#MyDailyVirtue 1: Courage

Setelah berlalu delapan hari, akhirnya saya mulai menulis juga tentang misi yang ini. Sengaja saya menyelipkan kata ‘my’ di depannya. Karena, saya yakin setiap orang boleh punya tafsiran yang berbeda untuk dirinya sendiri. #maksa

Baiklah, untuk yang pertama ini sebenarnya kejadiannya sudah lewat seminggu lalu, sewaktu saya masih di rumah. Pagi itu, sebelum berangkat untuk menginap di kota lain, saya mengeluarkan mint ke teras. Maksudnya biar kena hujan karena akan saya tinggalkan cukup lama tanpa disiram.

Dari balkon saya melihat di halaman bawah seseorang yang cukup membuat saya takut gara-gara bentrok tempo hari–iya, si Bu Tetangga. Wkwkw.

Jujur saja, saya kalau lewat rumahnya jadi suka mengendap-endap. Pertama takut berisik (waktu itu dia ngomel karena saya berisik), yang kedua masih trauma karena dibentak-bentak. XD Bahkan, kadang-kadang, saya jadi malas membukakan pintu saat ada yang ngebel, takut yang datang adalah Bu Tetangga mau komplain lagi.

Walau sudah berkali-kali diyakinkan suami bahwa aktivitas saya tidak berisik, kadang saya masih merasa masih suka bikin bunyi-bunyian kalau di dapur, misalnya kalau sendok jatuh gitu. XD Habis bunyi klontang itu biasanya saya langsung deg-degan. Gimana kalau si Ibu dataaang?

Nah, kemarin, waktu lihat beliau lagi di halaman, saya udah mindik-mindik biar nggak kelihatan. Tapi, langsung kepikiran, saya kok jadi kayak pendosa gini sih. Kalau memang nggak salah harusnya berani, dong.

Akhirnya, saya tegakkan bahu #halah. Menatap dengan mantap ke arah halaman si Ibu (sambil pura-pura melihat pemandangan di sekitar), lalu ketika beliau berbalik dari menyiangi perdu saya segera membuat gerakan melongok dari balkon atas (biar dia ngeh ada orang di atas gitu). Dan, iya, dia menoleh. Saya langsung tersenyum dan melambaikan tangan, “Hai!” kata saya (sok) ceria. Padahal mah deg-degan. Serius ini ibu posturnya tinggi besar dan bikin gentar. XD

Beliau tersenyum dan menyahuti, “Hallo,” katanya. Lalu suasana jadi canggung karena saya nggak tau mau ngomong apa lagi. Kebetulan cuaca cerah jadi yang saya bisa cuma berbasa-basi, “Mooi weather, right?” Dia cuma senyum dan balik bekerja lagi.

Pas balik ke rumah saya baru sadar, ITU TADI BAHASA APAAN? Maksud hati pingin sok-sokan berbahasa Belanda, tapi kok malah campur-campur gak jelas. Pantesan si Ibu cuma senyum doang. Saya tahu sih, cuaca itu weer, tapi kok langsung kepleset. Ah yasudahlah, yang penting sudah mencoba. Hehehe.

Tapi, lihat si Ibu tersenyum itu saya merasa lebih lega. Siangnya ketika keluar dan lewat rumah beliau (yang memang harus dilewati setiap saya keluar rumah), saya merasa lebih ayem, nggak deg-degan bahwa si Ibu tiba-tiba bakal buka pintu saat saya lewat.

Mungkin karena saya tahu, si Ibu toh bisa senyum juga kalau disapa. 🙂

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s