Tentang Perempuan dan KDRT

Sebelum terkecoh dengan judulnya, terlebih dahulu saya sampaikan disclaimer bahwa isinya tidak seberat judulnya.

Ini hanya penggalan percakapan tentang sebuah kasus KDRT yang saya baca di suatu tempat pagi ini. Percakapan yang saya kira perlu direkam walaupun ngalor ngidul dan tidak jelas kesimpulannya.

Percakapan ini diawali dengan komentar Pak Suami (PS), sebagai berikut:

PS: Seharusnya, KDRT itu dilaporkan sesegera mungkin setelah gejalanya terlihat.

Saya (S): Tetapi perempuan biasanya banyak pertimbangan. Bagaimana rasanya coba melaporkan suami sendiri? Melaporkan orang yang disayangi. Begitu-begitu juga dulu menikahnya karena cinta, lho. Eh, tapi nggak tahu kalau laki-laki. Ada nggak sih laki-laki korban KDRT?

PS: Ya ada. Mungkin.

S: Nggak lapor, ya?

PS: Ketimbang lapor ya bisa jadi istrinya dihajar balik.

S: Iya juga, ya. Lapor itu berarti buat yang nggak punya kekuatan, ya? Alias meminta bantuan.

PS: Hm…. enggak juga sih. Kayaknya.

S: *diem* *masih mengganjal tapi nggak tahu mau nanya apa*

PS: *lanjut berargumen* Pada dasarnya yang namanya abuse itu tidak sehat. Apalagi kalau sudah kekerasan fisik. Kalau sudah begitu bukan gejala awal lagi namanya, tapi sudah akumulasi dari berbagai penyebab yang ditumpuk. Penyalurannya begitu. Jadi, tidak boleh ditunggu lebih lanjut, melainkan harus segera lapor.

S: Tapi, kan… rasanya pasti berat harus menceritakan masalah rumah tangga ke orang lain. Bagi sebagian orang pasti rasanya seperti membuka aib. Belum lagi, bagaimana nanti tanggapan orang-orang di sekitar dan keluarga?

PS: Ya justru kalau bisa, cari mediasinya dari keluarga dulu. Tapi, yang susah itu kalau tinggal di luar negeri. Perempuannya nikah dengan orang luar negeri dan tinggal sama keluarga suami, misalnya. Mau nggak mau harus lapor ke LSM atau ke KBRI, kan. Karena dia nggak ada support lain. Kalau sampai berlarut-larut ya ini dipertanyakan, kenapa nunggu sampai berlarut-larut?

S: Lho, kok gitu sih? Istri itu kan menghargai suami. Bisa jadi dia nggak ingin lapor karena nggak mau mempermalukan suaminya, kan? Kan katanya suami dan istri itu bagaikan pakaian satu sama lain. Harus saling menutupi aib, dong. Eh, ini tepat ga sih, aplikasi dalilnya?

PS: Nggak, lah.

S: Tapi dalil kan kadang dipakai berdalih. Mau nyari solusi ke orang lain pun bisa aja nanti dituduh perempuan penyebar aib, tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih, tidak bisa mensyukuri kebaikan suami. Dari semua kebaikan yg suami berikan, masa cuma dilempar piring sekali aja udah lapor.

PS: Apalagi kalau udah sampai piring terbang. Lak itu levelnya sudah sampai luar angkasa.

S: Tapi kan jadi istri harus sabar.

PS: Sabar tapi kan kudu ikhtiar.

S: Ikhtiarnya ya berdoa sama baik-baikin suaminya. Apalagi perempuan kan harus introspeksi. Siapa tau dia yang salah, makanya dipukulin, kan?

PS: Salah kan nggak perlu dilurusin pakai fisik. Nggak menyelesaikan masalah. Tujuannya apa, melampiaskan amarah atau mencari solusi?

S: Hm… iya, sih. Tapi, istrinya juga salah ya, kalau nggak lapor?

PS: Ya intinya harus dicari jalan keluar. Tapi kalau setiap istri ngajak bicara suaminya menanggapi dengan kekerasan, penting untuk cari pihak ketiga. Sebagai mediator.

S: Tapi, kenapa sih ada orang-orang yang main fisik gitu? Maksudku, mendorong perempuan untuk lapor itu kan upaya kuratif, untuk ‘mengobati’ masalah yg terlanjur ada. Tapi, kenapa sih laki-laki abusive gitu? Apa karena dia lebih kuat? Ini lebih perlu dicari penyebabnya dan diatasi kan.

PS: Selain memang ada orang yang punya tendensi violence, ada juga yang sebagai penyaluran karena masalah tertentu. Di-PHK mungkin, ngk kerja, ngk bisa provide untuk keluarga, frustrasi, lalu pelampiasannya begitu.

S: Yah, depresi karena ngk bisa menjalankan tanggung jawab memang berat banget sih. 😦 Dan rata-rata istri sih pinginnya tetap mendampingi walaupun suaminya nggak bisa nafkahin. Tapi keluarga suami nggak selalu menghargai itu lho. Di mata seorang ibu apalagi, anak lelakinya itu kan kadang dianggap nggak bisa salah. Seringnya selalu dibela. Misal istrinya kerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, bisa jadi dianggap suka keluar rumah sembarangan, atau nggak puas dengan pemberian suami sampai harus cari duit sendiri, kurang sabar, rumah berantakan dan nggk bisa ngurus suami, nelantarin anak, dan sebagainya. Ini jadi komplikasi tersendiri nggak, sih?

PS: Ya… itu berarti orang tuanya nggak objektif.

S: Tapi, memang susah kan jadi orang tua yang objektif?

PS: Ya berarti nanti kalau kita punya anak, kita harus dua kali lebih keras pada diri sendiri.

S: Kenapa?

PS: Karena, yang namanya nggak berani ngelurusin anak itu bukan anaknya yg nggak kuat, tapi orang tuanya. Jadi yg kudu latihan itu ya org tuanya.

S: Jadi nggak perlu mengkamuflase ‘kelemahan’ kita dengan alasan kasihan sama anak, ya?

PS: Iya. Kasihan mana, latihan sekarang atau rubuh nanti saat nanggung keluarganya sendiri.

S: *di titik ini saya mau nangis, tapi pura2 ngangguk2 syahdu. Habis itu lanjut mbrondong pertanyaan lagi.* Tapi, kalaupun mediasi, kadang penyelesaiannya nanti lebih membebankan ke peran istri daripada menekankan pengendalian sikap suami. Apa karena posisi suami lebih kuat, jadi dia lebih sulit dikendalikan? Lebih mungkin melanggar aturan-aturan yang sifatnya abstrak? Terus, kalau pun akhirnya si istri nggak kuat dan disarankan pisah, pada akhirnya yang menanggung lebih berat kan pihak perempuan juga? Gimana, dong?

PS: Maksudnya?

S: Misalnya nih, kalau pas mediasi disarankan buat bertahan, pasti istrinya yang disuruh jaga perasaan suami, istrinya yang harus ekstra hati-hati, pdhl bisa dipastikan dia sendiri juga harus nanggung beban ngurusin tetek bengek rumah tangga, jaga anak2, dan menghadapi ocehan keluarga besar. Pressure banget kan. Sementara buat suaminya, ancamannya apa kalau dia nggak bisa mengendalikan sikap dan terus2an main tangan? Paling-paling ancamannya harus pisah sama istri kan? Dan ancaman itu bebannya lebih berat ke istri juga, kan? Kalau pisah, dia harus menanggung anak-anak dan dirinya sendirian. Belum lagi kalau sebelumnya si istri ini udah ninggalin karir sekian lama demi mengurus suami dan anak-anak, cari kerja lagi bukan perkara gampang. Stigma sosial mah jangan ditanya. Beda lagi sama cowok, dia bisa lebih mudah masuk ke industri lagi. Soal stigma sosial juga, cowok lebih mudah nikah lagi. Pada akhirnya, dia tidak terlalu terhukum kan? Walaupun dia yang salah?

PS: Yah… mungkin, dengan dia nggak bisa bertanggung jawab aja itu udah terhukum secara emosional, kan. Buatku sih kalau sampai nggak bisa provide dan ngk bisa tanggung jawab itu aja rasanya udah hukuman.

*sama-sama diam*

…sementara itu, di lapak sebelah saya lihat teman-teman sedang asik membahas tulisan Mbak Kalis Mardiasih tentang betapa perempuan yang sekolah tinggi itu tak akan mau pada akhi-akhi cupet vs bantahan dari Mas Gilang Kazuya yang katanya banyak mengenal ukhti-ukhti S3. Dan di televisi Donald Trump masih sibuk adu mulut soal lempar-lemparan ketapel dengan Kim Jong Un.

Pada akhirnya, saya pun ke dapur dan ngangetin nasi. Ah, satu pagi lagi yang perlu disyukuri. Masih ada atap di atas kepala, serta nasi untuk dimakan. Perkara masih banyak keinginan? Mari luruskan niat saja, habis itu ikhtiar dan berdoa.

*ditulis bertepatan dengan (tapi tidak disengaja untuk) peringatan ulang tahun pernikahan ketiga kami, tanggal 10 Agustus 2017. Teriring doa dan harapan.

**Gambar cover adalah lukisan “A Year after Marriage” karya Currier & Ives yang saya dapat dari sini.

 

Iklan

4 comments

  1. Yaampun, suka banget sama tulisan ini, gatau kenapa pas baca bikin ngangguk² dan gumam² sendiri kaya, “oiya ya”, “oiya bener juga ya”, “wah iya setuju banget”. Makasih Mbak, tulisannya bagus 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s