan kafe bertebaran, Itali, Jepang, Thailand, India, Yunani, dan lain-lain. Tapi, tetep, rupanya lidah saya mah balik lagi-balik lagi ke makanan Indonesia.

Selain Warung Jawa, ada lagi tempat makan yang beberapa kali saya sambangi, namanya Toko Semarang. Yang ini pilihan makanannya lebih mantap lagi. Nanti kalau sempat mungkin saya share review kulineran (#halah) di kedua tempat itu.

Selain dua tempat itu saya cuma makan sekali di kedai Turki, makan kebab yang dibikin schotel, enak lah pastinya. Tapi, cuma sekali, habis itu balik lagi ke Toko Semarang. #tetep

Tapi, selama beberapa hari ini, saya lihat-lihat dari banyak toko di sepanjang jalan itu, Warung Jawa dan Toko Semarang termasuk yang paling laris. Pengunjungnya sampai antre panjang dan nggak kebagian tempat duduk. Padahal waktu saya jalan kaki dan mengintip ke kedai-kedai lain palingan isinya cuma 1-2 atau bahkan kosong. Atau mungkin mereka punya ruang privat yang areanya ga keliatan dari luar kali, ya. hehe.

Waktu saya sedang makan di sana juga ada sepasang muda-mudi, sepertinya mahasiswa, dan kalau lihat aksennya sih mungkin dari Amerika (sok tau), datang-datang mereka langsung nanya “Apa warung ini jualan rendang?” Gitu katanya. Padahal di menu juga ada tulisannya sih.

Dan, Toko Semarang ini merupakan warung makan yang pakai teknologi touchscreen, alias kayak di rumah makan padang. Jadi, makanannya didisplay di depan. Waktu si Ibu nunjukin rendang, si Mbak yang nanya itu protes “Kok warnanya begini, ya? Kuning-kuning gini, bukan cokelat?” 😀

Maklum, udara saat ini masih di bawah sepuluh derajat, jadi makanan berlemak/berminyak yang didisplay memang rentan beku minyaknya, kelihatan putih-putih gitu. Si Ibu empunya kedai menjelaskan kalau nanti setelah dimicrowave warnanya kembali cokelat. Tapi, si Mbak itu kurang percaya, dan akhirnya memilih makan ayam rica-rica. 😀

Saya tidak tahu kalau di negara atau di kota lain, tapi di sini, kelihatannya cukup banyak yang seleranya sejalan dengan lidah Indonesia. Bersyukur juga sih, karena jadinya tidak sulit menemukan kedai yang jualan makanan Indonesia. Yah, walaupun kalo dari harga sih jelas bikin cekak dibanding masak sendiri. Tapi, sekali-kali boleh lah. Lumayan juga nambah kenalan karena ngobrol dengan Bapak/Ibu yang jagain kedainya. 🙂

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s