#MyDailyVirtue 4: Berkenalan (lagi) dan Toko Semarang

Hari berikutnya, Toko Semarang yang direkomendasikan teman suami sudah buka. Senin lalu waktu kami lewat sini ia memang tutup. Kadang beberapa kedai di sini tutup di hari kerja, untuk mengkompensasi pegawainya yang masuk di hari Sabtu.

 

Ketika masuk, kami disambut antrean 3-4 orang, dan beberapa meja sudah penuh ditempati. Nuansa etnis di interiornya lumayan terasa. Ada lukisan sawah di dinding, beberapa wayang, hiasan batik, dan pajangan dari kayu yang dihinggapi dua cenderawasih.

Saat melihat menu, wah, ternyata ada satu menu varken terselip. Jadi terbatas deh pilihan yang bisa kami makan, padahal menu-menunya menggiurkan. Ada rendang, ayam kecap, ayam rica, ayam paniki, sate, daging semur, soto ayam, dsb. Ngileer pokoknya.

Dan pilihan kami akhirnya jatuh pada: gado-gado.

Untungnya, si gado-gado ini enak banget! 😄 Orang sini memang penyuka sambal kacang, makan kentang aja pakai saus kacang, tapi saus kacang mereka tidak bisa menyamai saus kacang dari Pak Artisan Pecel Pinggir Jalan yang ada di Indonesia. Makanya, kami pikir saus kacang di Toko Semarang ini pun bakal menyesuaikan selera orang sini, tapi ternyata tidak. Ini beneran enak.

Oh, ya, mereka juga punya home made sambal terasi yang mantaps. Untuk gado-gadonya, bintangin 4 dari 5 deh. Komplit, pake telur, tempe, tahu, dan emping. Nyum!

Hari berikut-berikutnya, kami kembali makan di sini. Saya sebenarnya cenderung ingin ke toko kebab yang kemarin, dari segi harga, Toko Semarang ini hampir sama dengan Warung Jawa, tapi porsinya lebih sedikit (sedikitnya orang sini tetap banyak sih, cuma memang dibandingkan Warung Jawa hitungannya lebih kecil). Jadi jelas Donerix kebab lebih murah (dan halal juga). Tapi memang beda jenis sih, Donerix sepertinya masuk kategori streetfood, sedangkan ini masakan full menu, jadi wajar diberi harga segitu. Terus, keliahatannya Pak Suami masih kangen masakan Indo, jadi begitulah, kami balik lagi ke sini. Berikutnya pilih menu ikan bumbu bali, sayur lodeh, sayur tauge, juga sambel goreng udang. Pakai PETE. 😄

Ohya, kami juga berkenalan dengan pemiliknya, yang ternyata berasal dari Jawa Timur seperti suami. Mereka juga ngobrol-ngobrol panjang dan bertukar alamat serta nomor telepon. Sedangkan saya sibuk makan. #eh

 

Iklan

3 comments

  1. ternyata masih ada bagian lima setelah ini, menyenangkan. Aku penggemar saus kacang kelas kakap, bahkan jika di warung pecel langganan sayurnya habis, tak mengapa jika cuma nasi yang disiram pakai saus kacang, tapi tetap harus pakai tambahan lauk, sih. Warung Semarang di atas interiornya terlihat nyaman sekali ya.

    Suka

  2. setelah sekian lama, saya main2 lagi ke blog ini.. dari sekian postongan yg blm dibaca, i clicked this one right away karena ada gambar yg sepertinya kafe. sesimpel itu 😂😂. *poinnya apa ru?*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s