#MyDailyVirtue 2: Warung Jawa dan Reaching Out

Seperti sudah diceritakan pada post sebelumnya, saya makan di warung Jawa beberapa waktu lalu. Kami menemukan Warung Jawa saat pertama kali datang dan toko-toko tutup semua.

Saya dan suami mencari-cari di google tempat makan mana yang halal dan buka pada hari itu, tapi yang ada malah jauh sekali dan kami tidak yakin bisa menemukannya di sore hari yang sudah cukup gelap, dingin pula. Akhirnya kami berjalan saja di sekitaran centrum, barangkali ada yang buka, dan saat itulah kami menemukan Warung Jawa.

Sebelum masuk ke sana, kami lagi-lagi googling dulu, mencari-cari apakah menunya menyajikan daging yang tidak bisa kami makan. Kan ga enak kalau sudah sampai di dalam terus ga jadi beli. Nah, di google menunya terlihat aman semua, maka kami pun mengantri untuk pesan.

Tapiii, begitu sampai di depan si Mas-mas, kami disodori menu di kertas kecil. Dan di situ ada menu varken alias pork. Saya pribadi sebetulnya meyakini agak susah kalau mau benar-benar cari tempat makan yang tidak menyajikan pork. Tempat makan yang diyakini netral dan sering didatangi beberapa kawan, yang cuma jual sandwich, bagel, pancake atau sushi, misalnya, pastinya tetap saja ada hidangan yang mengandung pork.

Jadi, saya cukup belajar untuk tidak freak out di situasi begitu, dan pada akhirnya memilih menu vegetarian atau ikan. Kalau mau yakin, boleh ditanya juga, apakah hidangan tertentu itu dimasak dengan menggunakan ekstrak minyak nganu atau alkohol, gitu misalnya.

Nah, hari berikutnya, karena warung itu yang paling familiar, sementara lainnya masakan Italia, Spanyol, Jepang, Thailand, dll yang kami bahkan tidak tahu bagaimana cara memasaknya, akhirnya kami ke warung jawa lagi saja. Pesan kari ikan dan nasi.

Tentang makanannya, serius ini porsinya sangat-sangat besaaaar. Bisa kali buat empat orang. Nasinya jelas banyak menggunung, ikannya mungkin sekitar 4-5 potong, dengan satu potongnya seukuran ikan bandeng goreng yang biasa kita beli di warteg.

Rasanya bagaimana? Enak, tapi mungkin menggunakan bubuk kari instan. Dan bumbu kari bubuk instan ini memang agak gampang-gampang susah, kadang kita kedapatan campuran bumbu yang terlalu banyak kunyit atau terlalu tajam salah satu rempahnya. Untuk yang ini, sepertinya kebanyakan kunyit karena agak pahit. Tapi, overall, dengan nasi dan lauk sebanyak itu, juga menemukan taste tanah air di negeri jauh, kami sendiri sudah bersyukur.

Oh, ya. Harga makanannya di sini berkisar antara 8-11 euro-an. Dibanding resto-resto lain yang biasanya 15 euro ke atas, ini tergolong lumayanlah. Banyak pula isinya. Dan, btw, interiornya mengingatkan saya pada warteg. #eh.

IMG_20170305_174728833_HDR

Nah, saat kami sedang makan, datanglah seorang perempuan berhijab yang melongok ke arah kami dengan bingung. Tapi tidak menyapa atau bertanya apa-apa. Wajahnya kelihatan dari Asia Tenggara. Saya kira kalau dia orang Indonesia tentulah bakal senyum atau menyapa tanpa ragu, tapi ia malah kelihatan cemas.

Akhirnya saya beranikan diri menyapa dalam bahasa Inggris. Ternyata dia dari Malaysia, dan memang sedang kebingungan apakah hidangan ini halal atau tidak. Dia juga rupanya tidak mengerti menu berbahasa Belanda yang ada di depannya. Akhirnya kami ngobrol-ngobrol sedikit, saya menyarankan dia memilih menu vegetarian yang paling aman, karena biasanya ekstrak hewan apapun dihindarkan dari menu vegan.

Saya menghampirinya lagi sebelum pulang, berkenalan dan ngobrol-ngobrol lagi sedikit.Ternyata dia–yang umurnya terlihat masih sangat muda–datang ke sini untuk konferensi beberapa hari, dan benar-benar belum tahu tentang makanan maupun jalanan di kota ini.

Demikianlah cerita #MyDailyVirtue hari kedua. Saya berdoa semoga Mbak tersebut sukses dengan konferensinya. Semoga sukses juga dengan studinya, walau mungkin kita tidak bertemu lagi. 🙂

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s