Benarkah MSG Berbahaya?

Selain bisa bikin bodoh, MSG juga dituding jadi biang kerok berbagai penyakit semacam alzheimer, kanker, atau parkinson. Benarkah MSG berbahaya?

Saking identiknya MSG alias micin ini dengan kebodohan, beberapa waktu lalu saat permainan werewolf menjamur di Telegram, para pemain yang kurang tanggap terhadap clue otomatis dicap sebagai ‘Micin’–walau kadang orangnya bangga-bangga aja sih dijuluki begitu. 😀

Gara-gara istilah Micin yang merajalela, juga karena melihat beberapa orang terdekat yang anti-MSG tingkat militan #halah, saya jadi teringat pada sebuah penelitian beberapa tahun lalu tentang MSG.

Jadi, apa sebenarnya MSG itu? Benarkah MSG Berbahaya? Apakah harus dihindari seketat mungkin, cukup dihindari sesekali, atau aman-aman saja dikonsumsi seperti halnya minum teh atau kopi?

Intinya, apapun yang berlebihan memang tidak baik. Tapi, seberapa banyak yang berlebihan itu?

Apakah memasukkan satu sendok teh roy*o ke dalam seliter sup itu dosa? #eh

Atau makan mie ayam di abang-abang itu sebaiknya dihindari? Ah, blessed you, mie ayam abang-abang!

Sebelum melabelinya tabu, mari kita kenali dulu riwayat kehidupan si MSG ini.

Jadi, konon dahulu kala (belum lama-lama amat sih, masih tahun 1900an), ada seorang peneliti di Jepang yang ingin tahu, apakah gerangan yang membuat semangkuk ramen itu enak? #eh

Bahasa kerennya: dia ingin tahu zat apa yang terkandung dalam dashi. Dashi adalah kaldu yang banyak digunakan di Jepang dalam berbagai masakan, dibuat dari serpih ikan bonito kering dan rumput laut.

Selidik punya selidik, ternyata glutamat-lah yang ada di sana. Beliau–Pak peneliti ini–berhasil mengisolasi zat tersebut dari dashi. Bertahun-tahun kemudian, karena alasan praktis dan agar lebih mudah disimpan serta tahan lama, ditambahkanlah sodium alias natrium (zat yang sama yg ada pada garam) pada si glutamat. Dan terbentuklah ikatan yang namanya Mono-Sodium-Glutamat alias MSG.

Glutamat sendiri memang terdapat dalam tubuh manusia. Otak kita membutuhkannya dalam kadar tertentu. Kalau kekurangan maka tubuh akan mensintesis alias membentuknya sendiri dari makanan yang kita makan.

Oh, jadi tubuh kita butuh MSG?

Butuh glutamat atau asam glutamat, lebih tepatnya. Dan MSG di dalam larutan akan dipecah menjadi sodium dan glutamat.

Fungsinya apa?

Intinya, kurang lebih ia berperan sebagai neurotransmitter dalam otak serta bersifat protektif pada otot.

Lalu mengapa MSG dimusuhi?

Ceritanya, beberapa puluh tahun lalu ada sekelompok orang yang mengalami gejala pusing, mual, nyeri dada, keringetan, setelah makan masakan China. Konon, masakan China ini banyak mengandung MSG. Katanya.

Sayangnya, setelah dilakukan beberapa kali penelitian yang sahih secara keilmuan yang saat ini berlaku (sample besar, multisenter, pakai plasebo, dsb dsb), rupanya gejala itu tidak terjadi pada subjek yang memakan MSG yang dicampur ke dalam makanan. Namun, kadang-kadang terjadi pada sebagian kecil subjek yang makan MSG saja, tanpa dicampur ke makanan (digado, gitu), dgn jumlah sebanyak 3 gram. Padahal, menurut penelitian, rata-rata konsumsi MSG harian orang dewasa hanya 0,55 gram dalam sehari, dan tentu saja makannya tidak digado.

Dan, subjek yang hipersensitif terhadap 3 gram ini juga hanya kadang-kadang saja menunjukkan reaksi tersebut. Bahasa kerennya, tidak menunjukkan gejala yang konsisten, dan hasil penelitiannya tidak repeatable.

FDA (semacam Badan Pengurus Obat dan Makanan di Amerika) sebagai lembaga yang melandaskan ‘fatwa’-nya pada penelitian yang sahih, tentu saja menggolongkan MSG sebagai zat yang Generally Recognized as Safe (GRAS) berdasarkan penelitian-penelitian tersebut.

Jadi, semua zat aditif utk makanan biasanya harus direview terlebih dahulu, kecuali sudah diakui secara umum perihal keamanannya. Nah, menurut FDA, MSG ini termasuk yang telah diketahui keamanannya, alias GRAS itu tadi.

Terus, kenapa dong ada orang-orang yang mengalami gejala di atas setelah makan masakan China?

Bisa jadi ada beberapa alasan. Yang pertama, mungkin ada bahan-bahan yang membuatnya alergi dalam masakan tersebut.

Delapan makanan penyebab alergi yg utama adalah susu, telur, ikan, udang-udangan (termasuk kerang. lobster, kepiting), gandum (gluten), kacang tanah, kacang kedelai, dan kacang lain (almond, kenari). Konon, masakan China jg banyak menggunakan kecap (dari kedelai) dan kecap ikan (dari ikan tentu saja). Dan secara statistik, alergi terhadap bahan tersebut lebih banyak terjadi ketimbang terhadap MSG.

Yang kedua, dalam makanan China juga kadang terkandung histamin, yang bisa menyebabkan gejala-gejala seperti di atas saat masuk ke tubuh.

Yang ketiga, bisa jadi orangnya memiliki riwayat defisiensi vitamin B6, yang gejalanya juga sama.

Bisa nggak orangnya benar-benar hipersensitif terhadap MSG?

Bisa aja. Walau sejauh ini jumlah yang diketahui sangatlah kecil.

Jadi kalau beneran alergi sebaiknya dihindari, dong?

Tentu saja. Akan tetapi, cukup sulit menghindari MSG ini. Masalahnya, walaupun tidak menaburkan MSG atau micin ke dalam makanan, glutamat ini sudah ada dalam berbagai makanan secara alami. Dalam daging, keju, ikan, tomat, kentang, jamur, asparagus, bawang, nori, wortel, bayam, jagung, sarden, tuna, udang… dsb.

Kan beda dong kalau alami?

Kalau kasusnya alergi, teorinya akan tetap sensitif walaupun zat tersebut berada dalam sumber lain. Jadi, sebelum tersiksa karena harus menghindari banyak sekali makanan, sebaiknya pastikan dulu apakah benar-benar alergi terhadap MSG atau tidak.

Tapi, walaupun tidak alergi, mengkonsumsi nutrien dalam bentuk utuh lebih disarankan ketimbang mengkonsumsi ekstraknya saja. Jadi, memang daripada makan MSG-nya saja, lebih enak makan makanan utuhnya.

Ibaratnya, telur mengandung protein yang menyehatkan, tapi mengekstrak protein saja dan memakannya sebagai bubuk protein bisa jadi mempengaruhi metabolisme dengan cara berbeda dalam tubuh kita. Mungkin, lho. Lagian kan, enakan makan telurnya daripada nyeduh bubuk protein. *itu kalau saya, dink.

Cuma, kalau dikirimi makanan halal dari restoran China, atau ditraktir bakso dan makan ramen yang mengandung MSG, saya juga insyaAllah tidak menolak. #lho

Saya pun masih suka menambahkan MSG pada masakan tanpa dihantui rasa bersalah #halah. Memang tidak setiap saat. Karena saya baru tahu kalau rasa kaldu yang dibuat dengan baik dan benar itu sungguh segar. Tapi, membuat kaldu sendiri juga makan waktu lama dan boros gas karena merebusnya lama, hehe. Jadi, ya, MSG kadang jadi solusi kalau terburu-buru.

Oh, ya, bagi yang benar-benar menghindari MSG secara ketat (dengan alasan ataupun tanpa alasan), jangan lupa pula bahwa MSG hampir selalu hadir dalam the so-called kaldu bubuk, saus tiram, kecap asin, kecap ikan, soyu, saus tomat, saus cabe, kecap asin, dan banyak lagi. Jadi, kalau mau totalitas sebaiknya hindari juga bahan-bahan itu.

Terus penelitian-penelitian lain yang bilang MSG berbahaya itu berarti tidak benar?

Biasanya, pada tahap awal, yang ditemukan dalam suatu penelitian itu adalah hubungan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat. Untuk hal-hal seperti ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apakah ia benar-benar penyebab dari penyakit berbahaya tersebut, atau sebenarnya faktor lain yang berperan.

Selain itu, perlu dilihat metode penelitiannya. Selain perihal kesahihan (dari jumlah sampel, kontrol, dll), perlu juga dipertimbangkan apakah situasi yang diciptakan dalam penelitian itu sesuai dengan yang dijumpai sehari-hari.

Jadi, benarkah MSG berbahaya?

Saya berpendapat bahwa science itu everchanging dan terus berkembang, yang bisa dilakukan adalah terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan. Sama halnya dengan persoalan mentega atau butter, atau kopi dan kanker prostat, itu adalah hal-hal yang masih bisa berubah. Sejauh ini, lembaga-lembaga yang berwenang sudah menetapkan MSG sebagai bahan yang aman. At least kalau tidak overdosis.

Jadi, sementara ini saya belum merasa perlu stress untuk mengeliminasi banyak makanan karena tidak ada kontraindikasi yang bermakna. Tapi, tentu saja kondisi orang per orang bisa berbeda, pastikan mencari sumber yang lebih terpercaya dan konsultasikan dengan dokter bila memang ada keluhan. 🙂

*gambar dari sini

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s