Gluten Free Tidak Selalu Sehat

Sebelum bercerita, saya ingin bersyukur dulu untuk hari yang membahagiakan, untuk teman-teman yang super baik, keren, dan menjadi salah satu pemicu semangat, termasuk teman yang ngajakin mulai nulis blog lagi. :p Nah, kali ini saya menulis tentang gluten-free karena kebetulan beberapa hari terakhir sedang sering baking.

Jadi, apa sih gluten-free itu? Atau, pertama-tama apa sih gluten itu? Dan mengapa belakangan banyak slogan gluten-free bertebaran? Apakah hidup tanpa gluten lebih sehat atau malah tidak sehat? Apakah ini sekadar gaya hidup atau sesuatu yang perlu dilakukan?

Sekitar 5-6 tahun lalu ketika saya didiagnosis gluten intolerance, sulit sekali menemukan artikel atau resep dalam bahasa Indonesia tentang makanan gluten-free. Apalagi beli. Belum ada yang menjual. Jadi, terpaksa harus bikin sendiri.

Sekarang ini, food blogger dan para foodies di IG ramai menggunakan tagar #glutenfree. Tepung gluten-free juga sudah banyak tersedia di Indonesia.

Sebetulnya ini menyenangkan, dan memudahkan utk orang-orang seperti saya. Tapi, sedikit banyak saya jg berpikir, sepertinya banyak yang mengira gluten-free ini adalah gaya hidup sehat yang baru. Semacam gaya hidup hipster dan antimainstream–mengutip pernyataan seorang teman–yang bukan hanya perlu dilakukan oleh orang-orang yang ‘kurang beruntung’.

Memang yang sebenarnya bagaimana?

Pertama-tama, tentang gluten sendiri, ia sebenarnya adalah protein yang ada dalam tepung terigu, atau makanan berbahan dasar gandum (barley dan rye jg, tp paling banyak dipakai kan gandum, ya). Dialah yang membuat roti empuk dan menul2, dia juga yg membuat mie kenyal dan tidak mudah putus.

Hanya saja, tidak semua orang bisa mencerna gluten. Pada orang-orang tertentu, gluten yang masuk ke saluran cerna akan memicu reaksi sistem imunitas. Nah, sistem imun inilah yang kemudian menyerang dinding usus sehingga ia menipis dan tidak baik lagi kemampuan penyerapannya. Inilah yang kadang-kadang disebut ‘leaky gut syndrome‘, atau sindrom pencernaan yang bocor.

Tapi, jangan khawatir, populasi orang yang tidak bisa makan gluten hanya sekitar 1% (di Amerika, kalau di Indonesia saya belum tahu). Dan kalau selama ini teman-teman merasa baik2 saja ketika makan mie, roti, kue, pangsit, dll, insyaAllah bisa mencerna gluten.

Seandainya ada keluhan diare kronis, sering kram perut, ruam-ruam dgn plenting di punggung, tangan, paha, teman-teman bisa mencoba periksa. Memang belum tentu gluten intolerance, karena banyak penyakit lain dengan gejala yang mirip. Untuk mendiagnosis secara pasti perlu pemeriksaan IgA (kalau saya tidak salah ingat).

Pada tahun 2011, pemeriksaan ini belum ada di Indonesia. Waktu itu saya diminta menghubungi Prodia, mereka menyatakan bersedia melakukan pemeriksaan namun sampelnya dikirim ke luar negeri. Biayanya cukup mahal dan saat itu saya tidak memiliki asuransi, sehingga saya batalkan.

Baru pada tahun berikutnya saya bisa menjalani pemeriksaan tersebut. Setelah hasilnya positif, saya mulai mencari tahu tentang kondisi ini. Dan yang terpenting, mencari cara agar bisa tetap makan enak tapi tak perlu khawatir soal gluten. #eh

Ketika teman2 bertanya, enak ngk sih roti/kue gluten free? mahal nggak sih? Sebetulnya saya ingin bilang, nggak enak dan ribet buatnya. Iya, mahal kalau beli kemasan, tapi bukan berarti lebih ‘keren’.

Lha wong sebenarnya yang gluten free itu tepung-tepung lokal di Indonesia kok. Tepung singkong, tepung ubi, tepung kentang, tepung beras, tepung sagu, tepung ketan. Justru tepung terigu yang berasal dari gandum itulah yang asalnya dari barat. Dan kalau diperhatikan, jajan pasar Indonesia banyaaaak sekali yang gluten-free. Termasuk rempeyek kesukaan saya.

Makanan pokok berbasis nasi juga gluten free. Jadi tanpa sadar, sebenarnya dari dulu saya sudah hidup gluten-free dengan sendirinya. Waktu masih tinggal dengan orang tua, saya memang hampir tak pernah jajan roti dan jarang sekali bikin mie. Baru setelah ngekos-lah semua itu dimulai. Jangan tanya seberapa sering saya diare dan terpaksa harus menyelinap keluar ketika kuliah sedang berlangsung.

Sayangnya, dokter-dokter awal yang saya temui biasanya mengatakan bahwa ini sakit ‘maag’, dan bahwa frekuensi diare saya yang bisa sebulan berkali-kali itu cuma ‘salah makan’, nggak bersih, dsb.

Eh, kok jadi curhat. Jadi, itulah gluten, yang sepertinya baru diperkenalkan pada masyarakat kita seiring diperkenalkannya roti.

Jadi, kalau ini dibilang gaya hidup baru ya tidak juga. Untuk orang barat mungkin iya, gaya hidup baru. Tapi, untuk nenek moyang kita, saya kira hidup tanpa gluten justru lebih familiar.

Saya juga tidak bisa minum susu dan olahannya. Mungkin pada dasarnya memang saluran pencernaan saya masih kuno dan malas beradaptasi.

Nah, lalu, apakah semua orang perlu hidup gluten-free?

Tentu saja tidak. Kebanyakan orang bisa mencerna gluten tanpa masalah apa-apa.

Apakah lebih enak? Kalau untuk kue-kue buatan Indonesia, misalnya nagasari, kue ketan hitam, kue pancong, serabi, rempeyek, putu, tape, jelas enak walau tanpa gluten. Tapi kalau bikin roti atau pastry, sangat ribet dan tidak lebih enak kalau mau dibikin gluten-free. Ini jujur sih.

Tapi, apakah lebih sehat hidup tanpa gluten?

Saya kira tidak juga. Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel bahwa gaya hidup gluten-free tanpa indikasi justru kurang baik untuk kesehatan.

Untuk orang-orang barat yang makanan pokoknya roti, jatuhnya memang kurang bagus. Karena tepung terigu/gandum yang dipakai untuk roti itu termasuk yang proteinnya tinggi. Sedangkan tepung-tepung gluten free isinya lebih banyak pati/starch/karbohidrat, dan rendah protein. Jadi, mengganti terigu dengan tepung gluten-free tanpa indikasi malah beresiko kekurangan nutrisi tertentu.

Untungnya, saya orang Indonesia yg memang sangat amat doyan nasi. Jadi tak masalah kalau harus makan tanpa gluten. Cuma lebih jarang makan mie dan jajan kue-roti. Tapi, sekarang sudah mulai bikin sendiri.

Lalu, apakah kue-kue dan roti gluten-free lebih sehat? Lebih repot bikinnya sih, iya. 😀 Tapi dari segi kandungan nutrisi, saya kira tidak lebih bagus.

Untuk orang yang sudah terbukti gluten-intolerance, memang tidak ada pilihan. Ini satu-satunya cara agar perutnya tidak berontak. Tapi, andai tidak memiliki sensitivitas semacam ini, jelas saya inginnya bisa makan apa saja, tanpa pantangan.

So, final verdict, perlukah hidup tanpa gluten?

Tanpa indikasi, saya kira tidak perlu.

Kalau cuma for fun? Tentu sah-sah saja, tapi bukan berarti lebih sehat, ya. 🙂

 

*gambar dari sini

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s